Sunday, October 17, 2010

Keikhlasan

Sikap ikhlas berkaitan erat dengan niat. Niat merupakan keadaan atau sifat yang timbul dalam hati manusia yang menggerakkan atau mendorongnya untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Dengan demikian, niat dan ikhlas merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam melakukan suatu pekerjaan.

Ikhlas adalah melaksanakan suatu perbuatan taat atau ibadah karena menjalankan perintah Allah dan mengharapkan keridhoan-Nya. Sikap ikhlas dalam semua kegiatan, termasuk melaksanakan ibadah, merupakan misi kehadiran manusia di permukaan bumi ini. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan manusia selalu ikhlas dalam beribadah dan dalam melakukan segala aktivitasnya (QS 98: 5).

Sikap ikhlas sangat menentukan kualitas dan nilai ibadah di hadapan Allah. Isyarat ini ditegaskan Rasulullah bahwa ''setiap amal tergantung kepada niat dan seseorang akan dibalas sesuai dengan niatnya''. (HR Bukhari-Muslim).

Kualitas ikhlas seseorang dalam melakukan perbuatan taat dapat diketahui dengan memperhatikan motivasi atau niatnya. Dalam konteks ini, menurut ulama besar Imam Nawawi, niat seseorang dalam beribadah dapat dikategorikan dalam beberapa tingkatan.

Pertama, melakukan suatu perintah atau perbuatan taat karena didasarkan rasa takut kepada Allah dan takut terhadap siksa-Nya. Hal ini dibenarkan karena cukup banyak ayat atau hadis yang mengisyaratkan perlunya rasa takut (khauf) dalam menjalankan perintah Allah dan dalam meninggalkan larangan-Nya. Ibadah seperti ini biasanya dilakukan oleh orang yang bertipe hamba sahaya.

Kedua, melakukan kewajiban agama karena dilandaskan oleh upaya mencari keuntungan. Keuntungan yang dimaksud adalah balasan pahala dari Allah dan mendapatkan surga yang dijanjikan-Nya. Sikap seperti ini dibolehkan juga dalam beribadah. Cukup banyak ayat Alquran dan Hadis Nabi yang membenarkan sikap seperti ini.

Ketiga, melaksanakan ibadah dan perintah Allah karena rasa malu kepada Allah, semata-mata menjalankan perintah-Nya, sebagai manifestasi dari syukur kepada-Nya dan disertai oleh perasaan bahwa dirinya rendah di hadapan Allah, serta hatinya dipenuhi rasa rindu (raja' )kepada Allah SWT. Inilah tipe ibadah yang dilakukan orang yang mengharapkan keridhoan Allah.

Ini juga merupakan kualitas ikhlas tertinggi sebagaimana yang diisyaratkan Rasulullah SAW ketika ditanya oleh Aisyah RA, ''Ya Rasulallah, mengapa engkau selalu melaksanakan shalat malam hingga kakimu menjadi lecet? Bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan akan datang?''

Rasulullah SAW menjawab, ''Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang pandai bersyukur kepada Rab-ku. ''Dengan demikian, kualitas ikhlas tertinggi dibuktikan oleh niat seseorang dalam beribadah dengan semata-mata mengharapkan keridhoan Allah yang disertai rasa syukur dan rindu kepada-Nya.

Berbahagialah bagi orang-orang yang diberi kenikmatan tidak ingin dipuji dan tidak ingin dihormati orang lain. Rasullulah SAW bersabda: "Barangsiapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah , maka Allah yang akan menyempurnakan hubungannya dengan manusia lainnya " (HR Al - Hakim).

Salah satu ciri seseorang yang ikhlas adalah " jarang kecewa terhadap makhluk", karena yang diharapkannya hanya keridhoan Allah SWT. Lalu apa ciri seseorang yang banyak kecewa terhadap makhluk? yakni dirinya banyak berharap kepada makhluk.

Ikhlas itu adalah pekerjaan hati. Kalau ada pertanyaan, bolehkah amal kita diperlihatkan kepada orang lain? Jawabannya adalah tergantung niat, kalau niatnya ingin dipuji tentu itu menjadi riya. Tetapi dilandasi niat supaya orang lain mengikuti amal kita, Insya Allah kita akan mendapatkan pahala yang sama tanpa mengurangi pahala yang bersangkutan.

Seorang sahabat berkata kepada Rasullulah SAW, “Ya Rasulallah, ada seseorang melakukan amal kebaikan dengan dirahasiakan dan bila diketahui orang dia juga menyukainya atau merasa senang”. Rasullulah SAW bersabda, “baginya dua pahala yaitu pahala dirahasiakannya, dan pahala terang-terangan” (HR At-Turmudzi)

Jadi terang-terangan itu tidak identik dengan riya. Tidak boleh kita berburuk sangka kepada orang yang menceritakan ilmu , pengalaman dan amalnya. Suatu pujian boleh jadi merupakan kebutuhan standar kita, perbedaannya yakni ada yang hanya ingin dipuji manusia dan itulah yang membuat kita kurang ikhlas dan ada yang bisa dialihkan cukup ingin dipuji Allah SWT. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus (Q.S: Al-Bayyinah/98:5).

Ikhwan wa akhwat, marilah kita belajar untuk terus meningkatkan ketakwaan kita, jangan berselera mencari pujian, penghargaan dan penilaian makhluk ,tetapi puaskanlah mencari pujian dari Allah SWT , menggapai ridho-Nya. Semoga hati kita senantiasa dihiasi dengan rasa keikhlasan, amiin. Wallahu a’alam bish-shawwab.

No comments:
Beri komentar