Friday, December 3, 2010

Lebih Penting Mana, Ibu Kita Atau Istri Kita?

Mas Didin (bukan nama sebenarnya) baru saja menikah dengan gadis Polowijen Malang, cantiknya bukan kepalang. Namun seribu kali sayang, pelitnya tidak ketulungan.

Sejak menikah, Mas Didin diharuskan menyerahkan semua gajinya pada istrinya. Istrinyalah yang mengatur semua pengeluaran rumah tangga. Istilahnya, istrinyalah yang menjadi bendahara keluarga. Awalnya memang tidak ada masalah, tapi sebulan berikutnya, masalah itu muncul saat Ibunya Mas Didin datang minta uang. Mas Didin yang tidak pegang uang akhirnya minta uang pada istrinya. Tapi apa yang terjadi?

Ternyata istrinya tidak mau memberi uang kepada ibu mertuanya. Alasannya, uang belanja tidak akan cukup kalau diberikan kepada ibu mertuanya. Lha nanti kalau beli kosmetik pakai uang siapa? Belum buat beli baju tidur? Buat beli spring bed? Buat beli ini itu? Akhirnya ibu mertua yang kecewa karena tidak diberi menantunya, bernadzar tidak akan datang ke rumah anaknya selamanya. Masyaallah.

Mas Didin yang tahu kalau ibunya tidak dikasih uang hanya diam seperti “kera ketulup”. Ia bingung, apa yang harus dilakukannya? Membela ibunya sebagai bakti kepada orang tuanya dengan kemungkinan istrinya akan memarahinya. Atau membetulkan sikap istrinya dengan kemungkinan akan dianggap durhaka oleh ibunya. (dikutip dari Media Umat: Minggu I - Jumadil Ula 1428 H dengan sedikit pengeditan)

Sahabat fillah, inilah kisah yang sering dan banyak dialami oleh saudara-saudara kita, atau bahkan kita sendiri. Sebagian di antara mereka atau kita masih bingung, mana yang harus diprioritaskan? Lebih penting mana? Ibu kita atau istri kita?



Suami Harus Mendahulukan Ibunya Daripada Istrinya

Sangat wajar kalau anak laki-laki meski sudah menikah tapi tetap memperhatikan ibu dan bapaknya, bahkan ini adalah kewajiban anak kepada orang tuanya, terutama ibu. Meski anak sudah berkeluarga dan punya rumah sendiri, ia tetap wajib merawat orang tuanya, termasuk menafkahinya seandainya mereka memang sudah tidak mampu bekerja lagi. Anak laki-laki harus taat kepada ibunya, bukan istrinya. Justru istrilah yang harus patuh pada suaminya.

Dalam sebuah hadits shahih, diriwayatkan bahwa Aisyah Ra bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?” Rasulullah menjawab, “Suaminya” (apabila sudah menikah). Aisyah Ra bertanya lagi, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Ibunya” (HR. Muslim)

Seorang sahabat, Jabir Ra menceritakan: Suatu hari datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Saw, ia berkata, “Ya Rasulallah, saya memiliki harta dan anak, dan bagaimana jika bapak saya menginginkan (meminta) harta saya itu? Rasulullah menjawab, “Kamu dan harta kamu adalah milik ayahmu”. (HR. Ibnu Majah dan At-Thabrani)

Ini berarti apabila orang tua membutuhkan bantuan, maka kita tidak boleh menolak, apalagi sampai menyakiti perasaannya.

Jangan Korbankan Orang Tua Demi Istri, Meskipun Ia Cantik!

Allah Swt berfirman, “...dan hendaklah kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu” (QS. Luqman:14). Begitu penting berbuat baik dan berterima kasih kepada kepada kedua orang tua kita, sampai Rasulullah bersabda, “Ridha Allah terdapat pada keridhaan orang tua. Dan murka Allah terdapat pada kemurkaan orang tua” (HR. Turmudzi).

