Friday, April 28, 2017

Ilmu Pedagogik Islam Nusantara Karya KH Hasyim Asy’ari

Ini adalah kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” karangan seorang tokoh besar yang menjadi maha guru ulama Nusantara pada masanya, sekaligus juga pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU), yaitu Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari (Jombang, Jawa Timur, 1875—1947). 

Kitab ini berjudul lengkap “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim fî Mâ Yahtâju ilaihi al-Muta’allim” dan ditulis dalam bahasa Arab. Kandungan kitab ini berisi kajian ilmu pedagogik Islami, yaitu ilmu yang mengkaji etika, strategi, dan gaya pembelajaran menurut pakem nilai-nilai keislaman, agar ilmu yang dipelajari dapat bermanfaat dan memiliki nilai keberkahan. 

Dalam tradisi ilmu pengetahuan Islam, terdapat banyak karya yang lahir dan ditulis dalam bidang kajian ini. Hal ini menimbang sangat prinsip dan urgennya posisi adab (etika) dan akhlak bagi seorang pelajar dan pengajar di mata ajaran agama Islam. 

Sekadar menyebut, beberapa karya dalam bidang ini adalah “Ta’lîm al-Muta’allim” karangan al-Zarnûjî, “al-Risâlah al-Mufashshalah li Ahwâl al-Muta’allimîn” karangan Abû al-Hasan al-Qâbisî, “Tadzkirah al-Sâmi’ wa al-Mutakallim” karangan Ibn Jamâ’ah, “al-Jâmi’ li Akhlâq al-Râwî wa Âdâb al-Sâmi’” karangan al-Khatîb al-Baghdâdî, juga kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” karangan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” karangan KH. Hasyim Asy’ari ini terbagi ke dalam 8 (delapan) bab, yaitu (1) bab yang menerangkan keutamaan ilmu, ahli ilmu, keutamaan mempelajari dan mengajarkannya, (2) bab yang menerangkan etika seorang penuntut ilmu atas dirinya sendiri, (3) bab yang menerangkan etika seorang penuntut ilmu atas guru-gurunya, (4) bab yang menerangkan etika seorang penuntut ilmu atas pelajarannya, (5) bab yang menerangkan etika seorang pengajar atas dirinya sendiri, (6) bab yang menerangkan etika seorang pengajar atas pelajaran yang diampunya, (7) bab yang menerangkan etika seorang pengajar atas murid-murid yang diajarinya, dan (8) bab yangmenerangkan etika penuntut ilmu dan pengajar ilmu terhadap kitab sebagai sarana belajar mengajar, sekaligus etika menyalin dan mengarang kitab.

Dalam kolofon, KH. Hasyim Asy’ari menyebutkan jika karya ini diselesaikan pada hari Ahad, 22 Jumadil Akhir tahun 1343 Hijri, bersamaan dengan 18 Januari 1925 Masehi. Tertulis di sana;

تم الكتاب الموسوم بآداب العالم والمتعلم. ووافق الفراغ من جمعه صبيحة يوم الأحد اثنين وعشرين جمادى الثانية سنة ألف وثلثمائة وثلاث وأربعين من هجرة سيد المرسلين

(Telah selesai kitab yang dinamakan “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim”. Selesai penulisannya pada pagi hari Ahad, dua puluh dua Jumada al-Tsâniah tahun seribu tigaratus empat puluh tiga Hijri).

Melihat titimangsa di atas, kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” ini ditulis oleh KH. Hasyim Asy’ari sekitar satu tahun sebelum diresmikannya pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang berhaluan Islam Tradisional Ahlussunnah wal Jama’ah, yang merupakan corak Islam mayoritas (sawâd a’zham) di seluruh dunia Islam pada saat itu. NU didirikan pada 16 Rajab 1344 Hijri (bertepatan dengan 31 Januari 1926 M).

Kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” mendapatkan taqrîzh (endorsement) dari ulama-ulama besar Makkah pada masanya, yang juga merupakan sahabat Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Taqrîzh tersebut terletak di bagian akhir halaman kitab. Di antara ulama-ulama Makkah yang memberikan taqrîzh atas kitab ini adalah Syaikh Sa’d ibn Muhammad al-Yamânî al-Makkî, Syaikh ‘Abd al-Hamîd Sunbul al-Hadîdî al-Makkî, Syaikh Hasan al-Yamânî al-Makkî, dan Syaikh Muhammad ‘Alî al-Yamânî al-Makkî.

Dalam salah satu taqrîzh, Syaikh ‘Abd al-Hamîd Sunbul al-Hadîdî menulis;

أما بعد. فقد اطلعت على الكتاب المسمى بآداب العالم والمتعلم، للعالم العلامة والنحرير الفهامة الشيخ محمد هاشم بن محمد أشعري الجنباني من علماء جزيرة جاوا، المشهور فيها وفي غيرها من الجزر الإسلامية بالورع والتقوى. فرأيته سفرا موجزا جذابا أدبيا .... 

