Wednesday, November 10, 2010

Kegelapan Gerhana Rembulan

Oleh: Emha Ainun Najib dalam album Kyai Kanjeng: Menyorong Rembulan

Dodot-iro dodot-iro kumitir bedah ing pinggir... Pakaian kebangsaan kita, harga diri nasionalisme kita telah sobek-sobek oleh tradisi penindasan, oleh tradisi kebodohan, oleh tradisi keserakahan yang tidak habis-habis.

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore... Harus kita jahit kembali, harus kita benahi lagi, harus kita utuhkan kembali, agar supaya kita siap untuk menghadap ke masa depan. Memang kita sudah lir-ilir, sudah nglilir, sudah terbangun dari tidur. Sudah bangun, sudah bangkit sesudah tidur terlalu nyenyak selama 30 tahun atau mungkin lebih lama dari itu. Kita memang sudah bangkit. Beribu-ribu kaum muda, berjuta-juta rakyat sudah bangkit, keluar rumah dan memenuhi jalanan, membanjiri sejarah dengan semangat menguak kemerdekaan yang terlalu lama diidamkan.

Akan tetapi mungkin karena terlalu lama kita tidak merdeka, sekarang kita tidak begitu mengerti mengerjakan kemerdekaan, sehingga tidak paham beda antara demokrasi dengan anarki. Terlalu lama kita tidak boleh berpikir lantas sekarang hasil pikiran kita keliru-keliru, sehingga tidak sanggup membedakan mana asap mana api, mana emas mana loyang, mana nasi dan mana tinja.

Terlalu lama kita hidup di dalam ketidakmenentuan nilai lantas sekarang semakin kabur pandangan kita atas nilai-nilai yang berlaku dalam diri kita sendiri sehingga yang kita jadikan pedoman kebenaran hanyalah kemauan kita sendiri, nafsu kita sendiri, kepentingan kita sendiri.

Terlalu lama kita hidup dalam kegelapan sehingga kita tidak mengerti bagaimana melayani cahaya, sehingga kita tidak bisa becus mengurusi bagaimana cahaya terang, sehingga dalam kegelapan gerhana rembulan yang membikin kita buntu sekarang, kita junjung-junjung pengkhianat dan kita buang-buang pahlawan, kita bela kelicikan dan kita curigai ketulusan.
Bisakah luka yang teramat dalam ini akan sembuh? Bisakah kekecewaan bahkan keputus asaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara-saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis? Adakah kemungkinan kita akan bisa merangkak naik ke bumi dari jurang yang teramat curam dan dalam? Akankah api akan berkobar-kobar lagi? Apakah asap akan membumbung lagi dan memenuhi angkasa tanah air?

Akankah kita akan bertabrakan lagi satu sama lain, jarah menjarah satu sama lain dengan pengorbanan yang tidak terkirakan? Adakah kemungkinan kita tahu apa yang sebenarnya kita jalani? Bersediakah sebenarnya kita untuk tahu persis apa sesungguhnya yang kita cari? Cakrawala yang manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita?
Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar? Pernahkah kita mencoba menyesali hal-hal yang barang kali memang perlu disesali dari perilaku-perilaku kita yang kemarin? Bisakah kita menumbuhkan kerendah hatian di balik kebanggaan-kebanggaan? Masih tersediakah ruang di dalam dada kita dan akal kepala kita untuk sesekali berkata pada diri sendiri, bahwa yang bersalah bukan hanya mereka, bahwa yang melakukan dosa bukan hanya ia, tetapi juga kita?

Masih tersediakah peluang di dalam kerendahan hati kita untuk mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan meskipun barang kali menyakitkan diri kita sendiri, mencari hal-hal yang kita benar-benar butuhkan agar supaya sakit-sakit-sakit kita ini benar-benar sembuh total? Sekurang-kurangnya dengan perasaan santai kepada diri sendiri untuk menyadari dengan sportif bahwa yang meski disembuhkan itu nomer satu bukan yang di luar diri kita, tetapi di dalam diri kita. Yang perlu kita utamakan lakukan adalah penyembuhan diri, yang kita yakini bahwa harus betul-betul disembuhkan justru adalah segala sesuatu yang berlaku di dalam hati dan akal pikiran kita...

No comments:
Beri komentar