Saturday, December 18, 2010

KETIKA ADZAN MEMANGGIL, IA KEJAR ALLAH DENGAN SEPEDA

Hari meranggas petang, para pekerja mulai meninggalkan tempat kerjanya. Bis-bis kota dan metro mini sarat penumpang berhenti di banyak halte dan persimpangan. Wajah-wajah lelah terlihat menuruni tangga bis kota. Sukardi, siap menghadang wajah-wajah lelah ini di perempatan Rawa Badak, Tanjung Priok. Ia menanti mereka di atas sadel sepedanya.

Sukardi, sebelumnya ia bekerja pada sebuah pabrik kaca milik investor Jepang. Namun kini ia harus meninggalkan pekerjaannya itu, karena ia pernah absen beberapa lama karena sakit yang dideritanya, maka akhirnya ia ter- PHK.

Pak Sukardi siap menerima kenyataan ini, karena keyakinannya telah tertempa oleh nilai Islam yang diyakininya. Karena menyadari keterbatasannya yang tidak lulus SD, ia banting stir ke usaha yang tak pernah ia impikan sebelumnya: menjadi pengemudi ojek! Keyakinan dan usaha itu memang membuahkan hasil, bisa untuk makan dan membiayai sekolah anak-anaknya yang berjumlah empat orang. "Sekarang ini, kalau kita nggak kuat mendidik anak dengan agama, gawat! Kita sering dengar ada anak gadis hamil duluan sebelum nikah. Nauzu billah min dzalik! Itu kesalahan orang tuanya yang tidak mendidik dengan pelajaran agama", katanya.

Kiranya Pak Sukardi benar, arus kejahiliyahan memang tengah merayap dan meracuni semua lapisan sosial, tak peduli miskin atau kaya. Pak Sukardi tak ingin terlindas arus itu. Ia tanamkan Islam pada anak-anaknya melalui pengajian dan halaqoh di Masjid. "Untuk apa hidup di dunia ini kalau cuman bergelimang harta tanpa tujuan yang jelas? Dan kekurangan material bukanlah halangan untuk memilih tujuan hidup yang benar dan pasti!", nasehatnya pada anak-anaknya.

Keyakinan itulah yang agaknya terpatri kuat dalam jiwa tukang ojek kita ini. Maka ketika adzan memanggil, ia tak menyia-nyiakan waktu untuk tetap berada dalam tujuan utama hidupnya. Ia bergegas pulang ke rumah menunaikan kewajibannya di masjid dekat rumahnya.

"Kenapa mesti pulang segala Pak? Bukankah masjid di sekitar s ini banyak?" "Bukan begitu... celana saya kotor, baju juga bau keringet ... Masak mau "ngadep" Alloh, pakai celana dan baju kotor? Sedangkan kalau mau ngadep Pak Lurah aja, kita rapih, ya nggak?", katanya. Pak Sukardi sudah menganggap, ibadah baginya merupakan kebutuhan, bahkan berusaha mendirikan kewajiban tersebut dengan cara yang terbaik.

Pernah suatu hari ia ngobrol tentang hujan yang sudah lama tidak turun dengan orang yang memerlukan jasanya. Entah bagaimana tiba-tiba orang itu mengatakan bahwa berkat kecanggihan teknologi sekarang hujan sudah bisa dibuat. Pernyataan ini langsung disergah oleh Pak Sukardi. "Hujan mah, biar gimana, buatan Alloh, Pak! Kita jangan sombong dengan ilmu pengetahuan kita. Kita manusia cuma bisa berusaha, Alloh yang menentukan”

Begitulah, ia selalu menyelipkan da'wah nilai-nilai Islam barang sepatah dua patah kata. "Kita ini harus mengajak manusia ke jalan Alloh. Kita ummat Islam semua ini, adalah da'i. Balighu 'anni walau ayah, begitu kata Nabi Muhammad”.

Hari-hari pak Sukardi adalah sepeda dan da'wah, keringat dan ibadah. Sebuah fenomena yang menyejukkan yang dapat kita saksikan di tengah gemuruhnya "pemurtadan" dan pendangkalan aqidah di mana-mana. Wallahu a'lam.

No comments:
Beri komentar