Thursday, January 19, 2017

Benci tapi Tetap Berlaku Adil: Pesan Langit!

Salah satu hal yang membuat saya kukuh mengimani bahwa al-Qur'an itu bukan buatan manusia tapi merupakan pesan ilahi adalah kandungan ayatnya yang menembus batas kemanusiaan kita dan melintasi zaman. Lima belas abad lampau bahkan hingga kini masih banyak di antara kita yang tidak fair dan tidak adil bersikap hanya karena kita membenci suatu kelompok atau individu tertentu. Namun pesan al-Qur'an begitu dahsyat menembus stereotyping akan pihak lain: boleh tidak suka terhadap perbuatan mereka tapi tetap harus berlaku adil kepada mereka.

Surat al-Maidah turun pada tahun kedelapan Hijriah setelah perjanjian Hudaibiyah yang berlangsung pada tahun keenam Hijriah. Dalam peristiwa Hudaibiyah, rombongan Rasul yang hendak pergi ke Baitullah dihalangi memasuki kota Mekkah. Singkat cerita, ada rasa dendam dan kebencian di kalangan sebagian pihak atas peristiwa itu: dulu mereka halangi kita, sekarang kita pun bisa menghalangi mereka, maka turunlah petikan surat al-Maidah:2

"Dan jangan sekali-kali kebencian (kalian) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kalian dari Masjidil Haram, mendorong kalian berbuat aniaya (kepada mereka)"

Tafsir Ibn Katsir menjelaskan kandungan petikan ayat ini:

لَا يَحَمِّلَنَكُمْ بُغْضُ قَوْمٍ قَدْ كَانُوا صَدُّوكُمْ عَنِ الْوُصُولِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَذَلِكَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ، عَلَى أَنْ تَعْتَدُوا [فِي] حُكْمِ اللَّهِ فِيكُمْ فَتَقْتَصُّوا مِنْهُمْ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا، بَلِ احْكُمُوا بِمَا أَمَرَكُمُ اللَّهُ بِهِ مِنَ الْعَدْلِ فِي كُلِّ أَحَدٍ

"Jangan sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum yang dahulunya pernah menghalang-halangi kalian untuk sampai ke Masjidil Haram yang terjadi pada tahun perjanjian Hudaibiyah mendorong kalian melanggar hukum Allah terhadap mereka. Lalu kalian mengadakan balas dendam terhadap mereka secara aniaya dan permusuhan. Tetapi kalian harus tetap memutuskan apa yang di­perintahkan oleh Allah kepada kalian, yaitu bersikap adil dalam per­kara yang hak terhadap siapa pun."

Luar biasa bukan pesan ilahi ini? Bahkan kita harus berlaku adil terhadap mereka yang pernah menghalangi kita memasuki Baitullah. Tafsir al-Misbah menyebutkan riwayat lain dikisahkan bahwa larangan ini turun berkenaan dengan rencana merampas unta yang dibawa rombongan Yamamah di bawah pimpinan Syuraih bun Dhubai'ah al-Hutham yang menuju Baitullah dengan alasan unta-unta itu dulu milik umat Islam yang dirampas mereka. Ayat di atas turun melarang umat Islam berbuat kezaliman yang sama.

Kata "Syana-an" dalam ayat di atas itu maknanya al-baghd al-syadid, yaitu kebencian yang telah mencapai puncaknya. Musuh yang sudah kita benci sampai ke ubun-ubun lantaran menghalangi pelaksanaan agama, masih harus kita perlakukan secara adil. Kita dilarang berbuat zalim kepada mereka. Ini pesan keadilan dari langit!

Ketentuan membolehkan kaum Musyrikin memasuki Baitullah itu kemudian dihapus pada tahun kesembilan Hijriah saat turun Surat al-Taubah ayat 28: "Jangan mereka (orang Musyrik) mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini". Namun demikian pesan ilahi untuk berbuat adil tetap abadi.

Ibn Katsir mengutip pernyatan sebagian ulama salaf:

‎وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مَا عَامَلْتَ مَنْ عَصَى اللَّهَ فِيكَ بِمِثْلِ أَنْ تُطِيعَ اللَّهَ فِيهِ. وَالْعَدْلُ بِهِ قَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ.

"Selama ka­mu memperlakukan orang yang durhaka kepada Allah terhadap diri­mu dengan sikap berdasarkan taat kepada Allah dan selalu berlaku adil dalam menanganinya, niscaya langit dan bumi ini masih akan tetap tegak."

Pesan keadilan di atas begitu pentingnya sehingga ditegaskan kembali dalam surat yang sama yakni al-Maidah ayat 8:

"Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil­lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa"

Kebencian itu tidak menjadi alasan pembenar untuk bisa menzalimi pihak lain. Kita tidak boleh keluar dari aturan main dan tidak boleh membalas kezaliman di luar batas-batas keadilan dan hukum. Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menegaskan:

‎إن كفر الكافر لا يمنع من العدل في معاملته، وفي الآية الآمرة بالعدل والتقوى دلالة أيضا على أن يقتصر في المحاربة على المستحق للقتال، وأن المثلة بالأعداء غير جائزة وإن قتلوا نساءنا وأطفالنا وآذونا بذلك، فليس لنا أن نقتلهم بمثلة قصدا لإيقاع الغم والحزن بهم.

"Kekufuran orang kafir itu tidak menghalangi kita berbuat adil dalam berinteraksi dengan mereka. Dalam ayat perintah untuk berbuat adil dan taqwa ada petunjuk untuk membuat batasan dalam pertempuran, misalnya mereka membunuh para wanita kita dan anak-anak kita, maka kita tidak dibenarkan melakukan pembunuhan yang serupa".

Bahkan dalam pertempuran pun ada seperangkat etika dan aturan yang harus ditaati tentara Muslim. Kebencian tidak dibalas dengan kebencian. Kezaliman tidak dihapus dengan kezaliman lainnya. Dalam keadilan, bukan saja ada kasih sayang, tapi juga ada ketakwaan.

