Friday, January 14, 2011

Sekuntum Bunga Terpelihara

Allah SWT tidak menciptakan wanita dari kepala laki-laki untuk dijadikan atasanya . Tidak juga Allah SWT ciptakan wanita dari kaki laki-laki untuk dijadikan bawahannya. Tetapi Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dekat dengan lenganya untuk dilindunginya, dan dekat dengan hatinya untuk dicintainya. Allah SWT tidak menciptakan wanita dari kepala laki-laki untuk dijadikan atasanya . Tidak juga Allah SWT ciptakan wanita dari kaki laki-laki untuk dijadikan bawahannya. Tetapi Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dekat dengan lenganya untuk dilindunginya, dan dekat dengan hatinya untuk dicintainya.

Allah tidak menciptakan wanita sebagai komplementer atau sebagai barang substitusi apalagi sekedar objek buat laki-laki. Tetapi Allah menciptakan wanita sebagai teman yang mendampingi hidup Adam tatkala kesepian di surga. Juga Allah ciptakan wanita sebagai pasangan hidup bagi laki-laki untuk menyempurnakan hidupnya sekaligus sebab lahirnya generasi, disamping tunduk dan beribadah kepada Allah tentunya.

Namun mengapa tetap saja ada laki-laki yang tunduk di bawah kaki wanita. Mengemis cintanya, berharap kasih sayangnya dengan menggadaikan kepemimpinan, bahkan kehormatan dan harga dirinya. Wanita dipuja bagai Dewa, disanjung bagai Dewi Sinta, yang banyak menyerbabkan laki-laki buta mata, buta telingga, bahkan buta mata hatinya..

Namun ada juga yang mengaggap rendah wanita. Wanita dinista, dihina. Kesuciannya dijadikan objek yang tidak bernilai harganya. Tenaganya dieksploitasi bagaikan kuda. Kelembutannya dijadikan transaksi murahan yang tak seimbang valuenya. Wanita dijadikan sekedar pemuas nafsu belaka, bila habis madunya, dengan seenaknya di buang ke keranjang sampah, atau dianggap sandal jepit yang tak berguna.

Jika wanita itu adalah ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, anak kita, relakah kita melihat mereka menjajakkan diri di gelapnya malam yang mencekam. Relakah kita melihat mereka membanting tulang mengumpulkan rupiah, ringgit atau real dengan mayat terbujur kaku sebagai resikonya?

Jika wanita itu adalah ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, anak kita, relakah kita membiarkannya seolah seonggok jasad hidup yang tidak memiliki nilai guna? Dipajang sana-sini, kemudian orang-orang tidak bertanggung jawab dapat bebas menyentuhnya?

Jika wanita itu adalah ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, anak kita, relakah kita membiarkannya beringgas, liar, ganas, tidak berpendidikan, bodoh, dunggu, hanya karena ketidakmampuan ayah memberi nafkah, karena ketidakmampuan ibu medidik dan mencintainya, karena ketidakmampuan kita melindunginya, sebagaimana Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dekat dengan lengannya untuk dilindunginya, dekat dengan hatinya, untuk dicintainnya.

Ia tetap wanita, yang diciptakan Allah SWT dengan segala kelebihan dan kekuranganya. Tidak bisa manusia dengan akalnya yang kerdil ini mengganti kedudukannya apa lagi fitrahnya. Wanita adalah patner laki-laki dalam mengisi hari-hari. Islam telah menempatkannya pada posisi yang sangat terhormat, karena setiap jiwa lahir dari rahimnya.

Memang adalah suatu hal yang sulit mendidik wanita yang berakidah bener, ibadah seeur, akhlak bageur, berbadan seger, gape’ komputer, dan otaknyapun pinter. Namun bukan berarti dunia tidak bisa melahirkan wonder women. Sejarah mencatat dengan tinta emas prestasi kepahlawanan para wanita. Dimulai dari Ummul Mu’minin, Aisyah, Fatimah Az-Zahra, Cut Nyak Dien, Kartini, dan pada zaman modern ini pejuang wanita terus saja bermunculan seperti perjuangan Zainab Al-Ghazali, seorang wanita Ikhwanul Muslimin yang tidak saja kuat fisiknya tetapi juga imannya menghadapi kekejaman pemerintah tirani di Mesir waktu itu.