Demikian tinggi kedudukan orang tua terhadap anaknya, sampai-sampai Allah baru meridhai kita kalau orang tua ridha kepada kita. Sebaliknya, Allah akan marah kepada kita apabila kita menyia-nyiakan orang tua. Karena itu, janganlah seorang anak laki-laki mengorbankan orang tua demi istri, meskipun istri tersebut sangat cantik! Sebab berbakti kepada orang tua termasuk kewajiban pokok yang perintahnya digandeng dengan perintah beribadah kepada Allah, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al-Isra’:23).

Istri Jaman Sekarang Kebanyakan Bermusuhan Dengan Ibu Mertuanya

Jika kita mau jujur, kita akan setuju dengan pernyataan tersebut. Bagi istri, ketemu dengan ibu mertua sama dengan ketemu Mak Lampir. Jenis istri seperti inilah yang jumlahnya seribu seribu. Artinya, sebagian besar istri berperangai seperti itu.

Seorang suami yang bijak seharusnya bisa menuntun istrinya agar sadar dan mengerti bahwa seorang laki-laki meskipun sudah menikah, tapi masih punya kewajiban mengurus ibunya. Istri yang baik tidak akan melarang suaminya berbuat baik kepada orang tuanya. Seyogyanya, seorang istri membantu suaminya dengan cara memberi dorongan dan peluang kepadanya untuk berbuat baik kepada orang tuanya. Tidak perlu takut, kalau suami memberi uang kepada ibunya, lantas rejekinya istri akan berkurang. Yakinlah, dengan rahmat-Nya, Allah akan melipat gandakannya. Dengan seperti itu, seorang istri akan mendapat pahala kebaikan pula. Sebaliknya, jika istri menghalang-halangi suami berniat baik, maka ia akan mendapat dosa. Wallahu a’lam.

18 comments:
Beri komentar
  1. assalamu'alaikum. wr.wb
    saya mau bertanya jika seorang suami memiliki istri yang sholehpada saat yang sama ibu dan istri dalam keadaan sakit dan sama-sama menbutukan suami dan anak,,
    sebagai seorang suami mana yang lebih didahuluinya ibu atau istri?
    terimakasih
    wassalam...

    ReplyDelete
  2. Lebih barokah mana antara harta istri atau suami buat keperluan rumah tangga???

    ReplyDelete
  3. assalamualaikum?
    Mau tanya..apakah hukumnya istri mendahulukan ortunya dibanding suaminya? Sekian syukron.istri mendahulukan ortunya dibanding suaminya? Sekian syukron.

    ReplyDelete
  4. artikel yang bagus, mengena, inspiratif dan tidak menggurui.
    minta izin copas agar kaum muslimin dan muslimat bisa mengambil hikmah artikel ini
    di
    http://www.islamshout.blogspot.com

    ReplyDelete
  5. Assalammu'alaykum,,
    Mau tanya,, mana yang sebaiknya didahulukan oleh suami? Istri yang meminta uang untuk kebutuhan rumah tangga, atau ibunya yang meminta uang untuk membelikan gadget untuk adik suami yang sebetulnya tidak penting? Apakah sebagai istri boleh menyarankan suami untuk tidak memberikan uang ke ibunya apabila dianggap tidak untuk kebutuhan yang penting? sementara kebutuhan rumah tangga sendiri masih banyak,, terimakasih sebelumnya Pak,,

    ReplyDelete
  6. sangat membutuhkan masukan ; artikel diatas saya termasuk yang sangat menyetujuinya ... saya menikah tanpa dihadiri ibu saya dan saudara saudara saya hanya dihadiri kakak ipar tetangga dan ayah saya. alasan saya menikah juga karena mencari ridho Allah insya allah, tetapi ibu saya tidak rela samapai sekarang dengan pernikahan saya karena menganggap isri saya tidak hormat kepadanya... (walo dalam hati kadang saya tidak setuju ,istri saya sayang tapi kadang sering beda pendapat dan sama sama keras jadi merasa tidak dihormati)sekarang ibu saya menyurh saya bercerai atao saya tidak mendapat ridhonya (entah samapai kapan) dalam kasus ini manakah yang harus daya ikuti saya minta waktu kepada ibu saya untuk menunggu keputusan saya 4 hari. apa lebih penting mengikuti ibu saya bercerai atau mempertahankan istri yang nilainya 5 dari 10. dalam hal fisik dan ukhrowi. terimakasih untuk jawabannya. bisa dipos di sini atau sangat saya terima kasih untuk sms ke 085753015224 mengingat saya hanya punya waktu kurang dari 4 hari. jazzakillah