Majallat al-Ahkam al-Adillah, yang merupakan kitab undang-undang hukum perdata Islam pertama yang dikodifikasi pada tahun 1293 H/ 1876 M oleh pemerintah Turki Usmani, memuat ketentuan nomor 921 yang berdasarkan prinsip ayat di atas:

‎لَيْسَ لِلْمَظْلُومِ أَنْ يَظْلِمَ آخَرَ بِسَبَبِ كَوْنِهِ قَدْ ظُلِمَ ; مَثَلًا: لَوْ أَتْلَفَ زيدٌ مَالَ عمرو مقَابَلَة بما أنه أَتْلَفَ مَالِهِ يَكُونُ الِاثْنَانِ ضَامِنَيْنِ. كَذَلِكَ لَوْ أَتْلَفَ زيَدٌ مال عمرو الذي هو مِنْ قَبِيلَةٍ طي بمَا أن بكرا الذي هو من تلك القَبِيلَةٍ أَتْلَفَ ماله يَضْمَنُ كُلٌّ منهُمَا الْمَالَ الَّذِي أَتْلَفَهُ كما أنه لَوْ انخدع أَحَدٌ فأخذ دراهم زائفة من أحد فَلَيْسَ لَهُ َنْ يَصرِفَهَا إِلَى غَيْرِهِ.

"Tidak dibolehkan bagi orang yang dizhalimi untuk menzhalimi orang lain karena itu termasuk salah satu bentuk kezaliman. MIsalnya, jika Zaid merusak harta Amru, lalu Amru membalas merusak harta Zaid, maka keduanya dihukum untuk membayar ganti rugi. Begitupula jika ada yang ditipu dimana dagangannya dibayar dengan uang palsu, maka dia tidak boleh menggunakan uang palsu untuk transaksi dengan pihak lain."

Keadilan itu salah satu prinsip utama dalam ajaran Islam. Meski kita dirugikan, dizhalimi dan dianiaya sehingga membuat kita sangat benci kepada orang tersebut --baik orang Islam maupun non-Muslim-- kita tidak boleh membalas kezaliman dengan kezaliman kepada orang tersebut ataupun kepada pihak ketiga. Kita tetap harus berbuat adil dan mengikuti proses hukum yang berlaku.

Kita boleh saja membenci perbuatan mereka, tapi kita jangan menzalimi pribadi mereka, keluarga mereka, harta dan kedudukan mereka. Ini pesan langit yang melintasi zaman, yang hanya bisa diterapkan oleh mereka yang diajarkan untuk menebar rahmat pada semesta. Saya, anda dan kita kah itu?

Lagi, Kang Said Bimbing Non-Muslim Baca Kalimat Syahadat

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) membimbing secara perlahan seorang non-Muslim membaca dua kalimat syahadat di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis (19/1) siang. Kang Said juga menerangkan prinsip-prinsip ajaran pokok agama Islam di hadapan Sudjono Teguh Wijaya.

“Islam itu gampang. Asal seseorang meyakini Allah esa, maka sesorang sudah memeluk Islam. Allah itu satu, tidak mempunyai wakil, anak, atau istri. Tauhid,” kata Kang Said di depan Sudjono dan sejumlah nahdliyin yang hadir.

Di samping itu, seseorang dikatakan memeluk Islam karena meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT.

“Kedua percaya Nabi Muhammad SAW sebagai rasulullah. Selebihnya Islam mengajarkan akhlah yang terpuji,” kata Kang Said.

Kepada Sudjono Kang Said berpesan bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan. Kang Said meminta Sudjono untuk tidak memercayai kelompok yang berbuat kekerasan atas nama Islam.

“Saya senang sekali saudara Ahmad Sudjono memeluk agama Islam tanpa tekanan dan tanpa intimidasi pihak manapun,” kata Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur. 

Gus Mus: Jauhkan 'Allahu Akbar' dari Kesombongan!

KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan tentang pentingnya memaknai takbir "Allahu Akbar". Manusia amat kecil sekali di hadapan Allah karena itu tidak boleh sombong. Sebab itu, serunya, letakan takbir pada tempat yang suci dan jauh dari kesombongan.

Hal itu ia sampaikan saat memberi taushiyah dalam acara Maulid Akbar dan Istighotsah Qubro bertema "Mencintai Tanah Air Bagian dari Iman" yang diinisiasi oleh remaja Mushala ar-Ridho Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Selasa (17/1).

"Kenalilah dahulu Allah, jika ingin mengenal Allah," pesan Mustasyar PBNU ini kepada jamaah.

Gus Mus pun mengingatkan bahwa  Indonesia adalah rumah, tempat mencari makan, dan tempat di mana kita dikebumikan. Sebab itu, ia mengajak kepada jamaah membangun rasa kepedulian terhadap tanah air yang tidak cukup dengan hanya meneriakkan takbir “Allahu Akbar” melainkan 
dengan cara mendengarkan nasihat para ulama salafus shalih, membangun kesejahteraan sosial, memperkuat perekonomian, meningkatkan pertanian, dan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya ilmu pengetahuan umum dan agama. 

Peringatan Maulid Nabi ini dihadiri para tokoh setempat antara lain KH Abdul Muthi (Rais Syuriyah NU Kota Tangerang), Khoirul Huda (Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang), Bahruddin (Dosen STISNU Tangerang), H A. Zaini (anggota DPRD Banten), dan warga NU Kecamatan Sepatan.

A. Zaki Iskandar, Bupati Tangerang dalam sambutannya mengapresiasi antusiasme ribuan jamaah yang hadir pada kegiatan tersebut. Ia mengingatkan jamaah agar senantiasa menjalankan tradisi dan kearifan lokal yang baik di masyarakat karena hal itulah yang menjadikan Indonesia makin kuat dan tidak akan terkontaminasi oleh ideologi yang dapat merusak NKRI.

"Mulai dari tahlilan, mauludan, rajaban, dan tradisi tradisi shaleh para ulama, kita tidak boleh meninggalkannya, akan tetapi harus kita amalkan dan tradisikan sebagai syiar. Insyaallah, generasi kita (anak muda) akan terhindar dari bahaya radikalisme," ujarnya. 

Wednesday, January 18, 2017

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj

Tak kenal maka tak sayang. Barangkali peribahasa itu tepat untuk menggambarkan keadaan Indonesia akhir-akhir ini, dimana orang tak hanya tak kenal dan tak sayang, tetapi bahkan justru memfitnah, membenci dan memaki, dengan orang yang belum dikenalnya di media. Tak terkecuali, berbagai fitnah, berita palsu (hoax) dan makian yang dialamatkan kepada Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA, Ketua Umum Ormas Islam terbesar di dunia: Nahdlatul Ulama (NU).