Wonder women yang sholehah bagaikan sekuntum bunga terpelihara, tidak semua kumbang bisa menghisab madunya. Lemah lembutlah memperlakukkanya, karena kata Rasul yang diriwayatkan oleh Imam Muslim “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalehah”.

***

Sudah habis masanya bagi perempuan hidup terhina. Sudah berlalu awan kelam yang senantiasa menyelimuti gadis-gadis kecil tak berdosa yang dikubur hidup-hidup hanya karena ia berjenis kelamin perempuan. Sejak cahaya Islam menyinari bumi melalui tangan seorang rasul, perempuan menempati tempat yang terhormat. Adalah suatu kesalahan sejarah, jika dikatakan bahwa kebangkitan harga diri dan kehormatan perempuan dimulai sejak terbitnya buku habis gelap terbitlah terang.

Sebagai makhluk yang sama-sama mengabdi kepada Allah, perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama. Bahkan lebih jauh, ada pekerjaan yang tidak dapat dikerjakan oleh-laki-laki. Hanya wanita saja yang dapat melakukan pekerjaan ini. . Mengandung, melahirkan, menyusui, adalah fitrah yang tidak dapat dielakkan walaupun dengan teori dan argumentasi apapun. Namun tidak ada pekerjan laki-laki yang tidak dapat dikerjakan oleh wanita. Semua pekerjaan laki-laki dapat dikerjakan oleh wanita saat ini. Tetapi apakah laki-laki bisa mengandung, melahirkan, menyusui? Inilah fitrah yang tidak dapat dielakkan, bahwa wanita memiliki bagian special dalam episode kehidupannya.

Sejarah Indonesia mencatat perjuangan seorang gadis bernama Kartini untuk hak-hak dan persamaan derajat kaumnya dengan laki-laki.. Tradisi Jawa yang feodal waktu itu amat sangat merugikan kaum wanita. Tidak diperkenankan mengenyam pendidikan adalah puncak kekecewaan Kartini terhadap diskriminasi terhadap wanita yang sesungguhnya sudah sejak lama dibebaskan Islam melalui lisan Rasulullah. Karena beliau waktu itu berkiblat pada Eropa, Kartini menganggap Eropa merupkan atmosfir baru yang patut dijadikan rujukan terhadap kebebasana perempuan dari kukungan tradisi Jawa yang kurang menghargai wanita.

Perempuan memiliki hak mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang sejajar dengan laki-laki. Karena mendapatkan ilmu adalah hak setiap insan di muka bumi ini. Kartini pernah mengirim surat kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami mengingginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruh yang besar sekali bagi kemajuan yang diserahkan alam sendiri ke dalam tanganya, menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”

Bila kita perhatikan, tuntutan utama Kartini adalah diberikannya kesempatan bagi kaum wanita untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Karena memang waktu itu yang berhak mendapatkan pendidikan hanya laki-laki, itupun terbatas pada anak-anak kaum ningrat, pejabat pemerintah dan Belanda. Kartini yang masih berdarah ningrat saja masih terbatas mendapatkan pendidikan, apalagi dengan perempuan rakyat jelata? Karena Kartini yang cerdas menyadari pendidikan akan memberikan pengaruh yang besar bagi wanita untuk mengembangkan potensi yang telah diberikan alam kepadanya.

Pada zamannya, pendidikan bagi anak perempuan amat minim sekali. Hal ini menyebabkan Kartini ingin mendobrak tradisi tersebut dan mengharapkan adanya perubahan adat yang sangat feodal dan mengukung kebebasan. Kartini ingin agar kaumnya pada zaman Belanda itu mendapatkan kesempatan untuk maju, salah satu cara adalah dengan mendapatkan pendidikan yang sama dengan apa yang didapatkan laki-laki. Karena tidak dapat dipungkiri, ibu adalah madrasah pertama yang akan mendidik anak-anak menjadi manusia-manusia yang kelak akan menjadi pemimpin negeri ini.

