Monday, February 21, 2011

Din, Namanya...

Din, begitu aku menyebutnya. Seorang gadis kecil berusia sekitar 5 tahun, yang tiba-tiba telah berada diantara kami, saat kami tengah melepas lelah di suatu sore. Sebenarnya, dia mempunyai nama yang sangat bagus. Bahkan, sempat membuatku berucap "wooow", saat dia dengan lugas mengeja namanya. Namun, aku lebih senang memanggilnya Din. Namanya memang secantik orangnya. Meski tertutupi debu dan rambut yang kusut, namun ia tetap kelihatan manis.

Tanpa terlihat canggung, ia menyapa kami. Dan dengan keceriaan khas seorang anak kecil, ia mulai berceloteh. Ia tak pernah lelah tersenyum, menunjukkan gigi-gigi depannya yang mulai habis.

Din terlihat begitu ceria, seolah tiada beban yang dipikulnya.

" Omahku, mung soko kardus, cilik "
" Aku ora duwe ibu, ibuku minggat "
" Aku ora sekolah kok "

Kalimat-kalimat yang dilontarkan begitu polos, namun aku melihat kejujuran disana.

Din kecil dengan 2 jepit rambut ungu yang menghiasi sisi depan kiri dan kanan rambutnya yang kemerahan, dengan semangat terus bercerita.

" Din, sholat ora ?" Sebuah pertanyaan terucap. Din hanya terdiam. Begitu pula saat meluncur rangkaian kata yang mengajak untuk rajin sholat dan agar selalu berdoa memohon kepada Allah, Din tetap terdiam, menyimak setiap kata, sembari memandang dengan wajah dan sinar mata polosnya. Haru menyeruak, saat mendengar jawabnya ketika ditanya keinginannya saat ini.

"Kudung ", jawabnya lirih, masih dengan kejujurannya.

Sebuah jawaban yang tidak pernah terpikir di benak kami, dan cukup membuat kami terkejut. Subhanallah, dalam kehidupannya yang sedemikian keras, bukan materi yang diinginkannya, melainkan sebuah jilbab. Keinginan yang sederhana dan bagi sebagian orang merupakan hal yang wajar, karena itu memang kewajiban. Namun ketika keinginan itu terucap dari mulut seorang anak kecil yang sehari-hari hidup di jalanan, hal itu menimbulkan ketakjuban tersendiri bagi kami.

Kulihat Din mengalihkan pandangannya ke arah anak kecil berumur sekitar 2 tahun lebih muda darinya, yang terlihat lucu dengan jilbab biru kecilnya. Kutatap wajahnya yang menggambarkan inginnya.

Din, akankah harapmu jadi nyata ? Sanggupkah kau pertahankan inginmu dalam kerasnya duniamu ?

Din seolah tak peduli dengan seikat tanya yang tumbuh di hatiku. Ia kembali berceloteh. Melukis mimpinya di langit senja. Dan merangkai bunga-bunga cita dan harapannya. Ingin sekali kukatakan kepadanya.

Din, Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar, Allah Maha Mengabulkan Doa dan akan mengabulkan doa hamba yang memohon kepada Nya. Allah Maha Menepati Janji dan janji Allah adalah kepastian. Allah tidak akan melupakan dan tidak akan menelantarkan hamba Nya. Allah adalah sebaik-baik Penolong dan sebaik-baik Pelindung.

Allah, kiranya Engkau berkenan, untuk mengabulkan pinta mereka, dan melindungi mereka, hamba Mu yang terpinggirkan dan mungkin telah terlupakan oleh sesamanya.

Din kecil dengan sejuta mimpi. Sekecil itu telah merasakan kerasnya dunia. Namun ia masih ceria dalam keluguannya. Din tak beda dengan anak-anak lain sebayanya. Ia juga punya cita yang ingin dicapai, dan harapan yang ingin diwujudkan.
Din tidak seorang diri. Masih banyak Din-Din lain yang terlupakan dan mungkin tidak lagi dipedulikan. Mereka ada, nyata, namun seolah berada di lain dunia, karena terhijabi oleh sekat-sekat keduniawian.

Din, gadis kecil yang bermain dengan lembayung senja hari
Tatapnya tlah membuka mata akan realitas yang ada.
Senyumnya mengajarkan untuk selalu mensyukuri nikmatNya.
Keceriaanya menyadarkan betapa banyak karunia yang telah dilimpahkan Allah. Harapnya menunjukkan kasih sayang Allah yang begitu besar yang diberikan-Nya kepada seluruh hambaNya tanpa membeda-bedakan.

No comments:
Beri komentar