(Ammâ ba’du. Saya telah menelaah kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” karangan seorang ulama yang sangat alim, seorang besar yang pemahaman keilmuannya sangat luas, yaitu Syaikh Muhammad Hasyim anak Syaikh Muhammad Asy’ari dari Jombang, yang mana beliau adalah salah satu ulama Pulau Jawa, yang terkenal di sana dan juga di pulau-pulau Nusantara lainnya dengan kewara’an dan ketakwaannya. Aku melihat karya ini sebagai karya yang padat akan kandungan isi, sangat penuh dengan nilai-nilai etika …. )

Ditambahkan oleh Syaikh ‘Abd al-Hamîd Sunbul al-Hadîdî, jika bahasa Arab yang digunakan oleh KH. Hasyim Asy’ari dalam karyanya ini sangat istimewa, sebagai bahasa Arab tingkat susastra tinggi. 

Kitab ini baru dicetak sekitar 70 (tujuh puluh) tahun kemudian, yaitu bulan Safar 1415 Hijri (Juli 1994), setelah disunting dan ditashih oleh cucu KH. Hasyim Asy’ari, yaitu KH. Ishom Hadziq (1965—2003). KH. Ishom Hadziq juga memberi pengantar bigrafi singkat kakek beliau dalam bahasa Arab. Versi suntingan tersebut diterbitkan oleh Maktabah al-Turâts al-Islâmî, Pesantren Tebu Ireng, Jombang Jawa Timur, dengan tebal keseluruhan 110 halaman.

Saya mengaji kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” hingga khatam dari al-Mukarram Kiyai Nur Khalis Ghazali Magelang ketika belajar di Lirboyo, Kediri (Jawa Timur) dulu. Tercatat pada kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” milik saya, pengajian kitab ini dimulai pada hari Ahad 17 Safar 1421 Hijri (20 Mei 2000 Masehi), jam 4 sore, di musholla komplek DS (Darus Salam). Pengajian dikhatamkan pada hari Ahad, 16 Rabi’ul Akhir di tahun yang sama (bertepatan dengan 16 Juli 2000). 

Selain “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim”, KH. Hasyim Asy’ari juga memiliki beberapa kitab karangan lain, yaitu; 

(1) Risâlah Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah. Kitab ini menjelaskan pemahaman, sejarah, dan konsep akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sebagai basis utama dan dasar dari NU. 

(2) al-Tibyân fîn Nahy ‘an Muqâtha’atil Arhâm wal Aqârib wal Ikhwân. Kitab ini memuat kajian pentingnya persatuan ummat Islam dan larangan untuk saling berpecah belah (muqâtha’ah al-arhâm) hanya karena berbeda pendapat dan pemikiran. 

(3) an-Nûrul Mubîn fî Mahabbah Sayyidil Mursalîn. Kitab ini memuat kajian biografi dan keteledanan Nabi Muhammad SAW serta keharusan ummat Islam untuk meneladani keluhuran akhlak Nabi Muhammad SAW. 

(4) al-Tanbîhât al-Wâjibât li Man Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarât. Kitab ini memuat peringatan dan larangan bagi pihak-pihak yang merayakan mauled Nabi Muhammad dengan kemungkaran-kemungkaran. 

(5) Ziyâdatut Ta’lîqât. Kitab ini merupakan tanggapan atas sebuah nazhaman yang ditulis oleh KH. Abdullah Yasin Pasuruan yang mengkritik pendirian NU.

(6) Hâsyiah ‘alâ Fathir Rahmân bi Syarh Risâlah al-Walî Ruslân. Kitab ini merupakan ulasan panjang (hâsyiah) atas teks “Hikam Ibn Ruslan”, sebuah kitab dalam kajian tasawuf karangan Syaikh Ibn Ruslan.

(7) al-Durar al-Muntasirah fîl Masâil al-Tis’ ‘Asyrah. Kitab ini memuat kajian tasawuf, di dalamnya membahas masalah-masalah tarekat dan kewalian.

(8) Kafful ‘Awâm ‘anil Haudh fî Syirkah al-Islâm. Kitab ini memuat pandangan politik KH. Hasyim Asy’ari atas Partai Sarekat Islam (SI). Kitab ini mendapat tanggapan dari Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau dengan menulis “Tanbîh al-Anâm fî al-Radd ‘alâ Risâlah Kaff al-‘Awâm”.

