Friday, October 22, 2010

Ukhti, selamatkanlah aku!!

Sampai saat ini resah itu masih ada, keinginan untuk segera menyempurnakan setengah agama sudah begitu lama bersemayam dalam diri ini yang sampai saat inipun belum menemui ujungnya. Aku rindu, sungguh aku sangat merindukannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini aku selalu berharap untuk menyegerakan hal itu, rasanya jika itu terlaksana akan sangat membawa perubahan yang sangat signifikan bagi diriku.

Hari hari ku lalui sendiri tanpa ada yang menemani, menyatu dalam rentetan waktu dan selang-seling rambu kehidupan yang kian mewarnai hidupku serta pergantian "manusia halus" yang berada di dekat dan menghiasi pandangan dan cermin mataku. Aku melihatnya dan aku merasakannya, sungguh setiap kali "manusia halus" itu terlintas dimataku, ia terlintas pula dalam fikiranku dan tiap kali akan menjelma menjadi pengharapan yang menguatkan harapan-harapanku sebelumnya. Semakin bertambah besar kekuatannya sehingga harapan itu tidak jarang menghiasi barisan kata-kata dalam doa sujudku kepada-Nya.

Aku tidak kuat menahannya, sering secara tidak sadar air mataku pun menetes deras, mengalahkan berjuta prinsip yang telah aku tanam, tidak melihat bahwa diriku adalah seorang ikhwan yang kuat, mengapa harus menangis? Hanya karena "manusia halus" itu, aku sekarang begitu lemah, sungguh dibuatnya tak berdaya dan lumpuh. Jika dalam pertarungan, mungkin aku akan meminta ampun kepadanya karena sungguh aku tidak mampu melawannya.

Banyak sekali peluang bagi musuh terbesarku untuk menjerumuskanku melalui perantaraannya, dan hal itu tentu mengganggu diriku, tingkat keimananku sering turun naik karenanya, walaupun aku mengetahui bahwa secara fitrah memang iman itu "yaziidu wa yanqus", namun hal ini tidak bisa aku biarkan begitu saja. Aku harus segera bertindak.

Waktu harus segera ku percepat agar segera memihakku dan menghantarkanku pada saat itu, saat dimana tiada lagi keimanan "yaziidu wa yanqus" hanya karena "manusia halus" yang tiap kali berkemelut dalam fikiran dan hatiku. Aku harus segera memilihnya, menjadikan salah satunya sebagai pendamping hidupku, sebagai penentram hatiku, sebagai pelita hatiku dimana akan menerangi setiap sisi gelap kehidupanku dan memperbaiki rambu-rambu yang rusak dalam jalanku menuju Illahi Rabbi.

Walaupun kadang hal itu menjadi fikiran berat dalam diriku, akan tetapi hal itu tetap harus ku lakukan, sesegera mungkin. "Apakah aku sudah siap?". Bukan, bukan seperti itu, akan tetapi "Aku harus siap!", dengan segala keterbatasan yang ada pada diriku, demi menyelamatkan kehidupanku.

Ukhti, selamatkanlah aku!!

No comments:
Beri komentar