Sunday, June 25, 2017

Gus Mus: Selamat Idul Fitri

selamat idul fitri, bumi
maafkan kami
selama ini
tidak semena-mena
kami memerkosamu

selamat idul fitri, langit
maafkan kami
selama ini
tidak henti-hentinya
kami mengelabukanmu

selamat idul fitri, mentari                                                                     
maafkan kami
selama ini
tidak bosan-bosan
kami mengaburkanmu

selamat idul fitri, laut
maafkan kami
selama ini
tidak segan-segan
kami mengeruhkanmu

selamat idul fitri, burung-burung
maafkan kami
selama ini
tidak putus-putus
kami membrangusmu

selamat idul fitri, tetumbuhan
maafkan kami
selama ini
tidak puas-puas
kami menebasmu

selamat idul fitri, para pemimpin
maafkan kami
selama ini
tidak habis-habis
kami membiarkanmu

selamat idul fitri, rakyat
maafkan kami
selama ini
tidak  sudah-sudah
kami mempergunakanmu.

Puisi ini pernah dipublikasikan KH A Mustofa Bisri di akun Facebook pribadinya pada 29 Agustus 2011


Quraish Shihab Ingatkan Pentingnya Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

Jakarta, 
Khatib shalat Idul Fitri di masjid Istiqlal Quraish Shihab mengingatkan bahwa nasionalisme, patriotisme dan cinta tanah air adalah fitrah (naluri) manusia.

"Tanah air adalah ibu pertiwi yang sangat mencitai kita sehingga mempersembahkan segalanya buat kita, kita pun secara naluriah mencintainya. Itulah fitrah, naluri manusiawi, karena itu hubbu al-wathan minal iman, cinta tanah air adalah manifestasi dan dampak keimanan," kata Quraish di masjid Istiqlal Jakarta pada Ahad.

Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo beserta putrinya Kahiyang Ayu dan putranya Kaesang Pangarep ikut melaksanakan shalat Id di masjid tersebut. 

Bersama Presiden dan keluarga, hadir pula Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta Ibu Mufidah Jusuf Kalla, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dan istri Happy Farida, serta para menteri Kabinet Kerja, pimpinan lembaga negara, dan duta besar negara sahabat.

"Tanah air kita terbentang dari Sabang sampai Merauke harus dibangun dan dimakmurkan serta dipelihara persatuan dan kesatuannya," tambah Quraish.

Persatuan dan kesatuan menurut Quraish adalah anugerah Tuhan yang tidak ternilai karena sebaliknya, perpecahan dan tercabik-cabiknya masyarkat adalah bentuk siksa Allah.

Kesatuan itu menurut Quraish memiliki tiga arti.

"Pertama, kesatuan seluruh makhluk karena semua makhluk kendati berbeda-beda namun semua diciptakan dan di bawah kendali Allah," ungkap Quraish.

Arti kedua adalah, karena semua manusia berasal dari tanah sehingga semua manusia harus dihormati kemanusiannya, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat walau mereka durhaka.

"Memang jika ada manusia yang menyebarkan teror, mencegah tegaknya keadilan, menempuh jalan yang bukan jalan kedamaian, maka kemanusiaan harus mencegahnya," jelas Quraish.

Arti ketiga adalah kesatuan bangsa meski berbeda agama, suku, kepercayaan maupun pandangan politik.

"Mereka semua bersaudara, berkedududukan sama dari kebangsaan. Kesadaran tentang kesatuan dan persatuan itulah yang mengharuskan kita duduk bersama bermusyawarah demi kemaslahanan dan itulah makna 'kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan'," tambah Quraish. 

Kembali ke Fitrah Khalifah di Muka Bumi

Tanggal 1 Syawal selalu disambut gembira oleh seluruh umat Islam. Setelah sebulan lamanya mereka menahan diri dari hal-hal yang dilarang serta memperbanyak ibadah, tibalah saatnya merayakan hari Idul Fitri.

Idul Fitri, secara harfiah berarti kembali ke awal penciptaan. Dari situ dapat ditarik pemahaman bahwa, pada momen Idul Fitri ini, setiap umat Islam diharapkan bisa kembali ke fithrahnya yang suci. Untuk mendapat kesucian laiknya bayi yang belum terkontaminasi polusi dunia, tentu dosa-dosa harus terhapuskan. 

