Friday, October 22, 2010

Hadits Khusus Untuk Indonesia

KH. Maemun Zubair dan KH. Abdullah bin Nuh (Jakarta) pernah menyatakan bahwa ada keistimewaan Islam di Indonesia. Kebenaran pernyataan tersebut dapat dianalisis dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan sosial dan pendekatan sejarah.

Dari pendekatan sosial, sebagaimana dikemukakan oleh para ahli sosial-sejarah Islam, bahwa negara atau daerah yang mayoritas muslim dan masih bertahan sampai sekarang adalah hasil dakwah para shahabat, seperti yang ada di Bukhara, Tunis, China bagian Selatan, Turki, Samarkand, Mesir, Maghrabi, dan sebagainya.

Adapun negara atau daerah muslim yang bukan hasil dakwah dari sahabat, maka tidak bertahan sampai sekarang, sebagaimana yang terjadi di Andalusia Spanyol. Konon Andalusia adalah pusat kebudayaan dan peradaban Islam di Spanyol, dengan bukti masjid Cordova dan istana Al-Hambranya yang sangat megah. Namun kini disana bukanlah daearah muslim melainkan daerah yang sangat kental Katoliknya. Dan mungkin benar, karena yang berdakwah di sana adalah Thariq bin Ziyad yang notabenenya bukanlah seorang sahabat melainkan tabi’in.

Namun ternyata, hal tersebut tidak termasuk di Indonesia. Dan inilah yang melatarbelakangi istimewanya Islam di Indonesia.KH. Masduki Lasem, menyatakan bahwa keistimewaan Islam di Indonesia adalah karena yang berdakwah di Indonesia bukan shahabat, namun Islam di Indonesia adalah mayoritas dan sampai sekarang masih bertahan. Dan mungkin juga itu memang betul, karena yang berdakwah di Indonesia adalah langsung dari ahlul bait Nabi dari garis keturunan Isa Al-Muhajir yang berasal dari Hadral Maut-Zaman, bukanlah sahabat, bukan juga tabi’in.

Adapun dari pendekatan sejarah, menurut KH. Maemun Zubair dan KH. Abdullah bin Nuh yaitu adanya hadits khusus untuk Indonesia!!

***
Suatu ketika Nabi bersama para sahabat berjama’ah shalat subuh. Setelah shalat subuh, Nabi bertanya pada para sahabat, "Wahai manusia, Aku ingin bertanya, siapakah yang paling mempesona imannya?"

"Malaikat ya Rasul Allah" hampir semua menjawab.

Dan Nabi menjawab, "Bagaimana mungkin malaikat tidak beriman sedangkan mereka adalah pelaksana perintah Allah."

"Para Nabi, ya Rasul Allah" jawab sahabat serentak.

"Dan bagaimana para Nabi tidak beriman, jika wahyu dari langit langsung turun untuk mereka".

"Kalau begitu, sahabat-sahabat engkau, wahai Rasulullah" pada saat menjawab ini banyak dari sahabat yang mengucapkannya malu-malu.

"Tentu saja para sahabat beriman kepada Allah, karena mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan".

Selanjutnya, setelah para sahabat tidak mampu menjawabnya, sejenak suasana menjadi hening...

Dan suara kekasih Allah itu kembali terdengar. "Yang paling mempesona imannya adalah kaum yang datang jauh sesudah kalian. Mereka beriman kepadaku, meski tak pernah satu jeda mereka memandang aku. Mereka membenarkan ku sama seperti kalian, padahal tak sedetikpun mereka pernah melihat sosok ini. Mereka hanya menemukan tulisan, dan mereka tanpa ragu mengimaninya dengan mengamalkan perintah dalam tulisan itu. Mereka membelaku sama seperti kalian gigih berjuang demi aku. Mereka mencintaiku sebagaimana kalian, meskipun sama sekali mereka tidak pernah menjumpaiku..."

***
Bukankah umat Islam di Indonesia tak pernah satu jeda pun memandang Nabi, namun di antara mereka banyak yang mengimani Nabi? Meskipun kualitas imannya berbeda-beda...

Bukankah mereka (umat Islam di Indonesia) tidak pernah sedetikpun melihat sosok Nabi, namun mereka membenarkannya sama seperti sahabat yang membenarkannya?

Bukankah mereka hanya menemukannya dalam tulisan-tulisan, namum mereka gigih berjuang demi Nabi seperti para sahabat? Meskipun cara berjuangnya sudah berbeda dari para sahabat yang berjuang di medan perang...

Bukankah mereka sama sekali mereka tidak pernah menjumpai Nabi, namun mereka mencintai Nabi sebagaimana para sahabat? Lihatlah di sekitar kita, banyak peringatan maulidun nabi, banyak jama’ah shalawat, jama’ah nariyah, jama’ah Al-Barzanji, Ad-Dibaghi, Simtud-Durar, dan lain sebagainya yang intinya adalah ungkapan rasa cinta kepada Nabi yang merupakan salah satu jalan “Menggapai Ridho-Nya”, jadi alangkah ironisnya jika hal tersebut dibid’ah-bid’ahkan. Wallahu a’lam.

No comments:
Beri komentar