Kitab Sanad Ulama-ulama Nusantara Karya Syekh Yasin al-Fadanî

Ini adalah kitab “al-‘Iqd al-Farîd min Jawâhir al-Asânid” karangan ulama besar hadits dunia Islam sekaligus “musnid al-dunyâ” pada zamannya, yaitu Syekh Muhammad Yâsîn ibn ‘Îsâ al-Fâdanî al-Makkî (dikenal dengan Syekh Yasin Padang, 1335-1410 H/ 1917-1990 M). 

Syekh Yasin Padang lahir, besar, berkarir, dan wafat di Makkah, dari kedua orang tua yang berasal dari Nusantara, tepatnya dari Padang, Sumatera Barat. Syekh Yasin Padang berkebangsaan Saudi Arabia. Ayahnya, Tuan Isa bin Udik, adalah generasi pertama yang hijrah dari Padang ke Makkah pada akhir abad ke-19 M.

Syekh Yasin Padang dikenal sebagai ulama besar dunia Islam dalam bidang hadits dan asânid (sanad) pada paruh kedua abad ke-20 M. Beliau mengajar di Masjidil Haram dan menjadi salah satu pemuka ulama terbesar di sana, sekaligus mengampu Madrasah Dâr al-‘Ulûm al-Dîniyyah, sebuah institusi pendidikan keilmuan agama Islam terkemuka di Makkah.

Ada banyak julukan kemuliaan yang disematkan kepadanya, seperti 'Ilmud Dîn (pelita ilmu pengetahuan agama), al-muhaddits (guru besar hadits), al-‘allâmah (seorang yang kapasitas keilmuannya di atas rata-rata), musnidud dunyâ (mata rantai periwayatan hadits pada zamannya), dan lain-lain. Karena itu, tidaklah mengherankan jika murid-murid Syekh Yasin Padang adalah para ulama sentral dari berbagai pelosok dunia Islam.

Syekh Yasin Padang terhitung sebagai ulama besar terakhir asal Nusantara yang berkarir di Haramain, karena setelah kewafatan beliau (1990 M), belum muncul lagi sosok ulama besar dari Nusantara yang karirnya cemerlang di Tanah Suci.

Karya pemikirannya lahir lebih dari seratus buah, kesemuanya ditulis dalam bahasa Arab dan mengkaji pelbagai bidang keilmuan Islam, mulai dari ilmu tauhid (teoilogi Islam), fikih (yurisprudensi Islam), ushul fikih (filsafat yurisprudensi Islam), balaghah (retorika), manthiq (logika), hadits, dan utamanya dalam bidang ilmu transmisi intelektual atau ilmu sanad (‘ilm al-asânid wa al-tsabat wa al-ijâzah). Dalam rentang sejarah keilmuan Islam selama kurun waktu 14 abad ini, bisa dikatakan Syekh Yasin Padang adalah orang pertama yang menghimpun karangan ilmu sanad ulama-ulama Islam sepanjang zaman dan dari pelbagai pelosok dunia. Karena ini pulalah, beliau dijuluki “musnid al-dunyâ”.

Salah satu karya terpenting Syekh Yasin Padang dalam bidang “ilmu sanad” ini adalah kitab “al-‘Iqd al-Farîd min Jawâhir al-Asânid”. Kitab ini menghimpun kumpulan sanad ulama-ulama Nusantara. Dalam konteks kajian sejarah peradaban dan keilmuan Islam Nusantara, tentu kitab ini memiliki kedudukan yang sangat penting dan istimewa, karena dalam kitab inilah jejaring dan genealogi intelektual para ulama Nusantara dapat terlacak dan terbaca dengan sangat jelas dan runut.

Saya mendapatkan naskah kitab ini dari sahabat saya, al-Fadhil Nanal Ainal Fauz, kiyai muda yang aktif mengkurasi karya-karya ulama Nusantara dan mendigitalisasinya, sekaligus salah satu pendiri Komunitas dan Yayasan Turats Ulama Nusantara di tahun 2016 lalu. Naskah tersebut bertebal 152 halaman dengan format cetak batu (litografi).

Tidak ada kolofon yang menginformasikan kapan kitab ini secara pasti ditulis. Naskah “al-‘Iqd al-Farîd” yang saya dapatkan adalah naskah versi cetakan “Dâr al-Saqqâf” Surabaya (Jawa Timur), dengan titimangsa cetak bulan Rajab tahun 1401 Hijri (Mei 1981 Masehi). Besar kemungkinan kitab ini ditulis pada tahun yang sama dengan tahun percetakannya. Tertulis pada halaman akhir kitab;

تم بحمد الله في شهر رجب الفرد سنة 1401 هـ // طبع هذا الكتاب // بدار السقاف للطباعة والنشر والتوزيع// ص.ب. 127// سرابايا – إندونيسيا

(Telah selesai dengan memuji kepada Allah, pada bulan Rajab tahun 1401 Hijri, mencetak kitab ini, pada percetakan Dâr al-Saqqâf, po box 127 Surabaya, Indonesia).