Untuk itu, tulisan ini sedikit mengupas profil beliau, sosok santri yang dulu pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) itu dinobatkan oleh Republika sebagai Tokoh Perubahan Tahun 2012 karena kontribusinya dan komitmennya dalam mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berperan aktif dalam perdaiamaian dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah. 

***
Ketika usia negara ini masih belia – delapan tahun – dan para pendiri bangsa baru beberapa tahun menyelesaikan “status kemerdekaan” Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, di sebuah desa bernama Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, senyum bahagia KH Aqil Siroj mengembang. Tepat pada 3 Juli 1953, Pengasuh Pesantren Kempek itu dianugerahi seorang bayi laki-laki, yang kemudian diberi nama Said.

Said kecil kemudian tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri – Ayah Said – merupakan  putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda. 

“Ayah saya hanya memiliki sepeda ontel, beli rokok pun kadang tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kacang hijau, pergilah ia ke pasar Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu,” kenang Kiai Said dalam buku Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan (Khalista: 2015).

Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH Mahrus Ali, KH Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Setelah selesai di tingkatan Aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN itu.

Ia merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW: Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra, dari sarjana hingga doktoral. Di Makkah, setelah putra-putranya lahir, Kang Said – panggilan akrabnya – harus mendapatkan tambahan dana untuk menopang keluarga. Beasiswa dari Pemerintah Saudi, meski besar, dirasa kurang untuk kebutuhan tersebut. Ia kemudian bekerja sampingan di toko karpet besar milik orang Saudi di sekitar tempat tinggalnya. Di toko ini, Kang Said bekerja membantu jual beli serta memikul karpet untuk dikirim kepada pembeli yang memesan.

Keluarga kecilnya di Tanah Hijaz juga sering berpindah-pindah untuk mencari kontrakan yang murah. “Pada waktu itu, bapak kuliah dan sambil bekerja. Kami mencari rumah yang murah untuk menghemat pengeluaran dan mencukupkan beasiswa yang diterima Bapak,” ungkap Muhammad Said, putra sulung Kang Said.

Dengan keteguhannya hidup ditengah panasnya cuaca Makkah di siang hari dan dinginnya malam hari, serta kerasnya hidup di mantan “tanah Jahiliyyah” ini, ia menyelesaikan karya tesisnya di bidang perbandingan agama: mengupas tentang kitab Perjanjian Lama dan Surat-Surat Sri Paus Paulus. Kemudian, setelah 14 tahun hidup di Makkah, ia berhasil menyelesaikan studi S-3 pada tahun 1994, dengan judul: Shilatullah bil-Kauni fit-Tashawwuf al-Falsafi (Relasi Allah SWT dan Alam: Perspektif Tasawuf). Pria yang terlahir di pelosok Jawa Barat itu mempertahankan disertasinya – diantara para intelektual dari berbagai dunia – dengan predikat Cumlaude.

Ketika bermukim di Makkah, ia juga menjalin persahabatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Gus Dur sering berkunjung ke kediaman kami. Meski pada waktu itu rumah kami sangat sempit, akan tetapi Gus Dur menyempatkan untuk menginap di rumah kami. Ketika datang, Gus Dur berdiskusi sampai malam hingga pagi dengan Bapak,” ungkap Muhammad Said bin Said Aqil. Selain itu, Kang Said juga sering diajak Gus Dur untuk sowan ke kediaman ulama terkemuka di Arab, salah satunya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki. 

Setelah Kang Said mendapatkan gelar doktor pada 1994, ia kembali ke tanah airnya: Indonesia. Kemudian Gus Dur mengajaknya aktif di NU dengan memasukkannya sebagai Wakil Katib ‘Aam PBNU dari Muktamar ke-29 di Cipasung. Ketika itu, Gus Dur “mempromosikan” Kang Said dengan kekaguman: “Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi,” puji Gus Dur. Belakangan, Kang Said juga banyak memuji Gus Dur. “Kelebihan Gus Dur selain cakap dan cerdas adalah berani,” ujarnya, dalam Simposium Nasional Kristalisasi Pemikiran Gus Dur, 21 November 2011 silam.

Setelah lama akrab dengan Gus Dur, banyak kiai yang menganggap Kang Said mewarisi pemikiran Gus Dur. Salah satunya disampaikan oleh KH Nawawi Abdul Jalil, Pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan, ketika kunjungannya di kantor PBNU pada 25 Juli 2011. Kunjungan waktu itu, merupakan hal yang spesial karena pertama kalinya kiai khos itu berkunjung ke PBNU – di dampingi KH An’im Falahuddin Mahrus Lirboyo. Kiai Nawawi menganggap bahwa Kang Said mirip dengan Gus Dur, bahkan dalam bidang ke-nyelenehan-nya. 

“Nyelenehnya pun juga sama,” ungkap Kiai Nawawi, seperti dikutip NU Online. “Terus berjuang di NU tidak ada ruginya. Teruslah berjuang memimpin, Allah akan selalu meridloi,” tegas Kiai Nawawi kepada orang yang diramalkan Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU di usia lebih dari 55 tahun itu.

Menjaga NKRI dan mengawal perdamaian dunia

Pada masa menjelang kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1936, para ulama NU berkumpul di Banjarmasin untuk mencari format ideal negara Indonesia ketika sudah merdeka nantinya. Pertemuan ulama itu menghasilkan keputusan yang revolusioner: (1) negara Darus Salam (negeri damai), bukan Darul Islam (Negara Islam); (2) Indonesia sebagai Negara Bangsa, bukan Negara Islam. Inilah yang kemudian menginspirasi Pancasila dan UUD 1945 yang dibahas dalam Sidang Konstituante – beberapa tahun kemudian. Jadi, jauh sebelum perdebatan sengit di PPKI atau BPUPKI tentang dasar negara dan hal lain sebagainya, ulama NU sudah terlabih dulu memikirkannya.

Pemikiran, pandangan dan manhaj ulama pendahulu tentang relasi negara dan agama (ad-dien wa daulah) itu, terus dijaga dan dikembangkan oleh NU dibawah kepemimpinan Kang Said. Dalam pidatonya ketika mendapat penganugerahan Tokoh Perubahan 2012 pada April 2013, Kiai Said menegaskan sikap NU yang tetap berkomitmen pada Pancasila dan UUD 1945. “Muktamar (ke-27 di Situbondo-pen) ini kan dilaksanakan di Pesantren Asembagus pimpinan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Jadi, pesantren memang luar biasa pengaruhnya bagi bangsa ini. Meski saya waktu itu belum menjadi pengurus PBNU,” kata Kiai Said, mengomentari Munas Alim Ulama NU 1983 dan Muktamar NU di Situbondo 1984 yang menurutnya paling fenomenal dan berdampak dalam pandangan kebangsaan.