    ReplyDelete
  7. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya”
    (Qs al-Isra’ : 23)
    Dalam berbakti, kadang timbul kebingungan, mana yang harus didahulukan, tetapi bila keimanan adalah landasan, semua menjadi jelas. mahabah dan mawadah kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad fi sabilillah adalah prioritas pertama. Setelah itu, yang menempati prioritas paling utama di dunia adalah orang tua. Birrul walidain adalah wujud ketaatan dan kecintaan seseorang kepada Allah dan RasulNya. Ketika prioritas itu dilandasi mahabatullah, ikhlas meraih ridhaNya, Allah tidak akan menyia-nyiakan amalannya, dikabulkan do’anya, dan dimudahkan urusannya.

    Dari Abu Hurairah bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak kubaktikan dengan baik?” Rasul menjawab, “Ibumu”, jawab Rasul, “Lalu siapa lagi?”, “Ibumu”, jawab Rasul. “Kemudian siapa?” Rasul menjawab, “Ibumu,” Ia kembali bertanya, “Lantas siapa lagi?” Rasul menjawab, “Ayahmu”
    (HR Bukhari-Muslim)

    Dalam berbakti, Allah dan Rasul mengutamakan ibu atas ayah. Mengapa bakti ibu lebih utama? Islam memberikan penghormatan karena kedekatan perasaan ibu terhadap anaknya. ibu lebih baik dalam merawat dan mengasuh anaknya daripada seorang ayah. Bentuk lain penghormatan agung terhadap ibu adalah ibu (perempuan) lebih berhak atas anak laki-lakinya, meski ia telah menikah.

    Dari ‘Aisyah r.a. bertanya kepada Rasulullah SAW “Siapakah yang paling berhak atas seorang wanita?” Rasul menjawab, “Suaminya.” “Dan siapa yang paling berhak atas suami?”. Rasul menjawab “Ibunya”
    (HR Hakim dan al-Bazzar, hadits hasan)

    ReplyDelete
  8. bagaimana kalau keblikannya,
    saya menikah atas dasar mengabdi kepada orang tua, sebelum saya menikah semua uang gaji saya saya berikan ke ortu, setelah menikah ortu menuntut untuk tetap seperti itu ....

    saya harus gimna ? apa saya harus TIDAK menafkahi istri saya ?

    ReplyDelete
  9. PAK USTAD SAYA MAU BERTANYA, CERITANYA GINI,
    1. SAYA SUDAH BERCERAI TALAK 1 DAN SAYA MEMPUNYAI 1 ORANG ANAK PEREMPUAN. KEMUDIAAN SAYA INGIN KEMBALI DENGAN ISTRI SAYA DEMI ANAK.
    NAMUN ORANG TUA SAYA TIDAK MERESTUINYA. KALAU SAYA PILIH IBU SAYA BAGAIMANA DENGAN ANAK SAYA. JIKA SAYA MEMILIH ANAK BAGAIMANA PANDANGAN TERHADAP AGAMA, SEDANGKAN IBU ADALAH NO SATU YG HARUS DIPILIH, SEDANGKAN ANAK DARAH DAGING SAYA.