Pada halaman kedua naskah ini, didapati tulisan tangan Syekh Yasin Padang dalam bahasa Arab bercorak Riq’î, menyatakan jika beliau telah meriwayatkan dan menghijazahkan (melisensikan) kitab ini kepada al-Mukarram KH. Sahal Mahfuzh (Kajen, Pati, w. 2014), mantan ketua umum MUI dan Rois ‘Am PBNU. Tertulis di sana;

وبعد. فقد أجزت بما في هذه الرسالة المسماة بالعقد الفريد من جواهر الأسانيد وبسائر مروياتي أخانا في الله الأستاذ الشاب سهل محفوظ حاجين فاطي. وأوصي نفسي وإياه بالتقوى في السر والنجوى وأرجوه أن لا ينساني من صالح دعواته في خلواته وجلواته. قاله وكتبه بيده خويدم الحديث والإسناد راجي عفو ربه علم الدين أبو الفيض محمد ياسين بن محمد عيسى الفاداني المكي. 18/ 12/ 1401.

(Aku telah memgijazahkan semua kandungan risalah ini yang bernama “al-‘Iqd al-Farîd min Jawâhir al-Asânîd” dan semua kitab-kitab yang diriwayatkan olehku, kepada saudaraku di jalan Allah, seorang Ustadz Muda, Sahal Mahfuzh dari Kajen Pati. Aku berwasiat kepadanya dan kepada diriku agar senantiasa bertakwa dalam keadaan ramai dan sepi, dan aku berharap darinya agar tidak melupakanku dalam doa-doa kebaikannya, dalam khalwat dan jalwatnya. Telah mengatakan dan menulis akan hal ini dengan tangannya sendiri, pelayan kecil atas hadits dan ilmu sanad, seseorang yang mengharapkan ampunan tuhannya, ‘Ilmuddîn, Abû al-Faidh, Muhamamd Yâsîn ibn Muhammad ‘Îsâ al-Fâdânî al-Makkî. Tertanggal 18/12 [?]/ 1401 Hijri).

Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa kitab “al-‘Iqd al-Farîd min Jawâhir al-Asânîd” ini menghimpun sanad keilmuan ulama-ualam Nusantara. Pada halaman 4 (empat), bab sanad kitab-kitab hadits, entri sanad kitab hadits “Shahîh Bukhârî” (al-Jâmi’ al-Shahîh), didapati sanad keilmuan yang diriwayatkan oleh Syekh Yasin Padang dari jalur sanad ulama-ulama Nusantara sebagai berikut;

أرويه عن العلامة المتفنن الكياهي باقر بن نور الجوكجاوي ثم المكي والعلامة المعمر الكياهي أحمد بيضاوي بن عبد العزيز اللاسمي والشيخ عمر بن حمدان المحرسي محدث الحرمين الشريفين
ثلاثتهم عن الإمام المحدث الحافظ الكياهي محفوظ بن عبد الله لترمسي (ثم المكي)
عن أبيه الكياهي عبد الله بن عبد المنان الترمسي
عن أبيه الكياهي عبد المنان بن عبد الله بن أحمد الترمسي
عن العلامة المعمر الشيخ عبد الصمد بن عبد الرحمن الآشي الشهير بالفلمباني نزيل مكة
(ح)
وأرويه أيضا عن العلامة الكياهي عبد المحيط بن يعقوب فانجي السيدارجاوي السرباوي ثم المكي، والعلامة ىالمعمر فوق المائة السيد علي بن علي الحبشي المدني
كلاهما عن الكياهي عمر بن صالح السماراني نزيل مكة
عن أبيه صالح بن عمر السماراني
عن المعمر الشيخ عبد الصمد بن عبد الرحمن الفلمباني
(ح)
وأرويه أيضا عن العلامة الشيخ علي بن عبد الله البنجري المكي، والعلامة الشيخ خالد المخلاني الزبيدي
كلاهما عن المسند الحافظ الشيخ زين الدين بن بدوي الصومباوي ثم المكي
عن الشيخ عبد الكريم السنبسي
(ح)
وأرويه عن الشيخ عبد الكريم بن أحمد الخطيب بن عبد اللطيف بن محمد بن علي بن أحمد المنكاباوي المكي الكتبي بباب السلام
عن أبيه العلامة الشيخ أحمد بن عبد اللطيف الخطيب المنكاباوي نزيل مكة 
قال هو والشيخ عبد الكريم السنبسي: أخبرنا به العلامة المعمر الكياهي نووي بن عمر بن عربي البنتني ثم المكي
عن الشيخة فاطمة بنت عبد الصمد الفلمبانية 
عن أبيها المعمر الشيخ عبد الصمد بن عبد الرحمن الفلمباني
عن المسند الحافظ المعمر فوق التسعين الشيخ عاقب بن حسن الدين بن جعفر الفلمباني السومتري نزيل المدينة المنورة
عن عمه طيب بن جعفر الفلمباني
عن أبيه العلامة جعفر بن محمد بن بدر الدين الفلمباني
عن المحدث المسند الكبير الشمس محمد بن علاء الدين البابلي المصري الشافعي نزيل مكة وقتا
عن علي بن يحي الزيادي
عن علي بن عبد الله الحلبي 
عن شيخ الإسلام الشافعي زكريا بن محمد الأنصاري
عن الحافظ شهاب الدين أحمد بن علي بن حجر العسقلاني
عن البرهان إبراهيم بن أحمد التنوخي
عن المعمر أبي العباس أحمد بن أبي طالب الحجار الدمشقي الصاحي
عن السراج الحسين المبارك الزبيدي
عن أبي الوقت عبد الأول بن عيسى السجزي الهروي
عن أبي الحسن عبد الرحمن بن مظفر الداوي
عن أبي محمد عبد الله بن حموية السرخسي
عن أبي عبد الله محمد بن يوسف بن مطر الفربري
عن جامعه أمير المؤمنين في الحديث الإمام الحافظ الحجة أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي

Thursday, April 27, 2017

Ziarah ke Tebuireng, Dubes Inggris Puji Peran Pesantren dalam Perdamaian

Jombang,
Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik menilai, bangsa Indonesia lebih berhasil mengelola risiko munculnya ektremisme dan radikalisme dibanding negara-negara lain di dunia. Keberhasilan itu, menurut dia, tidak terlepas dari keberadaan Pancasila sebagai ideologi nasional serta peran lembaga keagamaan seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan kalangan pesantren. 

Hal itu diungkapkan oleh dubes Muslim pertama dari Kerajaan Inggris itu saat berkunjung ke Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/4/2017). Dalam kunjungan tersebut, Moazzam diterima langsung oleh pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) di Dalem Kasepuhan Tebuireng.

Didampingi Country Director British Council Indonesia Paul Smith, pria berdarah Pakistan ini berharap, komunitas pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan Muslim di Inggris bisa saling bekerja sama dan berbagi pengalaman untuk mengatasi ekstremisme dan radikalisme.

"Saat ini, di Inggris ada tiga juta jiwa penduduk beragama Islam. Kira-kira lima persen dari total penduduk Inggris. Mereka masih punya hubungan yang erat dengan negara asalnya. Tapi, negara asalnya sering didera konflik dan masalah-masalah lain, seperti ekstremisme dan kemiskinan," ujarnya.

Karena itu, pria yang ditugaskan menjadi duta besar di Indonesia, ASEAN dan Timor Leste ini merasa perlu untuk berkunjung ke beberapa pesantren ternama di Jawa Timur. Sebelum ke Tebuireng, Moazzam juga berkunjung ke Pesantren Gontor Ponorogo dan Pesantren Lirboyo Kediri.

"Selama 2,5 tahun, saya hanya mendengar tentang Pesantren Tebuireng yang punya peran sangat penting dalam sejarah Indonesia, dan saya yakin akan punya peran penting untuk masa depan Indonesia ke depan. Jadi, saya di sini untuk mempelajari dan melihat bagaimana Indonesia bisa lebih berhasil (mengatasi ekstremisme dan radikalisme)," ujarnya.

Ke depan, pihaknya berharap dapat membantu kalangan santri dalam meningkatkan kemampuan komunikasi dalam bahasa Inggris. "Saya berpikir, salah satu keperluan ke depan adalah berkomunikasi dengan teman-teman di luar negeri. Karena semua masalah seperti ekstremisme dan radikalisme sudah melintasi batas negara, maka solusinya juga harus melintasi batas negara," ungkapnya.

Menurut penggemar klub sepak bola Liverpool ini, pengalaman Indonesia sebagai negara yang beragam, demokratis dan maju, akan jauh lebih berguna bagi umat Islam di Inggris jika santri bisa berkomunikasi langsung dengan umat Islam di sana. Hal itu diharapkan menjadi jendela pembuka wawasan kaum santri agar dapat melihat kehidupan Muslim dan nonMuslim di Inggris. Begitu juga sebaliknya. 

Muslim Inggris sudah melihat gaya hidup dan budaya masyarakat Muslim Somalia atau Pakistan. Dengan melihat budaya Muslim Indonesia, dia berharap akan dapat menyebarkan lebih luas tentang pengalaman tersebut di negaranya. "Jadi, kami ingin mempererat hubungan antara pesantren dengan sekolah-sekolah di sana," tegasnya.