Dosa kepada Allah dapat terhapuskan melalui tobat dan ibadah selama Ramadhan, tetapi dosa kepada sesama manusia tak akan terhapuskan sebelum terjadi pemaafan. Karena itu, dalam tradisi umat Islam di negara-negara Asia Tenggara, Idul Fitri dirayakan dengan halal bihalal, yakni bersilaturrahim satu sama lain untuk bermaaf-maafan. Itulah tradisi Islam yang sangat luhur hasil kreativitas Wali Songo yang tetap bertahan hingga kini di segala penjuru bumi Nusantara. 

Bagi umat Islam, siklus Idul Fitri seolah memberi kesempatan mengulang perjalanan hidup sekaligus menjadi semacam pelabuhan bagi hasrat untuk kembali ke fitrah. Hasrat kembali ke fitrah ini berada pada lapis terdalam nurani manusia sebagai konsekuensi dari ikrar primordialnya di hadapan Allah. Dijelaskan dalam Al-Qur’an, ketika cikal bakal manusia masih berada di alam ruh, Allah bertanya, "Bukankah aku ini Tuhanmu?" Manusia menjawab, "Betul, kami bersaksi" (QS al-A’raf: 172).

Peristiwa ikrar dalam proses penciptaan itulah yang kemudian membuat manusia memiliki potensi hanif, yakni sikap cenderung untuk beriman, sikap yang condong pada kebenaran dan keadilan. Sikap



inilah yang menyebabkan Ibrahim tak pernah berhenti menyelidiki fenomena dan hukum-hukum alam untuk mencari causa prima hingga pada akhirnya ia berhasil mengenal Allah. Sikap hanif ini pula yang mendorong Muhammad untuk menyepi ke gua hira hinga mendapat wahyu yang pertama dari Allah. Pendek kata, sikap hanif adalah aktualisasi fitrah manusia sebagai hamba Allah.

Fitrah manusia, selain bertalian dengan ikrar primordialnya, juga terkait dengan desain penciptaannya. Allah mendesain manusia lebih dari sekadar sebagai hamba, karena di dalam diri manusia melekat pula status sebagai khalifah. Sebelum Adam diciptakan menjadi manusia pertama, terlebih dahulu Allah menginformasikan kepada para malaikat bahwa tak lama lagi akan ada khalifah di muka bumi (QS al-Baqarah: 30).

Makna khalifah di muka bumi, menurut Abdullah ibn Abbas, seorang penafsir Al-Qur’an terkemuka periode Sahabat, adalah wakil Allah di dunia. Sebagai wakil Allah, manusia bertanggung jawab untuk mengurus dunia dan segala isinya. Dunia harus dikelola sebaik mungkin untuk keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk, terutama umat manusia itu sendiri.

Sebagai khalifah, manusia dibekali akal budi dan hawa nafsu. Akal budi membimbing manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan iman. Capaian ilmu dan iman itulah yang kemudian membuat manusia mampu membedakan baik dan buruk serta benar dan salah, yang pada gilirannya menentukan tingkat kematangan spiritualnya.

Di sisi lain, hawa nafsu mendorong manusia untuk mencari kesenangan-kesenangan duniawi. Karena memiliki hawa nafsu, manusia punya hasrat biologis (biological needs) dan hasrat untuk berkuasa (will to power). Keduanya menawarkan kesenangan yang bersifat sesaat.

Hasrat meraih kesenangan dunia yang dibisikkan hawa nafsu itu dapat melenakan manusia sehingga lupa akan tanggung jawabnya. Karena itu, dalam ajaran Islam, hawa nafsu harus diperangi tetapi tidak untuk dimatikan, melainkan untuk dikendalikan. Pengendalian hawa nafsu dilakukan oleh iman dan ilmu pengetahuan. Iman memberi koridor pada hasrat-hasrat biologis supaya kesenangan ragawi mendapat pembenaran secara spiritual. Sementara ilmu pengetahuan memacu hasrat berkuasa untuk melakukan kreativitas sehingga tidak menghasilkan sesuatu yang destruktif, melainkan menghasilkan peradaban.

Salah satu capaian tertinggi peradaban dalam sejarah umat manusia adalah terciptanya tatanan sosial dalam bentuk negara. Melalui negara, manusia bisa membangun tertib sosial sehingga memudahkan pelaksanaan tugas-tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Pada mulanya negara merupakan organisasi sederhana yang dipimpin seorang raja (atau ratu) dengan kekuasaan yang tidak ada batasnya. Raja yang bertanggung jawab dalam menjalankan kekuasaannya layak mendapat gelar khalifah, sebagaimana Allah menyematkan gelar itu kepada Raja Daud (QS as-Shaad: 26).

