Thursday, November 4, 2010

Anak Shalih Aset Kita Hari Ini Sampai Akhirat Nanti...

Dalam Al-Qur’an dijelaskan, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka” (An Nisa: 9).

Pengertian lemah dalam ayat ini adalah lemah iman, lemah fisik, lemah intelektual dan lemah ekonomi. Oleh karena itu selaku orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, maka mereka harus memperhatikan keempat hal ini. Pengabaian salah satu dari empat hal ini adalah ketimpangan yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan pada anak. Imam Ibnu Katsir dalam mengomentari pengertian lemah pada ayat ini memfokuskan pada masalah ekonomi. Beliau mengatakan selaku orang tua hendaknya tidak meninggalkan keadaan anak-anak mereka dalam keadaan miskin . (Tafsir Ibnu Katsir: I, hal 432)

Dan terbukti berapa banyak kaum muslimin yang rela meninggalkan aqidahnya di era ini akibat keadaan ekonomi mereka yang dibawah garis kemiskinan. Di sisi lain banyak juga orang tua yang mementingkan perkembangan anak dari segi intelektual, fisik dan ekonomi semata dan mengabaikan perkembangan iman.

Orang tua terkadang berani melakukan hal apapun yang penting kebutuhan pendidikan anak-anaknya dapat terpenuhi, termasuk bekerja membanting tulang siang malam (kata orang Jawa: “sirah di enggo sikil, sikil di enggo sirah”) untuk membiayai anak-anaknya yang bersekolah di sekolah-sekolah favorit meskipun di sekolah tersebut menu keagamaannya sangat kurang. (Silahkan dicek, berapa jam pelajaran perminggu untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah-sekolah non agama?)

Sementara untuk memasukkan anak-anak mereka pada pendidikan-pendidikan agama, baik formal semacam MI, MTs, MA, dan sekolah-sekolah Islam lainnya, maupun non formal semacam TPQ, pengajian-pengajian di masjid atau Pondok Pesantren terasa begitu enggan. Padahal aspek iman merupakan kebutuhan pokok yang bersifat mendasar bagi anak.

Ada juga orang tua yang menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan bagi anak-anak mereka dari keempat masalah pokok di atas, namun usaha yang dilakukannya kearah tersebut sangat diskriminatif dan tidak seimbang. Sebagai contoh: Ada orang tua yang dalam usaha mencerdaskan anaknya dari segi intelektual telah melaksanakan usahanya yang cukup maksimal, segala sarana dan prasarana kearah tercapainya tujuan tersebut dipenuhinya dengan sungguh-sungguh namun dalam usahanya memenuhi kebutuhan anak dari hal keimanan, orang tua terlihat setengah hati, padahal mereka telah memperhatikan anaknya secara bersungguh-sungguh dalam segi pemenuhan otaknya.

***
Sahabat, para ayah, para ibu, maupun calon keduanya... kita tentu memiliki obsesi untuk mempunyai anak yang shalih. Tapi sudahkah kita berlaku adil dengan menyeimbangkan aspek-aspek kebutuhan pendidikan mereka, terlebih dalam aspek keimanan? Sudahkah kita memberikan pendidikan agama pada anak dalam porsi yang cukup?

Jika belum, sudahkah kita memberi wewenang pada orang lain untuk mendidik anak kita? Sudahkah kita memasukkan anak kita pada lembaga pendidikan non formal yang mendidik tentang keimanan dan ketaqwaan? Sudahkah kita memasukkan anak kita pada lembaga pendidikan formal yang memberikan pendidikan duniawi-ukhrawi dengan seimbang? Jika belum, alangkah baiknya jika kita tidak memiliki obsesi untuk mempunyai anak yang shalih. Namun ingat, anak shalih merupakan aset kita hari ini, esok hari, sampai dengan kita mati, bahkan sampai dengan di akhirat nanti!! Wallahu a’lam.

No comments:
Beri komentar