Sampai kini, peran serta NU dalam hal kebangsaan begitu kentara kontribusinya, baik di level anak ranting sampai pengurus besar, di tengah berbagai rongrongan ideologi yang ingin menggerogoti Pancasila sebagai dasar negara. Hal ini tercermin dalam berbagai kegiatan dan program NU yang selalu mengarusutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks ini, Kiai Said sangat berpengaruh karena kebijakan PBNU selalu diikuti kepengurusan dibawahnya – termasuk organisasi sayapnya.

Salah satu peran yang cukup solutif, misalnya, ketika beliau menaklukkan Ahmad Mushadeq – orang yang mengaku sebagai Nabi di Jakarta dan menimbulkan kegaduhan nasional – lewat perdebatan panjang tentang hakikat kenabian (2007). “Alhamdulillah, doa saya diterima untuk bertemu ulama, tempat saya bermudzakarah (diskusi). Sekarang saya sadar kalau langkah saya selama ini salah,” aku Mushadeq. Disisi lain, Kang Said juga mengakui kehebatan Mushadeq. “Dia memang hebat. Paham dengan asbabun nuzul Al-Qur’an dan asbabul wurud Hadits. Hanya sedikit saja yang kurang pas, dia mengaku Nabi, itu saja,” jelas Kiai Said seperti yang terekam dalam Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah dan Uswah (Khalista & LTN NU Jatim, Cet II 2014).

Kiai yang mendapat gelar Profesor bidang Ilmu Tasawuf dari UIN Sunan Ampel Surabaya ini bersama pengurus NU juga membuka dialog melalui forum-forum Internasional, khususnya yang terkait isu-isu terorisme, konflik bersenjata dan rehabilitasi citra Islam di Barat yang buruk pasca serangan gedung WTC pada 11 September 2001. Ia juga kerapkali membuat acara dengan mengundang ulama-ulama dunia untuk bersama-sama membahas problematika Islam kontemporer dan masalah keumatan.

Pada Jumat, 7 Maret 2014, Duta Besar Amerika untuk Indonesia Robert O. Blake berkunjung ke kantor PBNU. Ia menginginkan NU terlibat dalam penyelesaian konflik di beberapa negara. “Kami berharap NU bisa membantu penyelesaian konflik di negara-negara dunia, khususnya di Syria dan Mesir. NU Kami nilai memiliki pengalaman membantu penyelesaian konflik, baik dalam maupun luar negeri,” kata Robert, seperti dilansir NU Online. “Sejak saya bertugas di Mesir dan India, saya sudah mendengar bagaimana peran NU untuk ikut menciptakan perdamaian dunia,” imbuhnya.

Raja Yordania Abdullah bin Al-Husain (Abdullah II) juga berkunjung ke PBNU. Ia ditemui Kiai Said, meminta dukungan NU dalam upaya penyelesaian konflik di Suriah. “Di Timur Tengah, tidak ada organisasi masyarakat yang bisa menjadi penengah, seperti di Indonesia. Jika ada konflik, bedil yang bicara,” ungkap Kiai Said.

Selain itu, menguapnya kasus SARA di Indonesia belakangan juga kembali marak muncul ke permukaan. “Munculnya kerusuhan bernuansa agama memang sangat sering kita temukan. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia harus terus belajar pentingnya toleransi dan kesadaran pluralitas. Sikap toleransi tersebut dibuktikan oleh Kaisar Ethiopia, Najashi (Negus) ketika para sahabat ditindas oleh orang-orang Quraisy di Mekkah dan memutuskan untuk hijrah ke Ethiopia demi meminta suaka politik kepadanya. Kaisar Negus yang dikenal sebagai penguasa beragama Nasrani itu berhasil melindungi para sahabat Nabi Muhammad SAW dari ancaman pembunuhan kafir Quraisy,” tulis Kiai Said dalam Dialog Tasawuf Kiai Said: Akidah, Tasawuf dan Relasi Antarumat Beragama (Khalista, LTN PBNU & SAS Foundation, Cet II, 2014).

Menghadapi potensi konflik horisontal itu, NU juga tetap mempertahankan gagasan Darus Salam, bukan Darul Islam, yang terinspirasi dari teladan Nabi Muhammad dalam Piagam Madinah. Dalam naskah tersebut, nabi membuat kesepakatan perdamaian, bahwa muslim pendatang (Muhajirin) dan muslim pribumi (Anshar) dan Yahudi kota Yastrib (Madinah) sesungguhnya memiliki misi yang sama, sesungguhnya satu umat. Yang menarik, menurut Kiai Said, Piagam Madinah – dokumen sepanjang 2,5 halaman itu – tidak  menyebutkan kata Islam. Kalimat penutup Piagam Madinah juga menyebutkan: tidak ada permusuhan kecuali terhadap yang dzalim dan melanggar hukum. “Ini berarti, Nabi Muhammad tidak memproklamirkan berdirinya negara Islam dan Arab, akan tetapi Negara Madinah,” terang Kiai Said.

Selain itu, menurutnya, faktor politis juga kerapkali mempengaruhi, bukan akidah atau keyakinan. “Seperti di masa Perang Salib, faktor politis dan ekonomis lebih banyak menyelimuti renggangnya keharmonisan kedua umat bersaudara tersebut di Indonesia. Dengan demikian, kekeruhan hubungan Islam-Kristen tidak jarang dilatarbelakangi nuansa politis yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama itu sendiri,” ungkapnya, dalam buku Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi bukan Aspirasi.

***
Ditengah agenda Ketua Umum PBNU yang sedemikian padat, Kiai Said dewasa ini diterpa berbagai fitnah, hujatan dan bahkan makian dari urusan yang remeh-temeh sampai yang menyangkut urusan negara. Ia dituduh agen Syiah, Liberal, antek Yahudi, pro Kristen, dan fitnah-fitnah lain oleh orang yang sempit dalam melihat agama dan konsep kemanusiaan dan kebangsaan. 
Meski demikian, ia toh manusia biasa – yang tak luput dari salah, dosa dan kekurangan – bukan seorang Nabi. Artinya, kritik dalam sikap memang wajar dialamatkan, tetapi tidak dengan hujatan, fitnah, dan berita palsu, melainkan dengan kata yang santun. Terkait hal ini, dalam suatu kesempatan ia memberi tanggapan kepada para haters-nya. Bukannya marah, Kiai Said justru menganggap para pembenci dan pemfitnah itu yang kasihan. Dan sebagai orang yang tahu seluk beluk dunia tasawuf, tentu dia sudah memaafkan, jauh sebelum mereka meminta maaf atas segenap kesalahan.
Wallahu a’lam.