Secara berkelakar, pecinta olahraga kriket ini menuturkan, Indonesia beruntung karena posisinya secara geografis sedikit jauh dari negara-negara Arab. "Karena sedikit jauh, trend ekstrem yang muncul di Timur Tengah dan sudah menyebar ke mana-mana, jaraknya masih jauh. Sudah masuk, tapi kelompoknya masih terlalu kecil. Saya kira Indonesia bisa mengendalikan," tandasnya.

Tapi dia mengingatkan bahwa Indonesia juga harus waspada terhadap ancaman dan resiko ektremisme. "Ada kelompok-kelompok radikal di sini. Ada perdebatan keras juga. Jadi harus waspada," pesannya.

Meski demikian, dia yakin para pemimpin politik, agamawan dan lembaga-lembaga keagamaan seperti Pesantren Tebuireng telah mengambil peran sangat penting untuk menjaga kerukunan dan perdamaian Indonesia. "Juga memastikan kemajuan ke depan, baik untuk umat Muslim maupun nonMuslim," pungkasnya.

Dalam kunjungan tersebut, Moazzam juga menyempatkan diri berziarah ke makam KH Muhammad Hasyim Asy'ari, KH Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Didampingi Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz dan Nyai Hj. Farida Salahuddin, Moazzam tampak antusias menyimak penjelasan tentang sosok para tokoh yang dimakamkan di Kompleks Pesantren Tebuireng itu.

Tips Rumah Tangga Langgeng Dunia - Akhirat

Dalam setiap acara pernikahan bisa dipastikan adanya sebuah doa yang diucapkan untuk kedua mempelai; semoga sakinah mawadah wa rahmah. Sebuah doa yang dimaksudkan agar keluarga dan rumah tangga yang dibangun oleh kedua mempelai selalu berada dalam kondisi ketenangan penuh cinta dan kasih sayang di antara suami istri dan setiap anggota keluarga lainnya.

Ada lagi satu doa yang sering dipanjatkan pada setiap acara pernikahan di lingkungan masyarakat suku Jawa. Doa ini biasanya diucapkan oleh sang pembawa acara dengan kalimat “semoga langgeng sampai kaken-kaken ninen-ninen”. Artinya berharap keluarga dan rumah tangga yang dibangun oleh kedua mempelai diberi kelanggengan sampai keduanya lanjut usia menjadi kakek dan nenek.

Ya, siapa pun pasti berharap tali pernikahan yang diikat untuk sekali seumur hidup, tak pernah putus di tengah jalan. Siapa pun pasti berkehendak ikatan suami istri yang dilakoninya akan terus berlanjut sampai ajal menjemput. Keluarga dan rumah tangga yang dibangun menjadi keluarga yang tenang, tenteram, penuh kasih sayang di antara sesama anggota keluarga sampai dengan semuanya dipisahkan oleh kematian.

Bila kita mau membaca dan memahami ajaran Al-Qur’an dengan seksama semestinya kelanggengan dan kebahagiaan berkeluarga yang ditawarkan oleh Islam tidaklah sebatas sampai kematian memisahkan semuanya. Islam justru menawarkan kelanggengan dan kebahagiaan berkeluarga yang abadi sejak masih di dunia hingga di akhirat kelak.

Di dalam Al-Qur’an Surat At-Thur ayat 21 Allah menyatakan:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ 

“Orang-orang yang beriman dan keturunan mereka mengikutinya dengan keimanan maka Kami pertemukan mereka dengan keturunannya dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari amal mereka.”

Dengan ayat tersebut, sebagaimana dijelaskan berbagai kitab tafsir, Allah ingin memberitahukan perihal anugerah, kasih sayang dan kebaikan-Nya kepada para hamba-Nya. Bahwa orang-orang mukmin bila anak keturunannya ikut beriman kepada Allah maka Allah akan mempertemukan anak-anak keturunan itu dengan orang tuanya pada satu tempat dan derajat yang sama yakni surga, meskipun para anak keturunan tersebut tidak melakukan amalan yang mencapai derajat sebagaimana yang dicapai orang tuanya. Perlakuan ini diberikan oleh Allah untuk memuliakan para orang tua yang mukmin itu agar mereka merasa bahagia dapat berkumpul kembali dengan anak-anaknya.