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan umat manusia, konsep negara kini telah mengenal berbagai bentuk dan memiliki beragam sistem pengelolaan kekuasaan yang tentu dapat memudahkan tugas-tugas kekhalifahan. Dewasa ini, boleh dikata setiap negara telah menerapkan pembagian dan pendelegasian kekuasaan. Itu berarti, tanggung jawab sebagai khalifah tidak lagi terpusat pada satu lokus jabatan tertentu. Setiap jabatan dalam organisasi negara modern memiliki beban tanggung jawab sebesar kekuasaan (kewenangan) yang melekat padanya.

Pada faktanya, tidak mudah menjalankan kekuasaan secara bertanggung jawab. Penyelewengan kekuasaan kerap tak terhindarkan manakala pemangku jabatan dihadapkan pada kepentingan pribadi, kelompok, maupun ideologinya. Kepentingan-kepentingan itu dituruti biasanya karena menjanjikan kesenangan, atau setidaknya mengurangi ancaman, sehingga menyebabkan sang pemangku jabatan lalai akan tanggung jawabnya sebagai khalifah.

Oleh sebab itu, pada momentum Idul Fitri ini, kembali ke fitrah sebaiknya tidak hanya dimaknai sebagai kembali menjadi hamba Allah yang suci, tetapi juga mencakup pengertian kembali menjadi khalifah Allah di muka bumi secara bertanggung jawab. Tekad kembali ke fitrah sebagai khalifah ini perlu diiringi dengan usaha keras untuk meningkatkan iman dan ilmu pengetahuan. 

Allah berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan (QS al-Mujadalah:11). Mereka pantas ditinggikan derajatnya karena memiliki visi dan kompetensi. Hanya orang yang memiliki visi dan kompetensi memadailah yang dapat mengambil peran dan tanggung jawab sebagai khalifah, sehingga derajatnya pun layak ditinggikan sebagaimana ditinggikannya derajat Raja Daud.

Rafiuddin D Soaedy alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo,

Thursday, June 22, 2017

Tips Rasulullah untuk Melunakkan Hati yang Keras

Pernahkah Anda terbukti bersalah namun sukar sekali mengeluarkan minta maaf? Alasannya: orang yang dimintai maaf lebih muda dari kita, lebih miskin dari kita, atau status jabatannya lebih rendah dari kita. Jika kita penah mengalami demikian atau menyaksikan orang yang berperilaku begitu, yang bersangkutan sesungguhnya telah mengidap penyakit hati yang keras.

Surat Al-Baqarah ayat 67-74 mengambarkan kondisi penyakit tersebut ketika mengisahkan tentang Bani Israil. Mereka dilukiskan sebagai orang-orang yang sulit menerima kebenaran meskipun bukti nyata telah hadir di depan mata. Hati mereka mengeras seperti batu, bahkan bisa lebih keras lagi.

Penyakit ini susah disembuhkan karena yang mesti dihadapi penderitanya adalah dirinya sendiri. Egoisme, gengsi, atau perasaan paling istimewa, biasanya menjadi biang keladi mengapa hati seseorang membatu sehingga sukar dimasuki kebenaran dan kebaikan yang datang dari luar dirinya. Namun, susah disembuhkan bukan berarti tidak bisa diobati. 

Suatu hari seorang laki-laki datang mengadu kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam tentang hatinya yang keras (qaswatul qalb). Nabi menjawab:

إن أردت تلين قلبك، فأطعم المسكين، وامسح رأس اليتيم

Artinya: “Jika kamu ingin melunakkan hatimu maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Dalam hadits tersebut, Rasulullah menganjurkan orag yang keras hatinya untuk melatih diri berempati dengan orang-orang lemah. Empati tersebut diwujudkan salah satunya dengan memberi makan orang miskin.

Makan adalah di antara kebutuhan primer (hâjiyât) setiap manusia. Penghasilan orang miskin sering hanya bisa mencukupi keperluan pokok tersebut tanpa bisa menambah kebutuhan sekunder lainnya. Lebih dari miskin disebut faqîr. Keduanya merupakan kelompok rentan yang sama-sama membutuhkan uluran tangan.

