Saturday, January 22, 2011

Hari Bumi Diperintahkan Hancur

Selalu ada gidik roma untuk setiap nama kiamat. Huru Hara Akhir Zaman? Best seller. Produk-produk lain pun telah bernasib (mirip) sama: Dajjal dan Segitiga Bermuda, Jesus Will Return, The Day After Tomorrow, Armageddon, hingga 2012. Isu akhir zaman merk dagang yang menjanjikan. Untuk film, untuk buku. Laris manis ditonton, dibaca, diresapi orang-orang. Headline yang (seringkali) berhasil menyedot perhatian massa dalam jumlah besar. Tentu saja. Bermain-main dengan apa yang manusia pikirkan selalu menarik: ketakutan, harapan, ingin tahu. Berdoa semoga saja kiamat masih jauh.

Semoga saja kita sudah mati sebelum itu terjadi. Kiamat: Ya, Allah, semoga masih satu abad lagi!

Aneka ria reaksi meletup, bermunculan. Macam-macam, tapi satu keyakinan: manusia tidak siap kehidupannya diganggu jeritan sangkakala. Sangkakala yang akan berbunyi begitu tiba-tiba: saat manusia-manusia berani berzina di pinggir jalan tanpa malu seperti sepasang keledai. Semua orang lalu beramai-ramai melupakan kiamat bila mendengar siapapun bicara kiamat. Sangat takut.

Membayangkannya saja kerut: gunung-gunung dihambur-hamburkan, langit pecah retak, bumi berguncang luar biasa richter, asap merah berembus, manusia-manusia memutus pita suara mereka dengan berteriak minta tolong--mencari perlindungan yang mungkin juga tengah berteriak mencari perlindungan. Belum lagi bicara hari kebangkitan, hari perhitungan, hari lewati jembatan rambut tujuh belahan: berpenampang neraka yang apinya berwarna-warna: merah, hitam, putih (karena telah Allah siapkan demikian lamanya).

Saya sama seperti orang-orang: takut, ngeri. Apa jadinya bila saya mengalami itu semua? Apa saya siap? Apa saya mampu? Apa saya akan selamat?!

Saya tidak punya jawaban. Saya kasihan terhadap diri saya sendiri, dan semua orang; kita. Kita yang cuma mampu menduga-duga nasib kelak di kampung akhirat. Mungkin begini, mungkin begitu. Astaga, siapa sih yang tidak bergetar memikirkan itu semua?! Abu Bakar saja menangis. Rasul saja menangis. Kita? Hoho, ada yang terlalu angkuh untuk melakoni itu semua. Padahal tidak ada jaminan sedikitpun dari Allah, layaknya Nabi Muhammad atau assabiqunal awwalun. Ibadah sedikit, sering tidak khusyuk. Sholat bertabur riya dalam setiap ruku sujud tuma'ninahnya. Sekalinya ikhlas, dirusak dengan menceritakannya pada orang-orang; serta tidak lupa busungkan dada, berharap terlihat gagah dan sholeh/ah. Pelit sedekah, gampang marah-marah.

Kalau sudah demikian, jawablah dengan lantang: atas alasan yang mana kita harus masuk surga? Jangan katakan Allah tidak menciptakan neraka untuk kita. Ah, tidakkah kalian tahu jika itu mungkin saja? Mungkin, neraka memang diciptakan untuk membakar kita. Menghanguskan, mendebukan jasad kita--tulang jadi debu, darah jadi debu; habis. Disiksa air mendidih, disembelih parang besar milik malaikat berwajah garang--yang bahkan berwajah masam pada Rasulullah. Tidakkah itu menakutkan? Tidakkah itu sedikit saja membuat kita berpikir untuk menyudahi kepura-puraan kita? Bersandiwara seolah amnesia, seolah lupa nyawa kita akan berakhir di liang kuburan dan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkannya.

Mungkin, kebaikan-kebaikan yang kita lakukan tidak akan membawa kita terbang melewati neraka. Mungkin tidak akan cukup untuk membayar tiket ke surga. Malah, bisa saja, kebaikan itu yang menyeret kita ke bibir jurang nestapa dan melemparkan kita ke dalamnya. Skeptis memang, tapi itulah masa depan.

Akhirat masih misteri untuk seluruh makhluk hidup. Segalanya bisa saja terjadi. Penyeru-penyeru dakwah bernasib sial. Pendosa-pendosa melenggang lintasi gerbang kesyahduan; surga yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya. Segala tergantung Allah, Rabb penguasa alam--yang menggenggamnya dengan tiada kepayahan sezarrah saja. Yang tahu setiap hati, yang tahu setiap niat yang terbersit. Segalanya masih teka-teki. Akhir hidup kita, ujung nyawa kita. Saya kira benar dugaan saya: saya dan Anda belum tentu masuk surga. Mungkin... malah sebaliknya. Silahkan ketakutan. Silahkan menggigil sampai gila.

Hanya ada dua pilihan: surga atau neraka. Kita akan berakhir di salah satunya. Selamanya meneguk kenikmatan atau menangis sepanjang waktu, yang pedihnya tiada berujung lagi sesudah itu.

Ada baiknya mulai sekarang kita bersujud. Mengingat Allah sepenuhnya. Mohon ampun dan berazzam jadi hamba yang tawakkal. Ada baiknya kita juga saling mendoakan. Saling menyelamatkan. Atas nama cinta, atas nama kasih sayang. Sebab Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang. Yang memiliki ampunan dan cinta lebih besar dari angkara-Nya terhadap kezaliman. Dia menyukai orang-orang yang berbuat baik, yang menebar kebaikan. Orang-orang yang merelakan harta, jiwa, dan tenaganya guna membela dien-Nya. Orang-orang yang tahu apa itu ukhuwah dan menyemainya di hati peradaban. Bukankah risalah telah mengatakan: ridho Allah membentang pada manusia yang saling mencintai karena-Nya?

Tengadahkan tangan, dan mulailah rangkai munajat. Saat sholat, setiap ingat. Untuk saudara-saudara kita. Agar selamat dunia, agar selamat akhirat. Cepat. Jangan ditunda-tunda, sebab tak ada cukup dalih untuk menunda-nunda. Para ustadz sudah berceramah. Tanda-tanda zaman telah gamblang berkomentar: wanita lebih banyak dari pria, para gembala berlomba membangun gedung-gedung pencakar langit, AIDS-sindrom/penyakit yang belum pernah ditemui pada masa sebelum ini dan tiada obatnya. Saya mohon... jangan tunggu Dajjal muncul lebih cepat dan mengatakan kalau kiamat itu sudah dekat.

No comments:
Beri komentar