Lebih jauh dari itu Imam Ahmad As-Shawy meriwayatkan bahwa kelak ketika seorang ahli surga telah memasuki surga ia akan menanyakan keberadaan orang tua, istri dan anak-anaknya. Kepadanya diberitahukan bahwa mereka tidak mendapatkan apa yang didapatkan oleh si ahli surga tersebut. Maka ia berkata kepada Allah, “Saya beramal untuk diri saya dan juga untuk mereka.” Maka dengan anugerah dan kemurahan Allah mereka yang derajatnya lebih rendah diangkat untuk dipertemukan dengan ahli surga yang derajatnya lebih tinggi.

Apa yang diberitakan Al-Qur’an di atas adalah sebuah kebenaran yang pada saatnya nanti akan terjadi. Sebuah keluarga besar, setelah sekian tahun lamanya dipisahkan oleh kematian, di akhirat kelak bisa kembali bertemu dan berkumpul pada satu tempat yang mulia dengan catatan setiap anggotanya memiliki keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Untuk itu semestinya setiap pasangan pengantin yang baru membangun rumah tangga semestinya tidak hanya memiliki keinginan terwujudnya rumah tangga yang langgeng di dunia tanpa perceraian, namun lebih dari itu mesti bercita-cita agar keluarganya akan tetap langgeng dan terus hidup bersama bukan saja di dunia tapi juga di akhirat kelak.

Karenanya usaha-usaha untuk menjaga dan melestarikan keimanan yang dimiliki oleh setiap anggota keluarga menjadi wajib dilakukan sebagai modal utama demi terwujudnya keluarga sakinan yang langgeng dari dunia hingga akhirat. 

Referensi:
Tafsir Jalalin, Imam Jalaludin Al-Mahali dan Jalaludin As-Suyuthi
Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim, Imam Ibnu Katsir
Hasyiyah As-Shawi, Imam Ahmad As-Showy

Waspada 5 Strategi Licik Islam Radikal Kuasai Indonesia

Dalam riset yang diterbitkan bentuk buku berjudul Wajah Para Pembela Islam (2010), Setara Institute Jakarta menyebutkan bahwa berbagai kelompok Islam radikal telah menyusun strategi dan taktik yang lebih canggih dalam pergerakan mereka. Pernah dimuat Harian Bernas pada 5 Agustus 2016.

Ini bertujuan juga untuk menghancurkan kelompok Islam lainnya. Memahami strategi dan taktik kaum radikal ini sangat penting agar pemerintah, para ulama, organisasi,  serta masyarakat secara umum waspada akan gerakan mereka. Strategi tersebut adalah:

1. Aliansi Politik
Kelompok radikal membangun dukungan politik dengan politisi atau penguasa. Biasanya saat ada momen politik pemilu atau pilkada. Ada hubungan simbiosis mutulisme dalam aliansi ini. 

2. Cari Dukungan dari Tokoh dan Ormas Islam Moderat
Dikarenakan jumlahnya sedikit, maka kelompok intoleransi tersebut membangun hubungan dengan tokoh agama atau ormas yang moderat. Mereka mengembangkan berbagai taktik, di antaranya adalah aktif melobi tokoh dan para habib serta berbagai ormas Islam untuk berjuang bersama-sama mereka. 


3. Infiltrasi MUI
Sejak tahun 2005, kelompok radikal memandang memerlukan dukungan lembaga ulama yang memiliki otoritas tertinggi di Indonesia (MUI).  Taktik yang dipakai adalah masuk menjadi pengurus ke MUI dan mendesakkan agenda radikal mereka atas nama MUI.

4. Aksi Hukum dan Aksi Jalanan
Belakangan ini, kelompok Islam radikal mengembangkan strategi advokasi yang memadukan advokasi non-litigasi (di luar pengadilan) dengan advokasi litigasi (lewat pengadilan). Mereka tampaknya sadar bahwa tanpa sokongan produk hukum, perjuangan mereka akan sulit berhasil. Namun, mereka juga sadar bahwa untuk menghasilkan sebuah produk hukum yang pro agenda
perjuangan mereka, diperlukan aksi-aksi jalanan agar bisa menekan aparat hukum dan pemerintah. 

5. Jaringan Aksi Antarkota
Sudah sejak lama kelompok Islam radikal sudah mengembangkan strateg membangun jaringan aksi. Mereka berusaha agar setiap aksinya didukung oleh kelompok lainnya. Tujuannya agar isu yang diperjuangkan menjadi lebih kuat gaungnya dan bisa menjadi agenda perjuangan bersama.
Mereka berpikir, dengan semakin bergaungnya aksi, dan makin banyaknya kelompok lain yang memperjuangkan, akan makin besar [ula kemungkinannya untuk berhasil. Oleh karena itu, kelompok ini membangun taktik jaringan aksi antarkota. 

Silakan dianalisis tulisan di atas, hubungkan saja dengan kejadian saat ini, apakah ada kesesuaian atau tidak. Fenomena kasus penistaan agama di Jakarta hanyalah salah satu tragedi politik kotor yang dimainkan oleh beberapa kelompok radikal untuk terus tetap bergema. 

