Saturday, December 25, 2010

Punggung...

Astaghfirullah, betapa beratnya menjadi laki-laki di jaman sekarang. Kenapa? Karena di mana-mana dengan mudahnya kita temui gadis-gadis cantik berpakaian ketat dan mini. Kaus ketat dan celana 3/4 ala Jennifer Lopez yang berpinggang rendah seakan menjadi “seragam.” Di terminal, ketika gadis-gadis itu membungkuk untuk turun dari angkot, tampaklah pemandangan yang “mengerikan” itu. Punggung yang terbuka. Sebagian mereka ada yang merasa risih, kebingungan menarik-narik kausnya bagian belakang. Sebagian yang lain, cuek dan ikhlas saja membiarkan punggung yang terbuka itu menjadi tontonan orang-orang se-angkot.

Suatu hari, saya berencana pergi ke suatu tempat. Karena angkot yang saya tumpangi masih kosong, saya harus sedikit bersabar menunggu angkot itu ngetem sampai penumpangnya penuh. Saya pilih duduk di bangku bagian belakang. Di depan, dekat sopir, duduk 2 orang gadis. Gadis yang duduk di tengah rupanya memakai kaus yang “kekecilan” dan celana dengan gaya “lower is better” yang benar-benar “lower.” Tak perlu membungkuk, cukup dalam posisi duduk biasa, gadis itu sudah memamerkan hampir 1/3 punggung dan sebagian panggulnya. Tak usahlah dibayangkan. Tak lama, datang temannya, seorang pria. Mereka lantas mengobrol bertiga. Saking semangatnya, gadis yang duduk di tengah sesekali mencondong-condongkan badannya.

Seorang pria lain, calo angkot, tiba-tiba datang, mengajak bicara sopir yang sibuk memanggil-manggil penumpang. Perhatian sang calo segera tersita oleh punggung sang gadis yang terbuka. Segera saja ia menyikut sang sopir. Kepalanya bergerak-gerak ke arah samping seolah-olah hendak mengatakan : “Tuh...liat tuh..” Pak sopir cuma menoleh sebentar lantas cuek. Sementara sang calo terus menatap dengan pandangan yang aahh.....mengingatkan saya pada lagu Nicky Astria “Mata Lelaki” yang terkenal itu.

Sang gadis yang menjadi pusat perhatian tampaknya sama sekali tak sadar apa yang telah terjadi. Sementara saya tak bisa berbuat apa-apa. Satu per satu penumpang naik. Angkot mulai penuh. Punggung bawah gadis itu masih “menganga,” mengisi ruang kosong antara kursi sopir dengan kursi penumpang di depan. Mas penumpang di depan saya mencuri-curi pandang ke arah “point of view” itu. Saya semakin bingung harus berbuat apa.

Masalah punggung, panggul, pusar, atau bagian tubuh perempuan yang lain yang erat kaitannya dengan baju mini, ketat, dan seksi ternyata bukan hanya monopoli penumpang angkot. Karena perempuan dengan baju-baju seperti itu ternyata dapat ditemui di mana saja. Termasuk di tempat-tempat yang (katanya) mengagungkan intelektualitas dan (seharusnya) dihormati seperti kampus. Sayang, di kampus tak ada larangan mengenakan baju-baju seperti itu. Kalau pun ada, gaungnya tak segencar larangan mengenakan sandal jepit di kelas. Baju-baju seragam sekolah anak SMP dan SMU di kota-kota besar pun semakin lama semakin jauh dari aturan yang sebenarnya. Roknya semakin pendek, bajunya semakin kecil dan ketat. Cocok untuk dikiaskan dengan peribahasa “Ke atas tampak lutut, ke bawah tampak pusar.”

Tidak salah berusaha tampil cantik, tapi mau tampil cantik yang bagaimana, semua itu terserah kepada kita. Tubuh kita seharusnya milik kita, dan karena itu milik kita, bukan pada tempatnya jika kita mempertontonkannya di muka umum. Percayalah, penghargaan sebenarnya dan setulusnya dari orang lain tak pernah ada jika penilaian mereka pada kita cuma berdasarkan kecantikan, gaya, atau cara berpakaian kita. Tak percaya? Pakai jilbab dan rasakan bedanya!!

No comments:
Beri komentar