Monday, February 21, 2011

Parade Kebodohan

Siapa yang tidak terpingkal-pingkal tertawa melihat ‘kebodohan’ Mr. Bean dalam setiap aksinya di berbagai film yang sering kita saksikan. Kebodohan demi kebodohan dipraktekkan tokoh lucu yang hanya sesekali berbicara itu hanya untuk memancing tawa para penonton. Dan berhasil. Jauh sebelumnya, Charlie Chaplin telah lama menjadi simbol komedi layar kaca, dan bahkan Chaplin pun menjadi legenda dalam dunia komedi meski penampilannya (terkait dengan teknologi saat itu) tanpa kata-kata dan hitam putih. Praktis, penonton hanya diperlihatkan beragam perilaku lucu (saya lebih senang menyebutnya: bodoh) sang bintang yang khas dengan kumis perseginya.

Di negeri kita, tidak sedikit juga para aktor yang melakoni ‘kebodohan’ untuk menyedot perhatian pemirsa. Bing Slamet misalnya, siapa yang bakal lupa dengan mata ayah dari Adi Bing Slamet itu yang bisa berputar-putar sambil melotot, atau aksi-aksi lucu lainnya di berbagai film yang pernah dibintanginya. Meski sudah tiada, tetap saja orang masih mengingat jasanya dalam dunia hiburan. Setelah Bing Slamet, masih ada Benyamin Sueb yang juga dikenal dengan sebutan Bang Ben. Puluhan film telah dimainkannya, dan lagi-lagi, peran-peran ‘bodoh’ tidak luput dari aksi sang bintang legendaris itu. Yang lebih jelas lagi, anda pasti ingat tokoh Kabayan dalam komedi Sunda, Jawa Barat. Sangat kuat karakter kebodohan yang ditampilkannya, meski dalam setiap kisahnya, selalu menyandingkan kebodohan yang diakhiri dengan keberuntungan karena meski bodoh, Kabayan memiliki sifat yang sering tidak dimiliki orang lain, kejujuran.

Mr. Bean, Charlie Chaplin, Bing Slamet, Benyamin S, Kabayan dan para aktor komedi lainnya, sesungguhnya tidak benar-benar bodoh seperti yang tergambarkan dalam setiap aksinya di layar kaca. Bisa jadi mereka adalah orang-orang cerdas yang melakoni aksi bodohnya hanya sekedar untuk menghibur, mengundang tawa, menyedot perhatian penonton. Dan tidak sedikit pula, popularitas dan kekayaan diraih dari peran ‘bodoh’ itu.

Bodoh. Satu kata yang sulit diterjemahkan secara pasti. Karena memang, ada beragam kebodohan yang terjadi di pentas kehidupan ini. Ada yang dibilang bodoh karena ketidaktahuan mereka terhadap sesuatu hal, dan ini dianggap wajar jika orang tersebut memang betul-betul belum mengetahuinya. Bisa dipastikan, pemikiran dan langkahnya akan salah atau minimal tidak sesuai dengan yang semestinya berlaku. Jenis bodoh yang lain, seperti yang ditampilkan para pelawak atau aktor komedi yang bertujuan untuk menghibur, atau bahkan mencari popularitas dan kekayaan meski tak sesungguhnya mereka benar-benar bodoh. Namun ada pula bentuk kebodohan yang lain yang tidak masuk dua kategori diatas, yakni mereka yang sebenarnya tahu akan sesuatu hal, namun sering kali bertindak diluar kontrol dan akal sehatnya. Sehingga tidak jarang, orang-orang seperti ini juga menjadi bahan tertawaan (lebih tepatnya, bahan olok-olok atau cemoohan).

Dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman, parade kebodohan dari ketiga kategori itu akan selalu ada. Keberadaan para tokoh ‘bodoh’ dalam dunia komedi di luar negeri, pertanda juga bahwa tidak hanya di negeri ini terdapat orang-orang bodoh. Karena biasanya, para tokoh komedi memerankan karakter-karakter bodoh yang sering mereka dapatkan, mereka lihat dan saksikan langsung dari manusia-manusia lain di lingkungan mereka. Manusia-manusia itu bisa pejabat, kepala negara, politisi dan anggota dewan, aparat negara, para pengusaha, pedagang atau hanya sekedar anggota masyarakat biasa.