Monday, January 16, 2017

Islam Baper Atawa Akidah Puber



Dua hari yang lalu, saya menemukan sebuah kalimat yang menarik, tergores pada sebuah kaos oblong. Kalimat itu bertuliskan: “Islam baper, Akidah Puber”. Kutipan kaos itu menurut saya menggelitik.Marketable bagi emak-emak yang hobi jualan di olshop. Kemudian saya berfikir keras. Apa maksud dari tulisan itu? Pikir saya, Islam kok baper, Akidah kok puber. Mungkin sebagian pembaca masih ada yang miss dengan kata ‘baper’ yang ngehit dewasa ini. Menurut khasanah Kamus Bahasa Anak Muda Indonesia (KBAMI), baper berarti “bawa perasaan”. Suka teriak-teriak dan melow tidak jelas, mempunyai rasa ketakutan yang akut (baca: fobia).

Bagaimana ketika ihwal itu muncul di dalam tubuh umat beragama? Yang mana umat beragama itu ketika baper, tiba-tiba marah, emosi, dan kesetanan, tetapi membawa simbol-simbol Islam. Jika mendapatkan berita tidak sedap, langsung main pukul tanpa tabayun (klarifikasi) dulu.
Misalnya begini, seperti kasus kemarin, ada diskusi tentang filsafat Islam di Riau, diskusi bedah buku Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia di Surabaya, dan diskusi film Pulau Buru Tanah Air Beta di Yogyakarta, semua diskusi itu, oleh ormas Islam yang baper, tanpa mendengarkan apa isi diskusi dan seperti isi pembicaraannya. Pilihannya ada dua: bubar atau amuk massa. Dan sangat sayang seribu sayang, mereka mengatasnamakan Islam.
Pertanyaan saya, kenapa ormas Islam yang tergolong mudah baperan ini begitu dibiarkan keberadaanya di negeri kita?
Tidak ada tindakan sama sekali dari aparat. Seakan negara lunglai tak berdaya ketika menghadapi ormas yang baperan ini. Bukankah konstitusi kita sudah menjamin—siapapun dia, boleh bersuara. Tidak ada dalilnya dalam melakukan pembubaran diskusi serta pemberangusan hak bersuara.
Silakan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28E-nya dibuka kembali. Mereka mungkin sedang lupa. Ya sudah, saya yang mengingatkannya.
Di dalam pasal tersebut, pada ayat 2 dan 3 itu berbunyi begini: “(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. (3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.”
Kedua, tipikal ormas Islam baper adalah, segala sesuatu permasalahan: kebobrokan moral, tidak tegaknya hukum dan undang-undang, maraknya kasus korupsi,–itu semua, menurut ormas baper, solusinya hanya satu: Khilafah ‘ala manhaj nubuwah. Walaupun mereka suka teriak-teriak haram sistem demokrasi, tetapi doi masih intens dan bahkan tergolong ormas Islam yang paling gemar melakukan aksi di jalan-jalan. Bukankah demo yang mereka lakukan itu juga bagian dari demokrasi? Aneh bin ajaib, bukan? Menolak demokrasi tapi, sering demo. IQ? IQ? IQ?
Teman saya pun berujar, “Mungkin dia sedang baper kali ya, lha wong negara kita dari dulu ya begini, penuh dengan khilafiyyah (banyak sekali perbedaan), bukan khilafah. Seharusnya mereka itu hidup di sebuah pulau di mana gitu, dan kemudian dirikanlah itu sistem dan teriak-teriak Pulau Milik Allah.”
Subhanallah. Jaminan surga pasti. Karena di pulau yang nun jauh itu terbentuk khilafah. Pasti tidak akan ada lagi ideologi komunisme dan gerakan kiri. Apalagi orang-orang JIL yang pikirannya sudah jauh dari syariat Allah. Astaghfirullahal’adzim. Di pulau itu juga bisa bebas buat seminar dengan iming-iming surga. Apalagi pembicaranya adalah para ustadz yang sudah berhijrah. Subhanallah, pulau impian.
Di pulau itu, isu LGBT, gender, pluralisme, liberalisme, sekulerisme, yang Barat sentris itu gak bakalan masuk, bro. Boro-boro Banser yang setiap Natal jaga Gereja. Di kepulauan itu juga pemimpin kafir tidak akan bisa berkuasa di pilkada. Akan tetapi kalau sedang berkunjung dan nyumbang dana milyaran serta nasi bungkus, boleh sih. Asal, tidak menjabat pemimpin saja.
Di kepulauan yang nun jauh itu juga, misal ada orang yang menyeleweng dari syariat Islam, katakanlah sesat versi doi. Dengan secepat kilat, MUI di kepulauan itu, langsung ketok palu: Bubarkan! Tidak lama kemudian, masjid dan rumah orang yang dianggap sesat tadi langsung dibakar, warganya diusir. Tanpa dialog, tanpa klarifikasi. Karena orang yang sesat dianggapnya sudah melanggar hukum Allah.
Saya juga tidak tahu, yang dimaksud hukum Allah itu yang seperti apa. Allah-nya juga itu Allah orang Sunni atau Allah-nya orang Syiah. Karena Syiah menurut Islam baper itu juga bukan bagian dari Islam. Ternyata Allah hanya versi ormas baper saja. Orang lain tidak boleh memiliki Allah. Subhanallah sekali orang-orang yang seperti ini dan faktanya sampai sekarang masih bisa bernapas leluasa.
Tentu, di kepulauan itu suasananya sangat indah dan nyaman. Tidak ada orang Syiah, tidak ada orang Ahmadiyah, apalagi orang liberal jaringan remason, eh maksudnya freemason. Tiap hari selalu ada kajianhalaqahliqa’, serta bisa mendengarkan ceramah dari para ustadz. Duh, nikmat sekali punya usroh yang seperti itu. Apalagi kehidupan sekarang yang sudah berbasis android. Orang pintar dan ahli IT yang anti sistem kapitalis di kepulauan itu pasti akan menciptakan aplikasi Go Ustadz, Uber Ustadz, dan Grab Ustadz. Dengan mudahnya, jama’ah dimanjakan untuk bisa meniru apa yang sudah diajarkan oleh Rasulullah secara cepat dan tepat. Tentu versi ustadz Go-Go-Go tadi.
Jika demikian, akan banyak saudara kaum muslimin-muslimat berhijrah, yang dulu sewaktu SMA tidak berjilbab atau berhijab, kini, menjadi wanita yang salihah, dambaan para laki-laki jomblo saleh di sana. Dan saya tidak bisa membayangkan, jika pulau itu merupakan cerminan dan gambaran dari surga. Eh, maaf, bukan surga. Karena surga itu bahasa orang Hindu. Yang benar adalah “Jannah”.
Akidah Puber
Dewasa ini, saya mendapatkan info melalui grup di Whatsapp soal bahaya Kristen Ortodoks yang ajaran dan laku ibadahnya meniru umat Islam. Seperti shalat, bersuci, dan bacaan injilnya yang berbahasa Arab. Belum lagi simbol-simbol yang digunakan; sama persis dengan orang Islam (dalam info yang disebar itu). Tentu, saya yang awam dan alhamdulillah sadar media, tidak langsung percaya dengan berita sampah kek gitu.
Saat ini, media mana sih yang sering (bahkan paling banyak) memberitakan hoax, pembohongan publik? Silakan, pembaca googling saja. Maka dari itu, saya yang sadar media (ceileh), tidak langsung klik share, ucapkan amin, pada berita yang belum jelas tersebut. Verifikasi dan klarifikasi akan berita itu penting. Lebih baik dibaca dulu infonya, ditanya dari mana dia mendapatkan berita tersebut. Itulah tantangan kita hidup di zaman IT dan gadget seperti saat ini.
Al-Hujurat (49:6), Allah Swt memerintahkan kita betapa pentingnya klarifikasi berita. Di dalam ayat itu dijelaskan, yang kurang lebih artinya begini: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Ayat al-Qur’an begitu jelas menggambarkan dan memberikan kesadaran kepada kita semua betapa petingnya tabayun (klarifikasi). Jurnalis memang bisa salah dalam mengabarkan. Lebih parah lagi, kita yang tidak tahu apa-apa, belum klarifikasi data, dengan bodohnya membagikan berita tersebut. Makanya, saya pribadi agak sensi misalnya ada pemberitaan masjid dibakar, kaum muslimin di siksa, dan hal ihwal yang berbau kebencian dan kekerasan.
Isu-isu sensitif seperti di atas mudah sekali digoreng sama saudara kita yang akidahnya mengalami pubertas. Masa puber adalah remaja kisaran umur 8-15 tahun, yang tengah mengalami perubahan fisik. Bulu tipis kumisnya mulai tumbuh, suaranya agak membesar, dan juga area-area yang lain. Masa puber ini adalah masa seseorang ingin tahu segala hal. Dan bahayanya adalah ketika tidak ada kontrol dan pembimbing di dalamnya.
Bagaimana ketika hal itu masuk di dalam ranah agama? Pubertas akidah atau akidah yang mengalami masa puber pasti akan dengan secepat kilat men-judge sesat dan kafir. Dan dengan lugasnya, menyatakan waspada dan bahaya dengan info-info yang tidak jelas sumbernya, seperti Kristen Ortodoks tadi. Begitu juga ketika ada berita masjid dibakar dan hal-hal yang berbau kekerasan serta kebencian.
Wahai saudaraku yang dirahmati oleh Allah. Sebelum kalian memberikan berita kepada saudara kalian, alangkah baiknya dicek akan kebenarannya terlebih dahulu, sebelum kalian nanti menyesal. (HR. Annasher). Bukan hadis.
Saran saya kepada saudaraku semua, ana ukhibbuka fillah, bahwa jika kalian berpapasan dengan handai taulan, teman, sahabat, yang tengah mengalami masa pubertas akidah, sebaiknya disuruh belajar dulu yang rajin sebelum mengklaim orang lain. Sebelum melakukan judgement, penghakiman kepada sesama saudaranya sendiri.
Hidup ini sudah susah, jangan dibuat tambah susah lagi. Jangan banyak baper deh. 

