Friday, October 22, 2010

Salam Bagimu Ya Rasul Allah

Seorang ulama’ menghimbau, “Cintailah Rasululullah, maka ia akan menjadi pusat perhatian. Kapan saja ia diperbincangkan maka kita akan selalu semangat menyimak. Cintailah Rasulullah maka kita akan meniru perilakunya dengan hasil baik. Dan yang lebih dahsyat lagi, cintailah Rasulullah maka beliau akan menganggap kita sebagai saudara (ikhwan) dan janji Allah dalam QS. Annisa: 69, seorang pencinta Rasul akan digabungkan dengan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah yaitu Para nabi, para shidiqin, para syahid dan orang-orang shaleh.”

***

Tak ada salahnya, pabila saat ini kita mengenang sosok yang hanya saya tahu ciri-cirinya dari sebuah buku. Mengapakah terlalu sering kita mengabaikan teladan sempurna ini. Bahkan, terlalu jauh kita terlontar dari sunnahnya. Padahal, engkau ya Rasul Allah, begitu memperhatikan kami, hingga kami disebut pada saat-saat terakhir kehidupanmu. Ketika maut menjemput, nafas satu-satu dan detik-detik penghabisan di dunia sebelum dengan anggun engkau dipanggil Allah.

Maafkan kami, ya nabi pilihan Allah, sirahmu kami baca tetapi kami hanya mengemasnya dengan rapi dalam memori sebagai sebuah kisah yang nantinya akan kami sampaikan kepada yang lain. Engkau merindukan umat yang berjuang untuk membelamu, padahal kami sama sekali tidak berbuat apapun. Engkau rindui sosok-sosok yang mencintaimu dengan segenap jiwa, dan kami tidak tahu apa bukti kecintaan yang telah kami persembahkan meski hanya sekuntum saja. Betapa malunya kami wahai Rasulallah.

Meski demikian, perkenankan kami menyampaikan salam, salam cinta dan salam kerinduan. Salam bagimu ya Rasul Allah, salam bagimu duhai kekasih Allah yang mulia. Inilah kami, kaum yang lemah dari sekian abad dari masamu yang terbentang, menyampaikan salam pekat kerinduan. Inilah kami, kaum yang dungu, meski dengan tubuh penuh dengan karat dosa, dengan mata yang seringkali tak terarah, dengan mulut yang kerap menghina dan berdusta, dengan telinga yang sering tuli terhadap kepedihan sesama, memberanikan diri menyapamu dalam kesendirian.

Mengenang engkau ya Rasul Allah, menetaskan dahaga hebat bagi kerontangnya jiwa ini untuk berjumpa denganmu. Mengingatimu tentang betapa rekatnya engkau mencintai para pengikut yang datang jauh setelah engkau tiada, mengkristalkan haru yang tiada tara. Betapapun besar rasa malu ini, terimalah salam, wahai pembawa cahaya kepada dunia.

Betapapun buruk rupa jiwa ini, betapapun kerdil pikiran ini,
Betapapun kelu lidah ini berucap, ingin kami sampaikan kepadamu wahai nabi al-musthafa:
“Shallaallaahu ala sayyidina muhammad, shallalhu alaihi wasallam...
Salam bagimu ya Rasul Allah”.

***

Sahabat, telah sering kita mengucapkan shalawat terhadap junjungan nabi mulia, bahkan mungkin disetiap jeda yang kita punya, salam untuk sang tercinta tak lupa kita ungkap. Namun apakah salam yang kita sampaikan benar-benar salam yang ikhlas, salam tanda cinta kita untuk mendekatkan pada jalan “Menggapai Ridho-Nya”, ataukah salam yang refleks keluar dari mulut kita tanpa ada makna? Wallahu 'A'lam.

No comments:
Beri komentar