Saturday, September 25, 2010

Tasawuf : Satu Jalan Menuju Tuhan

 Dalam pandangan banyak orang tasawuf dianggap sebagai ajaran yang meninggalkan dunia dan anti ilmu pengetahuan, tasawuf seperti ini bukanlah tasawuf yang sebenarnya, tapi sebuah pseudosufisme, tasawuf bohongan. Pseudosufisme ini amat terlihat pada orang-orang yang mengambil bagian-bagian tasawuf untuk kepentingan diri atau kelompoknya. Tanpa menyebut sebagai penganut tasawuf ada orang-orang tertentu yang bersufi-sufian dengan mengambil zikir dan doanya saja. Wirid-wirid digunakan untuk menentramkan keresahan batin, obat penenang untuk melupakan kemaksiatan yang terus-menerus dilakukannya, atau untuk "menipu" masyarakat/ummat dengan berkedok kesalehan artifisial.

Sebenarnya istilah tasawuf sampai sekarang ini tidak jelas asal-usulnya, , karena istilah tasawuf ini tidak ada di dalam Al-quran dan hadits-hadits Nabi SAW. sehingga sebagian orang Islam sendiri menolak ajaran tasawuf ini sebagai bid'ah yang dibuat-buat Kata tasawuf ini memang tidak terdapat dalam Alquran dan hadits-hadits nabi, tetapi kalau kita menolak tasawuf karena tidak tertulis di dalam Alquran dan hadits, maka tidak sedikit istilah dalam ajaran Islam yang juga tidak terdapat dalam Alquran dan hadits misalnya tauhiid sebagai konsep keimanan kita yang istilahnya juga tidak terdapat dalam Alquran dan hadits.

Banyak orang mengklaim dirinya atau diklaim oleh pengikutnya sebagai sufi ternyata hanya sejenis aktor senetron dalam kehidupan beragama. Setiap formula wirid dan doa dipergunakan untuk mengobati apa saja.
Ada banyak definisi tentang tasawuf, Kalau dikumpulkan akan menjadi sebuah buku khusus tentang definisi tasawuf. Saya akan ambil satu saja dari seluruh definisi itu sebuah definisi yang mencakup seluruh definisi tasawuf itu. Menurut Syaikh al-Anshari tasawuf adalah sebuah ilmu untuk mengetahui keadaan berbagai cara mensucikan diri (tazkiyyah an-nufus), membersihkan akhlaq (tazkiyah al-akhlaq), dan cara mengembangkan diri secara lahir dan bathin (ta'miir al-dzohir wa al-bathin), untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi. Jadi al-Anshari mengatakan bahwa isi dari seluruh ilmu tasawuf yang luas itu hanya meliputi tiga hal : 1. Tazkiyyah an-nufus, 2. Tazkiyyah al-akhlaq, dan 3. Ta'mir. Tasawuf yang sebenarnya adalah gaya hidup yang meliputi sikap, pandangan dan tingkah laku. Tasawuf bukan sebuah mekanisme pelarian dari ketidakberdayaan atau jalan sementara dalam mengatasi kesulitan hidup.

Tulisan sederhana ini tidak akan mengantarkan kita kepada pengantar samudera ilmu tasawuf tetapi kita akan langsung memasuki tiga hal tersebut diatas yang selalu dipraktekkan oleh seluruh aliran tasawuf. Kalau anda mendatangi seorang guru dan mulai mempraktekkan ilmu tasawuf maka yang anda lakukan tidak akan terlepas dari tiga hal tersebut; yaitu metode-metode mensucikan diri, metoda-metode membersihkan akhlaq, dan cara-cara mengembangkan kepribadian kita.
Di dalam ilmu psikologi ada cabang psikologi yang khusus mempelajari ilmu perkembangan kepribadian manusia baik sejak masa kanak-kanak, masa dewasa sampai masa tua bahkan sampai masa yang disebut dengan pasca dewasa.(pikun) semuanya dipelajari dalam psikologi perkembangan (developmental psychology) yang dalam ilmu tasawuf disebut sebagai ta'mir.