http://www.gusdurian.net/id/article/headline/Islam-Baper-atawa-Akidah-Puber/

Andai Gusdur Punya Twitter

Internet memang mengubah kehidupan dan cara kita bersosialisasi. Pernyataan itu, saya yakin tidak berlebihan. Saya, mungkin juga termasuk Anda, tentu menghabiskan banyak waktu dalam sehari untuk sekedar mengecek timeline, mengecek status atau mencurahkan hati melalui media sosial. Salah? Ah, saya tidak dalam posisi untuk menghakimi. Pun, saya juga tidak pasti apakah hal itu salah atau tidak. 

Tapi yang jelas, sebagian dari kita lantas kebablasan memuja media sosial. Media sosial ibarat utusan Tuhan yang sabdanya sudah pasti benar dan sah adanya. Sungguh, tidak banyak pengguna media sosial yang dengan kesadaran penuh mau capek-capek menyaring informasi apalagi sampai menguji kebenaran atas informasi yang disampaikan media sosial. Merepotkan mungkin? 

Bebas dan rahasia. Ya begitulah karakter media sosial. Setiap pengguna bebas menyuarakan pikirannya melalui Medsos. Bebas menyebarkan informasi kepada pengguna lain. Entah benar, entah salah. Entah itu menyinggung pihak lain atau tidak. Di sisi lain, Medsos juga bersifat rahasia, karena identitas kita tidak selalu terekspos. Kita bisa saja menyamarkan identitas, atau menggunakan identitas palsu. Tidak ada yang tahu persis siapa kita sebenarnya, kecuali kita sendiri yang membuka diri. 

Toleransi di Titik Nadir 

Begitulah, sebagian dari kita, pengguna Medsos, lantas merasa leluasa untuk lebih vulgar menyuarakan pendapatnya. Tanpa khawatir harus menghadapi konfrontasi langsung dari pihak yang berseberangan atau yang diserang. Awalnya saya mengganggap ini angin segar bagi rakyat Indonesia yang memang hanya memiliki sedikit akses untuk mengeluarkan uneg-uneg. Tapi makin lama, rasanya kok makin kebablasan dan makin bikin gerah. 