Gaungnya akan terus dipelihara dengan berbagai aksi untuk mendapatkan simpati dari kelompok masyarakat Islam lainnya. Tema penistaan agama, ancaman PKI, ancaman Syiah adalah isu yang "marketable" untuk meraih simpati masyarakat.

Tuesday, April 25, 2017

Gus Mus: Banyak yang Ngaku Ulama, Tapi Perilakunya Tidak Tepat

 
Semarang,
Shalat menjadi hadiah terbesar bagi umat Islam. Peristiwa Isra' Mi'raj menjadi titik balik bagi kaum Muslim untuk menjalankan ibadah kepada Allah. Dalam peringatan Isra' Mi'raj yang dibarengkan dengan Khotmil Qur'an Pondok Pesantren Al-Aziziyah Beringin, Semarang, Jawa Tengah, Senin (24/4) ini, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) hadir untuk memberikan mauidhoh hasanah.

Gus Mus menerangkan, pengertian ulama bisa diartikan dari bahasa Arab dan Indonesia. Kedua hal ini berbeda secara makna. Konteks yang melatarbelakangi kata ini pun akan lain. Kata ulama tak bisa diartikan secara langsung dengan kata kiai. Ulama itu bukan terjemahan dari kiai.

"Ulama adalah produk masyarakat, mengenali masyarakat dan masyarakat tahu persis track record ulama tersebut," papar Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang ini.

Menurutnya, banyak yang mengaku ulama, akan tetapi tak pantas menyandangnya karena keilmuan dan perilakunya tidak tepat dengan peran dan tugasnya sebagai ulama. Secara sanad keilmuan, tak jelas menganut kepada siapa. Keilmuan tak dapat secara instan. Kadang mereka hadir tanpa diketahui masyarakat rekam jejaknya seperti apa.

"Kiai memiliki pandangan yandzhuruna ilal ummah bi ainir rahmah (melihat umat dengan pandangan kasih sayang)," tambah alumni pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Inilah yang membedakan antara kiai dan ulama pada masa sekarang. Kiai merupakan ciri khas (istilah) bagi masyarakat Jawa. Benda-benda yang dihormati dinamakan dengan kiai. Secara tak langsung kiai adalah orang yang dihormati.

Selain itu, harapan besar Gus Mus bagi mutakharrijin (alumni) yang telah diwisuda ini menjadi ahli Qur'an. Setelah hafal kemudian masuk dalam tingkatan memahami dan mengerjakan apa yang termaktub di dalamnya. “Hafal merupakan fase awal,” tegasnya.

Sebagaimana Nabi Muhammad dahulu, tandas Gus Mus, perangainya Al-Qur'an. Masyarakat atau sahabat cukup dengan melihat tingkah lakunya saja. Nabi telah mengerjakan terlebih dahulu apa-apa yang akan diperintahkan kepada umat Islam. 

Greg Barton Berharap Muktamar Lahirkan Sosok seperti Gus Dur

Surabaya, 
Prof Greg Barton, pengamat NU dari Australia, pengajar di Monash University Australia, dan penulis buku Biografi Gus Dur berharap besar pada Muktamar ke-33 NU di Jombang akan melahirkan sosok tokoh seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pernyataan itu disampaikannya sesaat setelah acara seminar Internasional di GreenSA Juanda, Rabu.

Gus Dur dikenal sebagai seorang putra kiai dari Pesantren Tebuireng, kakeknya adalah pendiri Nahdlatul Ulama. "Itulah kalau kita melihat sekilas tentang Gus Dur," kata Greg Barton.

Dunia mengakui kalau Gus Dur adalah pemimpin yang memiliki kharisma dan intelektual yang tinggi. "Saat ini tidak ada tokoh seperti Gus Dur, seorang pemikir yang lahir dari NU," lanjutnya.

Nahdlatul Ulama dikenal sejak tahun 1984 pasca Muktamar NU ke-27 di Situbondo sampai ke pelosok dunia. Semua itu tidak lepas dari kepemimpinan KH Ahmad Siddiq dan Gus Dur yang mampu mengubah NU kembali ke khittah 1926. 

"Saya yakin 10 atau 20 tahun lagi akan lahir tokoh seperti Gus Dur, semua itu ada pada generasi muda NU," jelas pria pengagum Gus Dur itu.

Pengganti Gus Dur, imbuhnya, akan muncul lebih cepat jika Muktamar nanti disemarakkan oleh pemuda yang penuh dengan optimisme. Kalau tidak, maka ada indikasi lamanya sosok Gus Dur muncul kepermukaan.