Dalam psikologi juga belakangan ini berkembang sebuah cabang baru ilmu psikologi, dengan apa yang disebut dengan psikologi pengembangan diri (self improvement psychology). Ada banyak buku yang terbit dan membahas bagaimana cara mengembangkan diri kita menjadi lebih baik, misalnya buku-buku Positive Thingking, bagaimana cara-cara berpikir positif, atau buku 7 habits dari Stephen Covey, buku Memaksimalkan otak pikiran kita dari Tony Buzan, atau misalnya buku yang akhir-akhir ini sangat populer Emotional Intellegence dari Daniel Golemen.
Sebenarnya ilmu self improvement ini juga banyak dibahas dalam ilmu tasawuf. Yang membedakan self improvement psychology dengan tasawuf adalah ilmu psikologi ini hanya mengembangkan diri secara lahiriah dan keberhasilannya diukur dengan ukuran-ukuran lahiriah, misalnya bagaimana bisa diterima dalam pekerjaan, berlaku sopan dihadapan customer, bisa tersenyum dengan baik, bagaimana kita bisa diterima oleh orang lain, dianggap kredibel, atau seperti buku-buku yang bercerita bagaimana agar kita populer dan dicintai oleh orang lain dsb.

Semua ini adalah bentuk-bentuk pengembangan diri secara lahir, Tapi sekali lagi semua perilaku ini adalah perilaku lahiriah (adz-dzohir) semata saja. Sementara tasawuf mengajarkan kepada diri kita bukan saja secara lahiriah tetapi juga secara bathiniah, yang disebut dalam definisi kita ini disebut ta'mirul adz-dzohiiri wal bathiin. Jadi dalam tulisan berikut ini kita akan membicarakan teknik-teknik atau metode-metode dalam tasawuf untuk tiga tujuan di atas tersebut.

Tasawuf sendiri memiliki perbendaharaan ilmu yang sangat luas Ibn Arabi salah seorang sufi besar yang disebut sebagai Syaikhul Akbar dalam tasawuf menulis Futuhatul Makkiyyah . kitab tasawuf yang tebal berjilid-jilid. Imam Al-Ghazali menamakan bukunya Ihyaa Ulumuddin (menghidupkan lagi ilmu-ilmu agama ), Kenapa Al-Ghazali menamakan bukunya demikian ?

Pada jamannya Al-Ghazali melihat bahwa ilmu agama yang ada sebagai ilmu yang mati, agama yang kehilangan ruhnya, orang mempelajari cara-cara shalat sampai terperinci secara fiqih; dimana kita harus meletakkan tangan setelah takbir, bagaimana harus meratakan punggung kita ketika ruku', orang berdebat apakah telunjuk digerakkan sekali, berulang kali atau tidak digerakkan sama sekali ?, dan lain sebagainya. Tapi shalat mereka shalat yang tanpa ruh kata al-Ghazali walaupun ilmunya banyak salatnya tidak dijiwai.

Dari semua itu kita tidak akan memperoleh jawaban jika ditanyai kepada mereka bagaimana cara agar shalat kita menjadi khusyu, bagaimana agar dapat merasakan kehadiran Allah dalam ibadah-ibadah kita, bagaimana saya bisa merasakan lezatnya bermunajat dihadapan Allah Subhanu wa Ta'ala. Sayang semua pertanyaan ini tidak bisa dijawab oleh para ulama di jamannya al-Ghazali waktu itu, karena itu al-Ghazali ingin menghidupkan lagi ilmu-ilmu agama itu, dia ingin memberikannya kembali nyawa, dan menurut al-Ghazali ilmu yang memberi nyawa kepada seluruh ilmu agama itu adalah ilmu tasawuf.

No comments:
Beri komentar