Sunday, February 13, 2011

Janji Melulu

Seorang wanita mengalami stres berat kemudian datang ke psikiater. Ternyata wanita itu stres karena sudah menikah tiga kali tetapi tetap saja perawan.

Psikiater bertanya, "Apa yang Anda keluhkan?"

Jawab wanita itu, "Aku stres berat karena sudah tiga kali menikah tetapi tetap saja perawan?"

Psikiater bertanya lagi, "Bagaimana bisa terjadi?"

Wanita itu menjelaskan, "Suami yang pertama impoten, suami yang kedua homoseksual, dan suami yang ketiga politikus."

Sahut psikiater, "Bukankah suami yang ketiga bisa?"

Wanita yang stres itu menjawab, "Suami yang ketiga hanya janji-janji melulu!"

Itu adalah sebuah cerita banyolan konyol yang menyinggung dunia perpolitikan dan sudah cukup terkenal di kalangan dunia politik. Dan, agaknya cerita banyolan itu mengena dengan keadaan yang terjadi dengan dunia politik. Sebuah sindiran praktis, yaitu pada umumnya para politikus itu suka mengobral janji tetapi realisasinya selalu dipertanyakan.

"Saudara-Saudara! negeri ini terpuruk karena pengelolanya tidak becus mengurus negeri ini, oleh karena itu kami bertekad untuk memperjuangkan rakyat yang selalu tertindas. Maka, janganlah salah pili! Pilihlah aku!" Demikianlah kurang lebih kalimat yang keluar dari para petualang politik di negeri ini yang sekarang sedang giat-giatnya berpetualang.

Kali ini negeri kita, Indonesia, memang akan mengadakan pemilu yang waktunya tidak lama lagi. Orang-orang menyebutnya dengan pesta demokrasi. Mereka mendambakan negara yang adil dan makmur, sejahtera dan bahagia, yaitu sebuah cita-cita yang tinggi. Tetapi, mengapa orang-orang tidak berpikir bahwa pemilu di negeri ini telah diadakan berkali-kali. Toh keadaannya tetap saja begini. Rakyat kecil masih tetap menderita dari dulu hingga kini. Apakah para pemimpin kita itu menepati janji?

Pada zaman orde lama, zaman kepemimpinan Soekarno, pemilu dimenangkan oleh barisan nasionalis sekuler. Mereka telah berjanji hendak menyejahterakan rakyat. Ketika mereka berkuasa tidak menjadikannya rakyat makmur sejahtera. Karena pemimpinnnya gila politik dan harga diri kebangsaan. Meskipun rakyatnya menderita, dibangunnya bangunan-bangunan mercusuar agar terpandang di dunia.

Pada zaman orde baru, zaman kepemipinan Soeharto, pemilu dimenangkan oleh barisan nasionalis Islam. Mereka telah berjanji hendak menyejahterakan rakyat. Ketika mereka berkuasa juga tidak menjadikannya rakyat makmur dan sejahtera. Karena, pemimpinnya lebih mengutamakan keluarganya, kroni-kroninya, dan para pengusahanya. Akibatnya, negara ini penuh dengan utang dan kerusakan akibat ulah para kroni-kroninya dan para pengusahanya.

Kemudian, bergantilah pada zaman reformasi ini, zaman kepemimpinan Habibi, Gus Dur, dan Megawati. Mereka berjanji hendak memberantas KKN untuk menyejahterakan rakyat. Dulunya tokoh-tokoh reformis seperti Gus Dur dan Megawati itu selalu menghujat pemerintah karena KKN-nya. Tetapi, ketika mereka menjadi pemerintah, KKN tetap saja dipertahankannya. Janji tinggallah janji!

Akhirnya, zaman ini kemudian penuh diwarnai dengan hiruk-pikuk ketidakpercayaan. Keadaannya seolah-olah sudah tidak ada orang yang dapat dipercaya. Hingga kini rakyat masih menunggu kejelasan karena berada dalam ketidakjelasan. Sampai-samapai ada yang melontarkan kalimat yang sadis, "Kalau saja orang-orang seusia 30 tahun ke atas dibunuh!" Maksudnya, untuk menghilangkan budaya KKN yang sudah mengakar di negeri ini, orang-orang yang berusia 30 tahun ke atas yang telah terkontaminasi dengan pemerintahan yang lama itu perlu dibunuh. Nauzubilah.

Kita mendengar konon katanya di negeri tetangga kita, Malaysia, rakyatnya sudah lebih makmur daripada di negeri Indonesia. Padahal, perbandingan kekayaan negerinya, negeri Indonesia masih jauh lebih kaya daripada Malaysia.

Konon katanya di negeri kerajaan yang jauh di sana, Arab Saudi, rajanya membagi-bagikan makanan kepada orang-orang miskin. Negeri itu rakyatnya lebih makmur dan sejahtera daripada negeri ini. Padahal, sistem pemerintahannya masih kerajaan, yang katanya tidak lebih baik dari sistem demokrasi. Jadi, ternyata ada yang salah di dalam pengelolaan negara selama ini.

Kini dengan semangat yang baru, dengan sistem pemilihan yang baru pula, para politikus kembali mengajak masyarakat untuk bersatu membangun Indonesia yang baru. Mereka berkeliaran ke sana ke mari. Dan, ternyata orang-orangnya sebagian besar adalah sama seperti yang kita lihat dan kita dengar selama ini. Mereka datang menemui rakyat kecil untuk mencari simpati. Dengan semangat jiwa yang berkobar-kobar, mereka singsingkan lengan baju, demi mencapai cita-cita yang dituju, yaitu mereka ingin sekali menjadi orang nomor satu. Bicaranya mengeras, memukau, dan menyentuh hati. Tidak lain karena mereka menumpahkan kembali janji-janji.

Berpikirlah wahai orang-orang! Jika Anda tertarik dengan mereka karena janji-janji, bukankah mereka selama ini telah mengingkari janji? Kita masih berharap semoga negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang menepati janji.

No comments:
Beri komentar