Saya senantiasa berpikir, bahwa kategori kebodohan pertama, masih bisa dibenarkan. Yang salah adalah ketika orang tersebut tidak bisa mengambil pelajaran dari kecerobohan pertama yang dibuatnya karena kebelumtahuannya. Jenis kebodohan kedua, juga bisa disahkan. Karena orang-orang tersebut, setidaknya cukup berjasa menghibur banyak orang meski tidak jarang cap ‘bodoh’ harus mereka terima sebagai konsekuensi peran-peran mereka. Selain juga mereka punya alasan yang cukup bisa diterima, manusiawi jika seseorang menggunakan kemahirannya untuk mencari nafkah hidup.

Yang menjadi masalah adalah kebodohan yang berlaku di dunia ini oleh orang-orang yang tidak menggunakan akal sehatnya, sehingga seringkali melakukan hal-hal diluar kontrol hati nurani dan tidak logis. Sejak Qabil yang membunuh saudaranya sendiri demi mendapatkan seorang gadis cantik, Fir’aun yang diktator dan merasa lebih hebat dari Tuhan, Hamman yang sombong dengan ketinggian ilmunya dan Qarun yang menganggap kekayaannya yang berlimpah bisa melindunginya dari kepunahan. Dan anda tahu, melihat dari sejarah itu, tak satupun orang-orang bodoh dari kategori ketiga ini yang selamat!

Hingga kini, parade kebodohan itu masih berlangsung, dan mungkin akan terus terjadi sampai hari akhir nanti. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita akan termasuk dalam golongan orang-orang bodoh karena tidak menggunakan akal sehat ini? Padahal berkali-kali sangat tegas Allah mengingatkan hamba-Nya untuk tidak berlaku bodoh. Banyak ayat dalam Al Qur’an yang diakhiri dengan kalimat-kalimat “... jika kamu berakal”, “... bagi orang-orang yang berakal”, “... orang-orang yang menggunakan akalnya” dan lain-lain.

Renungkanlah ayat berikut, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS. Ali Imran:190). Ayat ini hanyalah satu dari sekian banyak ayat yang menerangkan betapa bertindak benar sesuai akal sehat-lah yang dapat menghindarkan kita dari perilaku-perilaku bodoh, salah, dan tidak logis. Sehingga, tidak jarang sesudahnya, cemoohan, olok-olok dan bahkan kecaman bertubi-tubi dialamatkan kepada kita.

Namun, bukan berarti bertindak benar dan cerdas itu tidak akan mengalami tantangan. Karena sejarah pun mencatat deretan manusia-manusia yang mencoba konsisten dengan akal sehat meraka dengan resiko dan tantangan yang harus diterima. Sebutlah Nabi Nuh alaihi salam, mengikuti perintah Allah membuat Kapal Besar di musim kemarau tentulah mengundang olok-olok dan Nabi Allah itupun dianggap gila. Dianggap gila masih lebih baik, karena yang dialami Galileo Galilei jauh lebih parah. Teori Geosentris yang diagungkan gereja sedikit terbantahkan oleh terori yang dikemukakan Nicolaus Copernicus, bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta. Penelitian Copernicus itu kemudian diperkuat oleh Galileo Galilei dan Kepler yang berteori, matahari-lah pusat alam semesta sebenarnya (heliosentris). Dianggap menentang ketentuan dewan gereja, Galilei ditangkap dan dihukum mati oleh dewan gereja. Kebenaran teori heliosentris itu baru bisa dibuktikan 150 tahun kemudian oleh Isaac Newton, dimana sesungguhnya teori tersebut telah termaktub dalam Surat Yasiin ayat 40.

Artinya, bertindak benar, sesuai dengan hati nurani dan sejalan dengan akal sehat bukan tanpa perjuangan. Tapi, nampaknya, jika kita masih punya akal sehat dan nurani, sejatinya lebih memilih melewati segala bentuk perjuangan tersebut ketimbang menerima predikat ‘bodoh’, kecuali memang kita adalah orang-orang bodoh sebenarnya. Wallaahu’a’lam bishshowaab

No comments:
Beri komentar