Ibnu Rajab al-Hanbali saat menjelaskan hadits ini mengatakan bahwa bergaul dengan orang-orang miskin dapat meningkatkan rasa ridha dan syukur seorang hamba atas nikmat yang dikaruniakan oleh Allah. Sebaliknya, bergaul dengan orang kaya potensial membuatnya kurang menghargai rizeki yang diterimanya.

Selanjutnya adalah mengusap kepala anak yatim. Kata “mengusap” di sini merupakan kiasan dari anjuran untuk menyayangi, berlemah lembut, dan mengayomi mereka. Tentang hal ini, Nabi bersabda:

من مسح رأس يتيم أو يتيمة لم يمسحه إلا لله ، كان له بكل شعرة مرت عليها يده حسنات ، ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم عنده ، كنت أنا وهو في الجنة كهاتين ، وقرن بين أصبعيه

“Barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim laki-laki atau perempuan hanya karena Allah, baginya setiap rambut yang diusap dengan tangannya itu mengalirkan banyak kebaikan, dan barangsiapa berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau laki-laki yang dia asuh, aku bersama dia di surga seperti ini (Nabi menyejajarkan dua jarinya).”

Dalam hadits itu, Allah memberikan kebaikan kepada orang-orang yang mengusap kepala anak yatim. Jumlah rambut di hadits ini merupakan ilustrasi dari kebaikan yang tak terhitung sebagaimana tak terhitungnya jumlah rambut kepala orang. Artinya, sebanyak apa kebaikan seseorang kepada anak yatim, sebesar itu pula Allah berikan kebaikan kepadanya. Inilah mengapa hati yang keras menjadi mudah melunak, terbuka terhadap kebenaran dan kebaikan. Sebab, Sang Penguasa Hati sedang berada di pihaknya. Wallah a’lam.

Kisah Mbah Maemun Zubair Jadi Buruh di Rumah Makan

 
Shalat itu boleh dikata masih masuk akal. Gerakan-gerakannya jelas-jelas menggambarkan sikap menyembah dan memuja. Belum lagi bacaan-bacaannya. Tapi haji?

Thawaf itu ya cuma lenggang-kangkung mengelilingi sebuah kubus. Tak ada rukun lainnya. Tak ada mantera atau doa apa pun yang diharuskan. Engkau bisa thawaf sambil ngerumpi soal Jokowi tanpa menciderai keabsahannya. Wira-wiri Shafa-Marwah pergi-pulang? Apalagi! Malah tak ada syarat bersuci. Dan wukuf? Kongkow di sebuah padang gersang. Boleh sambil tidur atau pun pingsan. Sesudah itu apa? Melempari tembok dengan kerikil! Apa yang masuk akal dari semua itu?

Dulu, pada masa ketika Jumrah masih tiang yang ramping dan orang-orang harus berebut mengincarnya, ada seorang jemaah haji yang sampai frustrasi. Sedang konsentrasi mengincar, tangannya kesenggol hingga kerikilnya jatuh. Ia ulangi lagi, kesenggol lagi jatuh lagi. Ia ulangi, begitu lagi. Terus sampai entah berapa kali. Hingga di puncak kaku-hati, ia pun menjerit,

“Yaa Allaah Gustiiiii!!! Ini ngibadah cap apaaaa!!!”

Tapi tak bisa dijelaskan bukan berarti tak ada penjelasan. Engkau hanya tak tahu. Atau tak menemukan kata-kata untuknya. Nyatanya, jika kau sungguh percaya, ada sejenis rasa yang merembes dan mengendap ke dalam jiwamu saat kau melaksanakan laku haji itu. Rasa yang terus menyertaimu hingga kapan saja. Menghangati jiwamu dengan rindu. Dan mimpi abadi pengen balik lagi.

Saya sempat menduga, panggilan haji itu layaknya sebuah tantangan. Sejauh mana engkau percaya, hingga patuh disuruh apa saja. Bahkan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bagi akal netral tak lebih dari omomg-kosong belaka.

Kalau kau tanya alasan untuk percaya, alasannya adalah bukti. Sejak pertama kali kesana, nyaris dua puluh tahuan yang lalu, semua hal duniawi yang saya minta dalam doa-doa saya di Tanah Suci sudah diijabahi. Tuntas. Tanpa sisa. Mulai dari isteri cantik sampai perubahan politik. Dituruti tanpa kecuali. Sekarang kalau akan kesana lagi, saya harus memikirkan permintaan yang baru.

