Wednesday, October 6, 2010

Mencari Surga

Dan butiran pepasir itu pun menangis saat rintihan Yasir bergelung di langit menahan pedihnya siksaan. Langit mendung tak kuasa menahan murungnya ketika Sumayyah merapatkan kedua bibirnya, sesaat kemudian gerigi atasnya mencengkeram kuat-kuat bibir bawahnya. Setetes air mata tak nampak dari sudut matanya meski ribuan tetes darah menghiasi nyaris seluruh raganya. Satu persatu nafas Yasir dan Sumayyah meninggalkan jasad ringkihnya, senyum kemenangan kedua orangtua sahabat Amr bin Yasir itu melambaikan tangan menyambut panggilan lembut para bidadari Surga. Beberapa hasta dari dua jasad mewangi itu, seorang pemuda belia tengah menghadapi maut untuk menapaki langkah-langkah kedua orangtuanya. Bibirnya bergetar dengan tak henti menyebut nama agung Tuhannya. Ya, Amr bin Yasir, meski sebagian orang sempat meragukan keimanannya, di kemudian hari ia justru menjadikan dirinya sebagai tameng Rasulullah di berbagai kesempatan.

Menjelang perang Uhud dimulai, bersama suaminya, Zaid bin Ashim dan kedua putranya, Habib dan Abdullah, ia keluar ke bukit Uhud. Lalu Rasulullah Saw bersabda kepada mereka, "Semoga Allah memberikan berkah kepadamu semua." Setelah itu perempuan bidadari perang Uhud itu berkata kepada beliau, "Berdo'alah kepada Allah semoga kami dapat menemani engkau di surga kelak, ya Rasulullah!" Lalu Nabi Saw berdo'a, "Ya Allah jadikanlah mereka itu teman-temanku di Surga." Maka perempuan itupun berkata lantang, "Aku tidak akan mempedulikan persoalan dunia menimpa diriku."

Dialah Ummu Amarah, Nusaibah binti Ka'ab Al Maziniay. Rasulullah menobatkannya sebagai bidadari surga karena perannya membela Rasulullah saat pasukan muslimin terdesak pada perang Uhud. Bersama Mush'ab bin Umair -yang kemudian menemui syahid setelah mendapatkan puluhan tusukan di tubuhnya- Nusaibah menghadang Qam'ah, orang yang dipersiapkan membunuh Rasulullah dalam perang tersebut. Dua belas tusukan dan salah satunya mengenai leher Nusaibah. Bilah-bilah pedang yang satu persatu menghujam tubuhnya, ujung-ujung cadas tombak, dan barisan anak panah yang menghias tubuhnya, dirasainya sebagai sentuhan lembut para penghuni Surga. Darah mengalir dari setiap inci tubuhnya, air matanya menjadi saksi tak terbantahkan untuk memuluskan jalannya ke surga Allah. Dan debu bukit Uhud pun terharu menerima dentuman tubuhnya, tak henti-hentinya milyaran debu itu bersaksi akan harumnya wangi surga dari tubuh perempuan mulia itu.

Adalah Mush’ab bin Umair, aroma mewangi sudah tercium persis di depan hidung meski pemuda tampan itu masih berada puluhan meter jauhnya. Pakaiannya terbaik, terbagus dan termahal dari yang pernah dimiliki siapapun di tanah Makkah. Ketampanannya tak terkira, siapa memandang pasti terpesona, bahkan para lelaki pun iri. Siapa yang tak mengenalnya, pemuda perlente anak seorang bangsawan yang kesohor. Tetapi bukan itu yang membuatnya tercatat dalam sejarah manusia mulia pengikut Muhammad. Begitu terucap dari mulut wanginya kalimat Syahadat, bertambah wangi lah setiap sisi rongga mulutnya, wajah yang tampan semakin bersinar penuh cahaya kemuliaan meski tak lagi ia mengenakan gamis kebangsawanan, walau ia menanggalkan semua atribut yang menjadi simbol-simbol kebesaran. Mush’ab tetap tampan, kharismatik, dan menjadi teladan bagi pemuda dan remaja dimasanya, terlebih saat ia dipercaya sebagai duta pertama Rasulullah ke Madinah. Cita-citanya untuk tetap bersama Rasulullah di Surga kelak, di amin-kan oleh seluruh isi langit dan bumi, karena seorang pemuda kaya raya nan tampan itu syahid dengan tubuh penuh lubang dan sayatan. Ia menjadi tameng Rasullullah pada perang Uhud. Meski darah dan debu membaluti wajah dan tubuhnya, siapa yang bisa melepaskan bayang-bayang kharismanya?