Namun sayang, kaum feminisme tidak utuh mendeskripsikan keinginan dan cita-cita Kartini. Cita-cita murni dan mulia itu hanya ditafsirkan sebatas persamaan derajat. Mereka bahkan lebih sempit menafsirkan cita-cita Kartini dengan persamaan disegala bidang tanpa menghiraukan kodrat keperempuanan yang tidak bisa dipungkiri jelas akan berbeda dengan laki-laki. Jika persamaan derajat yang dituntut, jauh sebelum Kartini lahir, Islam telah mengangkat derajat wanita ke tempat yang paling terhormat, bahkan seluruh isi alam ini tidak ada artinya dibandingkan seorang wanita yang sholehah, begitu Rasul mengatakan.

Sebelum wafatnya Kertini sempat mempelajari Al-Quran. Pelajaran yang hanya sebentar ia dapatkan itu menyadarkannya bahwa betapa selama ini ia telah salah memandang Eropa yang selalu diagung-agungkannya sebelum ia mendapat hidayah Allah. Hal ini terungkap dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tanggal 27 Oktober 1902, “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat Ibu, terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradapan?

Surat yang cukup pedas ini Kartini sampaikan karena akumulasi kekecewaanya pada masyarakat Eropa yang selama ini ia anggap terhormat. Tidak ada satu masyarakatpun yang lebih menghargai keberadaan perempuan kecuali Islam.

Itulah Kartini, perempuan yang cerdas, kritis dan bisa membedakan mana yang merupakan peradapan, dan mana yang tidak. Perkenalannya yang hanya sebentar dengan Al-quran, telah mengembalikan aqidahnya yang hampir terlumuri oleh teori teman-temanya dari Eropa dan Barat yang jauh dari nilai-nilai Islam, berpandangan materialistik, menganggap kaum perempuan pribumi bodoh, padahal merekalah yang menciptakan situasi tersebut.

Surat Kartini kepada Ny. Abendanon tanggal 12 Oktober membuktikan itu, “Dan saya menjawab, tidak ada Tuhan kecuali Allah, kami mengatakan bahwa kami beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia, jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang, bukan manusia”.

Subhanallah, Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan mencabut hidayah dari siapa yang dikehendaki-Nya. Beruntunglah Kartini, diakhir hayatnya Allah menunjukinya jalan yang benar, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhamad adalah utusan Allah. Wanita diciptakan Allah dari tulang rusuk laki-laki untuk menjadi patner khalifah di muka bumi ini. Dan Rasul telah membebaskan perempuan dari kukungan jahiliyah yang merendahkan martabat wanita, sehingga kerja sama itu dapat dilaksankan dengan baik.

Jika Kartini pada akhir hayatnya ingin kembali kepada cahaya Allah, dan melupakan teori Barat dan Eropa, mengapa kita masih meragukan kesempurnaan ajaran Islam?. Kembalilah kepada fitrah yang telah Allah berikan kepada wanita, sebagai istri yang meneguhkan pijakan kaki suami, sebagai ibu, pendidik pertama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Tak ada yang lebih berharga dalam hidup ini, jika kita memiliki keluarga yang harmonis, suami yang sholeh, istri yang sholehah, anak yang sholeh, sehat dan cerdas, yang disinari cahaya Islam, semua itu tiidak lepas dari kreasi tangan wanita.

Saat ini yang perlu kita lakukan adalah menciptakan generasi kreatif, inovatif, prestatif, edukatif dan produktif. Adalah sebuah mimpi hal itu terwujud jika tidak dilukis oleh tangan-tangan lembut wanita. Untuk mewujudkan itu, tidak lain hanyalah wanita sholehah yang berilmu, berakal dan bertaqwa yang dapat melakukannya.

Wanita sholehah adalah sekuntum bunga terpelihara. Tidak mudah bagi kumbang mengisap madunya. Dalam dirinya tersimpan potensi kepahlawanan yang akan membawa ummat pada puncak peradaban terhormat. Wanita sholehah akan terus membuktikan prestasi kepahlawannya. Apakah keluarga kita yang perempuan termasik dalam bagiannya?

No comments:
Beri komentar