Maka tak ada yang mengherankan kalau seorang seperti Simbah Kyai Maimun Zubair entah sejak kapan beristiqomah berangkat haji setiap tahunnya. Keterbatasan quota ONH tak pernah menghalangi beliau. Apa pun jalan yang mungkin, beliau tak ragu menempuhnya. Visa jenis apa pun beliau mau. Tak ada visa haji, visa ziarah pun boleh. Bahkan pernah beliau harus berangkat dengan visa tenaga kerja musiman. Yakni yang khusus untuk dipekerjakan selama musim haji saja.

Demikianlah. Syahdan, di gawang imigrasi Madinah, masalah datang. Petugas imigrasi tak percaya orang setua itu datang sebagai tenaga kerja. Ya logis to. Lha wong usia beliau sudah mendekati 90 tahun.

Mbah Maimun jelas tak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dicecarkan saat interogasi. Kalau beliau terang-terangan bicara bahasa Arab dengan fasih dan lancar sekali, itu hanya berarti mementokkan kecurigaan petugas imigrasi. Maka beliau menyabarkan diri bertawakkal walau tertahan berjam-jam. Sampai kemudian seorang santri Sayyid Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki, yang memang bertugas menjemput, menjadi terlalu cemas karena kalamaan menunggu. Lalu menerobos ke kantor imigrasi untuk mencari tahu. Dan cecaran pertanyaan petugas pun beralih kepadanya,

“Apa benar dia ini tenaga kerja?”

“Masa?”

“Saumpritt!”

“Setua ini?”

“Memangnya nggak boleh?”

“Kerja dimana coba?”

“Di rumah makan.”

“Orang setua ini mau disuruh kerja bagian apa?”

“Bagian icip-icip!”

Entah percaya betulan atau hanya karena kasihan atau karena karamah Mbah Maimun sendiri, petugas imigrasi akhirnya meloloskan beliau dengan status buruh rumah makan bagian mencicipi masakan.

(KH Yahya Kholil Staquf)

Kisah Nabi Muhammad Pertama Kali Mendapatkan Malam Lailatul Qadar

Malam lailatul qadar adalah malam datangnya keberkahan dan kemuliaan (QS Al-Qadr: 1). Malam yang lebih baik dari 1000 bulan (QS Al-Qadr: 3) ini memberikan jaminan kebaikan secara berkesinambungan di mana malaikat turun ke bumi melimpahkan segala kemuliaan dari Allah SWT bagi hamba yang dikehendaki-Nya.

Kemuliaan berkesinambungan tersebut dinyatakan dalam salah satu ayat Al-Qur’an berbunyi, Tanazzalul malaikat war ruh (QS Al-Qadr: 4). Kata Tanazzalul adalah bentuk yang mengandung arti kesinambungan, atau terjadinya sesuatu pada masa kini dan masa datang. (M. Quraish Shihab, 1999).

Malam yang hadir pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan menurut beberapa riwayat jatuh pada tanggal-tanggal ganjil ini menuntut kesiapan dari manusianya itu sendiri untuk mendapatkan malam lailatul qadar. 

Artinya, apabila jiwa telah siap, kesadaran telah tumbuh dan bersemi, dan lailatul qadar datang menemui seseorang, ketika itu malam kehadirannya menjadi saat qadar, dalam arti saat menentukan bagi perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang.

Saat itu bagi seorang hamba adalah saat titik tolak guna meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Sejak saat itu pula malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju kebaikan sampai terbit fajar kehidupannya yang baru kelak di hari kemudian.

Saat-saat menentukan dan mengubah seluruh kehidupan Nabi Muhammad dan umatnya ialah ketika beliau menyendiri di Gua Hira. Saat itu merupakan momen pertama kali Nabi SAW menemukan malam lailatul qadar. Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Al-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing Nabi sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.

Sekilas dari kisah Nabi di atas, lailatul qadar tidak mungkin akan diraih kecuali oleh orang-orang tertentu saja. Malam lailatul qadar diraih oleh manusia ketika dia telah siap dengan segala kebaikan dan kemuliaan hatinya. Jadi, hadirnya malam yang akan mengubah perjalanan hidup seorang tersebut menuntut peran aktif manusia dalam beramal, beribadah, melakukan kebaikan untuk semua manusia, dan menyucikan jiwanya.