Ada seorang budak hitam legam berasal dari Negeri Habasyah (Negeri Ethiopia yang yang hingga kini terus dicengkeram kelaparan). Bertahun-tahun menjadi budak, diinjak-injak, dicaci, diludahi, bahkan dihalalkan darahnya untuk dibunuh oleh sang majikan. Namun Allah mengangkat derajat Bilal bin Rabbah dengan Islam. Hidayah Allah justru turun kepada manusia yang dihinakan oleh manusia lainnya, budak hitam yang orang mensebandingkan hitamnya seperti pantat kuali itu, sesungguhnya putih berseri serta memancarkan kemilauan di mata Allah, Rasulullah dan orang-orang beriman. Saat sang majikan, Suhail, menindihkan batu besar dan panas diatas tubuh budak itu, hanya kata, “Ahad, Ahad …” yang keluar dari mulutnya hingga kemudian seorang sahabat membebaskannya. Jika boleh dan bisa batu itu berbicara, mungkin ia akan berteriak lantang menolak menindih tubuh mulia itu, atau bahkan memilih hancur berkeping-keping ketimbang harus menjadi perantara tangan Suhail untuk menyentuh kulit kasar namun indah itu. Adakah alasan surga tak menginginkan budak hitam ini menjadi salah satu penghuni terhormatnya?

***

Dan batu-batu pun iri, debu pun menangis, para cemeti itu menjadi cermin keikhlasan. Bilah-bilah pedang menampung tetes air mata dan darah yang kelak sebagai pemulus jalan membentang menuju surga, bahkan ujung tombak dan mata anak panah bersaksi, betapa orang-orang itu mulia karena perjuangan dan keteguhannya. Mereka tak pernah mencari surga, karena justru surga betul-betul menanti mereka untuk menyinggahi setiap singgasananya, mengarungi riak-riak sungai kautsar yang diatasnya berbagai buah segar dan menawan menanti untuk dinikmati. Tak lupa, bidadari-bidadari cantik nan bermata jeli, membuka tangannya menyambut kehadiran manusia-manusia yang seluruh penghuni langit memujinya.

***

Berjalan di muka bumi, sama dengan berjalan diatas batu kerikil tajam yang setiap saat akan siap menghunus telapak kaki ini. Jika tak lengkapi diri dengan kesiapan dan ketahanan yang luar biasa, tentu takkan jauh jalan yang bisa ditapaki. Hidup pasti akan selalu beriringan dengan kesulitan, tetapi tak pernah Allah menciptakan kesulitan tanpa diciptakannya pula pintu keluarnya. Bukan maksud Allah membuat sulit hidup manusia, karena Allah juga memberikan petunjuk-petunjuknya. Tapi sekali lagi, mengikuti petunjuk itu pun bukan tanpa cobaan. Hanya dengan keteguhan dan perjuangan, semua akan bermuara pada kebahagiaan. Masalahnya, sedikit sekali dari kita yang kuat bertahan pada cobaan. Adakah butir-butir debu yang menangis karena melihat kesungguhan perjuangan hidup kita? Ah, nampaknya justru kita lah yang terlalu cengeng.

Tidak jarang, untuk meniti jalan kebenaran, teramat banyak pengorbanan yang mesti dilakukan. Tetapi dasar manusia, lebih banyak promosi dan koarnya ketimbang pengorbanannya yang belum seberapa, padahal kita sama sekali belum diuji. Belum, bahkan belum tiba ujian sesungguhnya. Yang saat ini kita hadapi dan jalani baru riak-riak di pinggir pantai sebelum kita benar-benar mengarugi lautan yang penuh ombak serta karang yang menghancurkan. Coba periksa, di bagian mana dari tubuh ini yang tercabik-cabik penuh darah sebagai bukti besarnya pengorbanan dalam meniti kebenaran? Hmm.. bahkan kita masih enggan untuk menukar sedikit saja yang kita miliki dengan keagungan cinta-Nya.

Ini belum terbukti! Hingga satu saat kita dihadapkan pada satu pilihan, mati dengan torehan tinta emas kemuliaan atau tetap hidup diatas perisai hina. Nanti akan terbukti! Hidup ini akan berakhir pada ketetapan atas kebenaran, atau sebaliknya, disaat kehormatan pun berpaling. Adakah neraka Allah tak menerima manusia tampan, cantik, kaya raya namun berakhir pada kenistaan? Wallahu ‘a’lam bishshowaab

No comments:
Beri komentar