Saturday, January 22, 2011

Inspirasi

Suatu ketika Mohamdas Karamchand Gandhi akan berangkat dari Durban menuju Pretoria, Afrika Selatan untuk membantu sahabatnya, Dada Abdulla dalam suatu kasus persidangan. Saat itu Gandhi adalah seorang pengacara terkenal di Afrika Selatan. Ia sudah terkenal di kalangan penduduk India dan penduduk lokal di Afrika Selatan. Tatkala menunggu kereta berangkat, Gandhi mencoba untuk membaca buku yang diberikan Dada Abdulla. Baru sampai pada halaman pertama, Gandhi dikejutkan oleh suara lantang dari petugas kereta api. "Hei, Kuli", begitu panggilan seorang Inggris terhadap warga kulit hitam di Afrika Selatan. "Kamu tidak seharusnya berada di sini." Gandhi memang berada di gerbong kelas eksekutif yang biasanya ditempati oleh bangsawan-bangsawan Inggris kelas atas. Gandhi menjawab, "Saya sudah membayar tiket kelas eksekutif ini, jadi saya berhak dan sudah seharusnya mendapat pelayanan yang sama dengan penumpang di gerbong ini." Memang pada saat itu perbedaan antara penduduk lokal maupun pendatang dari India dengan penduduk berkulit putih khususnya Inggris sangat terasa. Mereka yang berkulit hitam sering mendapat perlakuan semena-mena walaupun dari kalangan terpelajar sekalipun.

Apa daya, walaupun Gandhi bersikeras untuk tetap duduk di kursi kelas eksekutif, petugas kereta api itu memaksa dengan kekerasan agar Gandhi duduk di kelas biasa. Akhirnya Gandhi yang bertubuh kecil tidak bisa melawan kekerasan dari petugas kereta api yang badannya jauh lebih besar. Ia ditendang keluar dari kereta, semua barangnya pun dihamburkan begitu saja keluar dari kereta. "Jangan lupa bawa bukumu ini, Kuli", demikian kata petugas kereta api membuang buku yang diberikan sahabat Gandhi, Dada Abdulla. Buku itu dilempar dan mengenai kepala Gandhi sehingga terjatuh di sampingnya. "Apakah nasib kami akan terus seperti ini?", pikir Gandhi meratapi nasibnya. Ketika merapikan barangnya Gandhi secara tidak sengaja membaca satu bagian halaman yang terbuka dari buku yang tadi mengenai kepalanya tadi. Bagian itu berbunyi:

"Dan sungguhnya Kami telah mengutus seorang utusan pada tiap-tiap bangsa untuk menyerukan: "Sembahlah Allah, dan jauhilah godaan shaitan", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS. An Nahl:36)

Ternyata buku yang diberikan sahabat Gandhi adalah Quran. Sejak membaca penggalan ayat tersebut, Gandhi mulai tergerak hatinya untuk mengajak kaum tertindas di Afrika Selatan dan akhirnya India untuk melawan penjajah. Konon sejak saat itu, Gandhi selalu membaca Qur'an sebagai salah satu referensi penting dalam perjalanan hidupnya, terutama dalam meraih kemerdekaan India dengan cara damainya. Subhanallah!

***
Kejadian di atas, penulis ambil dari film "The Making of Mahatma", sebuah film tentang perjalanan hidup Gandhi. Bagian dimana Gandhi membaca Qur'an sangat berbekas dalam ingatan ini. Qur'an menjadi sumber inspirasi penting dari dimulainya perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. Kita pun akan ingat bagaimana seorang yang keras dan selalu berprinsip semua permasalahan diselesaikan dengan pedang seperti Umar bin Khattab, bisa luluh hatinya oleh bacaan Qur'an dan terinspirasi untuk ikut serta dalam menyebarkan ajaran Islam.

Inspirasi dari Allah juga diberikan oleh Allah kepada siapa yang mau mengamati ciptaannya. Kita ingat bagaimana Salman Al Farizi terinspirasi untuk membuat parit di sekeliling kota Madinah, karena melihat keadaan geografis yang menguntungkan pasukan Muslim jika menghadapi serangan. Kita juga ingat bagaimana Jabal Al Thariq yang terinspirasi untuk membakar kapal pembawa mereka dari dataran Maghribi ke Spanyol untuk membakar semangat para pasukannya. "Tidak ada jalan ke belakang lagi, hanya ada satu jalan yaitu terus maju ke depan, Allahu akbar!", demikianlah kata-kata yang dilontarkan Jabal Al Thariq untuk memberi inspirasi kepada pasukannya.

Allah memberikan kita berbagai macam inspirasi lewat berbagai ciptaannya. Tinggal bagaimana kita bisa menangkap inspirasi itu untuk dijadikan sebagai pemicu dalam berbuat sesuatu yang besar, sesuatu yang dapat memberikan inspirasi lagi bagi anak cucu kita. Wallahu'alam bishshawab.

No comments:
Beri komentar