Tamsil dari datangnya malam yang mulia tersebut dapat dijelaskan yaitu ketika ada tamu agung yang berkunjung ke satu tempat tidak akan menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun setiap orang di tempat itu mendambakannya. Bukankah ada orang yang sangat rindu atas kedatangan kekasih, namun ternyata sang kekasih tak sudi mampir menemuinya?

Demikian juga dengan lailatul qadar. Itu sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa. Sebab itu, diduga oleh Rasulullah lailatul qadar datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Karena ketika itu, diharapkan jiwa manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian yang memungkinakan malam mulia itu berkenan mampir menemuinya. Itu pula sebabnya Nabi SAW menganjurkan sekaligus mempraktikkan i’tikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan. Wallahu a’lam bisshowab.

Pesan Idul Fitri, Yenny Wahid: Jangan Membenci dan Menang-menangan Sendiri

 

Jakarta, 
Lebaran atau Idul Fitri menjadi momen penting untuk memperkuat silaturrahim dengan saling memaafkan satu sama lain. Hal ini diwujudkan sebagian masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam dengan pulang kampung atau mudik.

Direktur Eksekutif Wahid Foundation Yenny Wahid menerangkan, Idul Fitri merupakan momen strategis bagi bangsa Indonesia untuk lebih memperkuat lagi jalinan persatuan dan kesatuan dengan saling memaafkan, juga menumbuhkan sikap saling menghargai.

“Tradisi positif ini hanya ada di Indonesia. Negara lain setelah sholat Idul Fitri langsung pulang ke rumah masing-masing, hanya berkumpul dengan keluarga,” ujar Yenny Wahid, Senin (19/6/2017) lalu saat mengisi Program Newsmaker Ramadhan di Metro TV.

Masyarakat Indonesia memanfaatkan momen Idul Fitri tidak hanya bersilaturrahim dengan sanak keluarga, tetapi juga tetangga dan masyarakat luas. Menjalin kembali silaturrahim yang sempat putus dengan ungkapan rasa gembira dan bahagia.

Putri kedua KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini juga menekankan bahwa Idul Fitri merupakan titik balik bagi umat Islam Indonesia untuk melangkah ke depan. Melihat tantangan bangsa dengan pandangan yang jernih.

“Janganlah selalu bersikap menang-menangan dan saling membenci,” kata Yenny.

Tradisi maaf memaafkan dalam Idul Fitri harus dipahami secara luas untuk bekal kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab itu, Yenny mendorong bangsa Indonesia untuk tetap saling menghormati.

“Mampu menahan diri dan tidak menang-menangan sendiri,” tegasnya. (Fathoni)

Pesan Idul Fitri, Yenny Wahid: Jangan Membenci dan Menang-menangan SendiriYenny Wahid.
Jakarta, NU Online
Lebaran atau Idul Fitri menjadi momen penting untuk memperkuat silaturrahim dengan saling memaafkan satu sama lain. Hal ini diwujudkan sebagian masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam dengan pulang kampung atau mudik.

Direktur Eksekutif Wahid Foundation Yenny Wahid menerangkan, Idul Fitri merupakan momen strategis bagi bangsa Indonesia untuk lebih memperkuat lagi jalinan persatuan dan kesatuan dengan saling memaafkan, juga menumbuhkan sikap saling menghargai.

“Tradisi positif ini hanya ada di Indonesia. Negara lain setelah sholat Idul Fitri langsung pulang ke rumah masing-masing, hanya berkumpul dengan keluarga,” ujar Yenny Wahid, Senin (19/6/2017) lalu saat mengisi Program Newsmaker Ramadhan di Metro TV.

Masyarakat Indonesia memanfaatkan momen Idul Fitri tidak hanya bersilaturrahim dengan sanak keluarga, tetapi juga tetangga dan masyarakat luas. Menjalin kembali silaturrahim yang sempat putus dengan ungkapan rasa gembira dan bahagia.

Putri kedua KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini juga menekankan bahwa Idul Fitri merupakan titik balik bagi umat Islam Indonesia untuk melangkah ke depan. Melihat tantangan bangsa dengan pandangan yang jernih.

“Janganlah selalu bersikap menang-menangan dan saling membenci,” kata Yenny.

Tradisi maaf memaafkan dalam Idul Fitri harus dipahami secara luas untuk bekal kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab itu, Yenny mendorong bangsa Indonesia untuk tetap saling menghormati.

“Mampu menahan diri dan tidak menang-menangan sendiri,” tegasnya