Medsos, alih-alih dimanfaatkan sebagai media untuk menyampaikan kritik konstruktif, malah dimanfaatkan untuk menyebar kebencian. Informasi yang dipelintir, dalil dan argumen yang menyakiti orang lain, justru lebih sering bersliweran di Medsos. Memprihatinkan. 

Saya sendiri juga heran, kenapa ujaran kebencian, ajakan menyakiti pihak lain malah mendapatkan respon luar biasa dari pengguna Medsos lain. Apa yang salah dengan kita? Kenapa kita begitu mendukung kebencian dan gemar menyudutkan pihak lain yang tidak sepaham dengan kita. Apa yang salah dengan perbedaan? Apakah lantaran berbeda lantas kita tidak bisa saling menghargai satu sama lain? Tidak bisakah Anda menerima bahwa setiap individu sebenarnya justru diciptakan berbeda? Berbeda adalah sebuah keniscayaan. Tuhan memang menciptakan kita semua berbeda. Berbeda suku, warna kulit, kebiasaan, bahkan agama. Lalu apa perbedaan itu layak jadi alasan untuk saling membenci. Kebanyakan kebencian yang di-posting di Medsos malah saya rasa kurang berdasar. Apa dasar Anda membenci orang yang memiliki cara menyembah Tuhan yang berbeda dengan Anda? Apa dasar Anda membenci orang yang memiliki warna kulit beda dengan Anda? Toh dia tidak mengusik Anda, tidak juga melakukan perbuatan keji seperti membunuh atau memperkosa misalnya. 

Saya ingat pernah menjumpai status facebook salah satu pengguna Medsos, seorang muslim yang belum cukup ilmu, menghina kalangan penghayat dan penganut agama lain. Menyebut mereka sebagai pemuja batu dan bodoh. Parahnya, status “jahat” seperti itu malah mendapat ratusan respon, baik yang mengamini maupun yang menghujat. Saya sendiri sebenarnya sedikit tergelitik untuk menanggapi status itu. Tapi, dipikir lagi, sepertinya tidak akan ada gunanya. Hanya bakal menambah panjang debat kusir dan saling menyakiti. Sungguh sangat disayangkan, baik si pembuat status maupun, mereka yang rela membuang waktu, pikiran untuk menanggapi hal itu. 

Posting seperti itu bukan satu, dua kali tersebar di Medsos. Ada puluhan, ratusan atau bahkan jutaan posting serupa yang bertebaran. Hina menghina antar suku, ejekan dan saling sindir kota yang satu dengan kota lain juga pernah terjadi. Hanya, isu agama lah yang paling sering jadi bahan hujat menghujat di Medsos. Sungguh tingkat toleransi kita sudah nyaris menyentuh titik nadir. Membahayakan untuk sebuah bangsa yang bersatu dengan modal perbedaan. Di masa lampau, perbedaan antara kita adalah kekayaan. Dulu Nusantara ini mampu menjadi Negara digdaya karena kelihaian mengolah perbedaan. Seperti sebuah Supermarket, barang apapun yang dibutuhkan bisa kita dapatkan disitu. Hebat kan Indonesia. 

Andai Gus Dur punya Twitter 

Ah, saya jadi teringat Gus Dur. Bapak Bangsa yang nyeleneh, dan terkenal sangat toleran itu. Sejuta satu orang macam Gus Dur itu. Dia memang seorang Kiai, seorang muslim yang cerdas, brilian lagi taat. Dia cucu pendiri Nahdatul Ulama, organisasi massa muslim terbesar di Indonesia. Biar begitu, eksistensinya juga diakui, bahkan dihormati lintas agama, lintas daerah, lintas suku. Kira-kira apa yang akan di posting Gus Dur jika ia punya akun Medsos? Ooh mungkin dia akan menanggapi “perang Medsos” itu dengan santai. “Gitu aja kok repot!” 

Ya, itu Gus Dur. Atributnya sebagai seorang Kiai tidak pernah menghalangi dirinya untuk bergaul mesra dengan masyarakat non muslim, dan kaum minoritas lainnya. Level Gus Dur jelas jauh sekali bila dibandingkan dengan ekstrimis-ekstrimis yang belakangan muncul dan menyebar isu kebencian melalui banyak cara. Saya memang tidak pernah mengenal Gus Dur secara langsung. Bahkan dulu, saya termasuk kalangan yang kontra dengan pemikiran Gus Dur, yang menurut saya waktu itu, tidak masuk akal. Merehabilitir nama baik eks napol PKI? Menjalin hubungan diplomatik dengan yahudi Israel? Buat bocah dengan pemikiran sempit seperti saya waktu itu, pemikiran Gus Dur adalah pemikiran konyol. Pun, ketika ia mencabut larangan perayaan imlek. Saat itu, saya sama sekali nggak paham urgensi itu semua. 

Hingga bertahun setelah itu, saat saya akhirnya “tercerahkan” dengan kondisi bangsa ini sebenarnya. Saat saya akhirnya membaca buku-buku dan tulisan tentang Gus Dur. Pahamlah saya tentang apa yang sebenarnya diperjuangkan Gus Dur. Hal sederhana yang disebut kemanusiaan dan keadilan. Orang dengan kapasitas intelektual, emosional dan spiritual setara Gus Dur tentulah memahami bahwa akar dari perpecahan adalah intoleransi. Akar dari konflik adalah ketidakadilan. Dan dari sisi spiritual, memanusiakan manusia boleh dibilang sebagai sebuah bentuk penghormatan terhadap eksistesi Tuhan itu sendiri. Maka atas dasar kemanusiaan, keadilan, dan Ketuhanan. Layaklah bila Gus Dur tergerak untuk membela kaum minoritas.

Andai Gus Dur punya akun twitter, mungkin dia akan menyindir para ekstrimis penghujat itu. Mengiritik mereka yang belum tersadarkan tentang indahnya hidup berdampingan dalam perbedaan. Tidak….tidak, bukan kritik yang menyebarkan kebencian. Tapi mungkin akan lebih mirip sebagai nasihat dari seorang maestro biola kepada seorang pebiola amatir yang masih belajar. Bukankah seorang amatir yang belum cukup ilmu kadang masih suka mengeluarkan suara sumbang saat memainkan biolanya? 

Seperti yang dituturkan Ajahn Brahm dalam bukunya “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”. 