    ReplyDelete
  10. Assalamu'alaikum. Pak masroer, suami saya sangat taat kpd kedua ortunya. Sblum mnikah, dia memberi nafkahnya untk ortunya. Tetapi skrg kami sudah berumah tangga, namun kedua ortunya msih meminta nafkah suami saya. Apa yg hrus saya lakukan Pak? Sementara kami sudah d karuniai seorang putra.kami sudah berumah tangga, tetapi kami tdk bisa memiliki hak kami. Saya sebagai istrinya pun tdk prnah d beri uang. Uang suami semua d berikan k ortunya pdhal saya jg butuh untk kprluan rmh tngga. Dlm hal ini saya jg hnya seorang ibu rmh tngga tdk bkerja. Mohon beri saya solusi agar suami dan mertua mengerti bhwa saya dan anak saya jg butuh nafkah. Trims wassalam.

    ReplyDelete
  11. memang benar pernyataan mas syukron "Istri Jaman Sekarang Kebanyakan Bermusuhan Dengan Ibu Mertuanya" dan hampir 99,9%. ya begitulah kira2 seorang suami klw nurut sm ibu ny di bilang anak mami lah, anak emak lah ini lah itu lah.

    ReplyDelete
  12. Assalamua'laikum pak masroer saya sudah menikah 5thn dan dikaruniai seorang anak 2.. Suami saya tidak berkerja,sekali kerja dia bertahan paling lama 6bln dan nganggurnya bisa sampe 2thn.. Saya punya ibu mertua yg dagang nasi di salah satu kantor tiap jam set 5 pagi sudah berangkat dan suami saya pun ikut dengan ibunya.. Tapi jujur slama suami saya membantu ibunya saya tidak diberi nafkah atau suami saya tidak bertanggung jawab sama hutang yg harus dibayaar.. Saya seperti janda menghidupi ke2 anak saya... Mertua saya pun tidak memberi kebutuhan anak2 saya padahal dia telah dibantu oleh suami saya.. Sekarang suami saya ada panggilan kerja, tapi tidak diambil lantaran suami saya masih memberatka keadaan ibunya.. Yg saya tanyakan apa hukumnya untuk suami yg membantu pekerjaan ibunya tapi tidak menafkahi istrinya dan anaknya.. Mohon penjelasannya pak.. Wasalam, Terimaksih

    ReplyDelete
  13. Mohon penjelasannya pak..saya dlm proses mediasi cerai..dan yg pada akhirnya berujung perdamaian.dan saya berniat untuk cabut gugatab saya terhadap suami.tapi ibu saya tidak menyetujuinya dan sepertinya tidak ridho dan memaki saya sebagai perempuan goblok .mau dibodohi suami..bgt katanya.bagaimana hukumya pak bila saya kembali rujuk dengan suamibtanpa adanya restu ibu???ibu saya sakit hati dng suami krn kata2 suami yg telah berulang2 menyakiti beliau..apa yg harus sy lakukan pak?saya ingin rujuk kembali pak..krn lillahita'alla..

    ReplyDelete
  14. Assalamu'alaikum pak. Usia pernikahan sy baru 2 tahun. Selama berumah tangga yg sering menyulut pertengkaran kami adalah soal memberi kepada orang tua. Saya merasa kalau saya memberikan uang atau membelikan sesuatu untuk orang tua saya suami agak keberatan. Suami bilang dahulukan dulu kepentingan keluarga kita. Padahal saya merasa kebutuhan yg penting untuk kami sudah terpenuhi. Sering sekali kami berselisih paham untuk masalah tersebut, yg buat sy bersuudzon suami tidak sayang dgn keluarga saya. Karena hal tersebut saya mensiasatinya dgn sedikit berbohong kepada suami. Saya bekerja dan mempunyai penghasilan tetap dan sering juga mendapat penghasilan tambahan. Untuk penghasilan tetap sy terbuka sepenuhnya kpd suami, tapi untuk penghasilan tambahan saya tidak ceritakan, dan itu saya gunakan untuk diberikan kpd ibu saya. Bolehkah seperti itu? Saya juga sering memberikan uang kpd adik2 saya tanpa sepengetahuan suami tapi itu hasil kerja saya. Karena kalau tahu bisa jadi pemicu konflik. Memang saya memberi kpd keluarga sy karena keluarga saya (mama sbg kepala keluarga) masih memiliki tanggungan (2 adik saya masih sekolah) dan tidak mempunyai penghasilan tetap. Sedangkan mertua saya sdh tdk memiliki tanggungan, dan mempunyai penghasilan (mertua sy pensiunan pns). Perlu diketahui saya sangat menyayangi keluarga saya dan juga suami saya. Saya merasa memberi kpd keluarga tidak dalam porsi yg berlebihan, karena bagaimanapun kalau suami sedang kesusahan sy bantu suami sy, saya tetap prioritaskan suami. Salam.