Sewaktu kita bertemu dengan orang yang menggebu-gebu terhadap kepercayaannya, tidaklah benar untuk menyalahkan agamanya. Itu hanyalah proses belajar seorang pemula yang belum bisa memainkan agamanya dengan baik. Sewaktu kita bertemu dengan orang bijak, seorang maestro agamanya, itu merupakan pertemuan indah yang menginspirasi kita selama bertahun-tahun. Apapun kepercayaan mereka. Namun, satu lagi yang lebih indah dari permainan seorang maestro. Itu adalah alunan simfoni dari sebuah orchestra besar. Dimana tiap anggota orchestra adalah maestro alat musiknya masing-masing. Dan lebih hebat, karena para maestro itu telah belajar lebih dalam lagi untuk bisa bermain bersama dalam harmoni. 


Indonesia, seperti juga sebuah orchestra besar yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan simfoni indah megah yang bakal membuat kagum seantero jagad. Simfoni itu hanya bisa kita hasilkan bila kita mau belajar untuk menundukkan ego kita, dan menerima perbedaan yang lain. Itu tentu bukan hal sulit, selama kita mau. Mari kita belajar cerdas memanfaatkan medsos. Untuk menyebarkan nilai-nilai para leluhur. Toleransi!

https://mommiesneversleep.blogspot.co.id/2016/06/andai-gus-dur-punya-twitter.html

Sunday, January 15, 2017

Kekuatan Supranatural Berkah Khidmah kepada Guru

Ketika laki-laki pengembara itu sampai di daerah Tamgrut untuk berguru pada sufi Syekh Ahmad bin Nasir Al-Dar'i, ia dapatkan orang tua itu tengah menderita sakit yang menjijikkan. Mungkin semacam cacar. Sang guru menyeru para muridnya agar datang. Satu demi satu, sang guru meminta mereka agar mencucikan bajunya. Tapi setiap orang dari murid-muridnya tersebut menolak. Setiap orang dari mereka merasa jijik oleh wajah sang guru dan rupa bajunya. Mereka takut penyakit cacar itu menulari mereka. 

Sikap berbeda ditunjukkan oleh pengembara dari Maroko bernama lengkap Sidi Lahsen Lyusi. Pemuda yang lahit lahir 1631 di Pegunungan Atlas Tengah itu datang meskipun ia tak dikenal siapa pun juga. "Guru, biarkan hamba cucikan baju itu," pinta Lyusi.

Maka baju itu pun diberikan kepadanya. Lyusi pun membawanya ke sebuah mata air, menggosok membersihkan pakain guru sufi dan seraya memerasnya agar kering, ia minum air kotor yang menetes dari sana. Setelah selesai mencucikan pakain tersebut, ia pun kembali pada sang guru. Sontak perubahan terjadi pada dirinya, matanya menyala, bukan karena penyakit, tapi seolah-olah ia baru saja meminum anggur yang garang. Lyusi bukan lagi orang biasa. Ia telah memiliki barokah, semacam kekuatan supernatural.

Maka sejak itu namanya pun kian masyhur. Pada suatu hari ia datang ke kota Meknes, ibu kota yang didirikan oleh Sultan Mulay Ismail. Mendengar kedatangan penempuh jalan spiritual (salik) ini, Sultan Mulay Ismail menyambutnya dengan penuh hormat. Ia diberi penginapan yang bagus dan hidangan yang lezat. Ia diajak menjadi penasihat rohaniahnya di dekat mahligai.

Bersamaan pada waktu itu sultan sedang membangun dinding besar mengitari kota. Para pekerja yang menggarap proyek ini baik budak ataupun bukan diperlakukan dengan kejam. Para buruh yang membangun dinding tersebut diperlakukan secara tidak manusiawi. Pada suatu hari seorang buruh jatuh sakit ketika sedang bekerja. Ia dihukum. Bukan main hukumannya, yaitu pekerja yang jatuh sakit itu direkatkan ke tembok tempat ia jatuh.

Prihatin dengan kejadian di atas, kawan-kawan buruh itu diam-diam mengadu ke tempat Lyusi. Namun Lyusi diam saja, tak berkata apa pun kepada sultan. Barulah saat tiba waktu makan malam dan hidangan dibawa ke kamarnya, Lyusi pun mulai memecahkan semua piring, satu demi satu. Dan ia terus saja melakukan hal ini, malam demi malam, hingga seluruh piring di istana itu hancur.

Ketika sultan penasaran dan bertanya apa yang terjadi dengan piring di istananya, para pelayannya menjawab: "Tamu itu yang memecahkan semuanya". Maka sultan pun memerintahkan agar Lyusi dibawa menghadapnya.

"Tuan kami telah memperlakukan anda sebagai tamu Tuhan, tapi kenapa anda memecahkan semua piring kami?” Kata sultan mengintrogasi.

"Ah! Manakah yang lebih baik, keramik yang dibikin Allah atau keramik tanah liat itu?

Dengan jawaban itu Lyusi ingin mengatakan bahwa ia hanya memecahkan piring ciptaan manusia, sementara sultan mematahkan manusia ciptaan Allah. Mendengar jawaban Lyusi sultan bertambah berang dan Lyusi diusirnya dari istana. Lyusi meninggalkan istana dan berkemah di luar dekat tembok kota. Tak sabar akan pembangkangan ini, sultan sendiri datang berkuda. Saat itu Lyusi sedang shalat. Ketika sultan tetap menerjang, Lyusi hanya menorehkan tombaknya membikin garis. Melewati itu, kaki kuda sultan tiba-tiba terbenam ke dalam tanah.  

Demikian kisah ini kami sadur dari salah satu esai catatan pinggir Gunawan Muhammad berjudul "Lyusi" edisi 19 Januari 1978. Mantan Pimred Tempo ini merujuk pada salah satu bukunya Clifford Geertz berjudul Islam Observed.

Keistimewaan yang diperoleh Lyusi tentu bukan hasil yang pasti akan didapatkan setiap orang yang menaruh hormat dan sudi berkhidmah kepada guru. Kekuatan supranatural tersebut bukan harapan, apalagi tujuan, tapi ia menjadi penanda bahwa ketulusan dan ketawadukan murid kepada guru akan berbuah kemuliaan dan membawa berkah tersendiri bagi seorang murid. Dan berkah itu bermacam-macam, bisa dalam wujud fisik maupun nonfisik.