    ReplyDelete
  15. Assalamualaikum, saya mau bertanya..
    Saya baru menikah dengan suami, dari pacaran sampai menikah ibu dari suami saya tidak merestui kami sampai sekarang karna menurut ibunya secara fisik saya tidak cantik, tidak berpendidikan dan bukan wanita shalehah padahal kami belum pernah bertemu langsung,ibunya hanya melihat saya dari foto dan dari cerita orang lain karna kami berbeda kota. Sebelum menikah saya diajak suami datang kekota ibu nya untuk perkenalan dan meminta restu, tapi ibunya tidak menerima saya dan sma sekali tidak ingin melihat saya. Karna ibunya ingin suami saya menikah dgn wanita yg lebih cantik dan berpendidikan tinggi. Akhirnya Kami menikah tanpa diketahui kluarga suami saya dan ibunya, sampai sekarang ibunya masih tidak merestui dan nenerima saya. Setelah menikah suami saya semakin jauh dengan ibu dan keluarganya seperti jarang menghubungi dan kirim kabar ke keluarganya karna suami saya merasa kecewa kepada ibu dan keluarganya tidak merestui dan menerima saya sebagai pilihannya. Saya selalu meminta suami agar slalu menghubungi ibunya dan kirim kabar agar dia tidak dibilang sebagai anak yg tidak patuh pada ibunya, dan saya jg tidak mau jika karna saya hubungan ibu dan anak jd rusak,apalagi sampai suami saya dibilang anak durhaka cuma karna wanita. Suami slalu bilang agar kita berjuang bersama agar mendapat restu, tp terkadang saya ingin menyerah dan membiarkan suami mengikuti keinginan ibu nya dgn menikah dgn wanita cantik dan shalehah tp keadaan sekarang kami sudah menikah dan saya sedang hamil. Saya sangat sadar bagi seorang laki2 yg paling utama adalah ibunya dibanding istrinya, saya jg tidak mau kalau suami saya harus melawan ibunya sendiri hanya karna saya. Entah sekarang saya harus berbuat apa, dalam shalat saya slalu meminta agar Allah meluluhkan hati ibunya dan keluarganya agar bisa menerima dan merestui saya ..

    Wassalam

    ReplyDelete
  16. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  17. Assalamualaikum saya mau brtnya pak, saat ini saya dan suami tinggal di rumah ibu saya,,suami saya berjanji ingin membeli rumah untuk tempat tinggal kita,karena saya ingin hidup mandiri lepas dari orang tua, tetapi ibu mertua saya memaksa qt untuk tinggal bersama nya dengan alasan rumah yg di tempati ibu mertua sy skrng kelak jd milik suami saya,,tp saya tidak nyaman tinggal disana,karena ibu mertua saya suka memaksa kan semua yg dia mau dan suami saya tidak bs menolak permintaan nya, yg kedua suami saya tidak bs jd penengah antara saya dan ibunya dia selalu menyalahkan saya.selain itu saya juga tidak nyaman dengan lingkungan dsna tetangga dan saudara2 nya terlalu bnyk ikut campur di rmh tangga qt, lalu saya harus bgmn pak ustd suami saya Memilih lbh bnyk tinggal dengan ibu nya, sdngkan saya tidak ingin terus bermasalah dengan ibunya,,

    ReplyDelete
  18. Bagaimana jika mahar yang diberikan kepada istri dipinjam oleh mertua dan tidak dikembalikan?

    ReplyDelete