Monday, February 21, 2011

Perjalanan Menuju Ilmu

Al kisah, seorang nenek tinggal beserta dua orang cucunya di sebuah gubuk kecil di kaki bukit. Nenek itu sudah cukup renta, dan sering sakit-sakitan. Setahun sudah sang nenek sakit dan kondisinya pun semakin lemah. Mengetahui kondisinya yang menjelang ajal, akhirnya ia memanggil kedua cucunya untuk menyampaikan pesan-pesan terakhirnya.

Kedua cucu kakak beradik itu duduk di samping neneknya sambil memijiti kakinya, kemudian berkata kepada cucunya, “Cucuku, rasanya ajalku semakin dekat dan tidak akan ada lagi yang akan menjaga kalian. Untuk itu aku ingin memberikan sesuatu agar kalian tidak kekurangan setelah aku tinggalkan.” Kakak beradik itu tertegun setelah mendengar ucapan neneknya, dan berkata “Nenek jangan berkata begitu”.

Dengan lirih, sang nenek kembali berkata, ”Aku ingin kalian menuju ke suatu daerah, untuk itu aku akan memberi kalian sebuah peta perjalanan. Tapi setahuku, daerah yang dimaksud itu sangat jauh dan butuh waktu tempuh bertahun-tahun. Mungkin kalian akan sampai disana ketika usia kalian menjelang senja. Untuk biaya ke sana nenek mungkin tidak punya uang banyak. Tapi untuk perjalanan pertama akan nenek berikan emas simpanan nenek. Emas itu hanya dapat digunakan sampai ke kota pertama. Setelah itu kalian cari biaya sendiri,” jelas sang nenek.

“kenapa Kami Harus Kesana Nek?”, Kata cucu pertama. "Bukankan di kota terdekat kami bisa hidup dan tinggal di sana?" lanjutnya.

Neneknya menjawab, "Disana kalian akan mendapatkan sesuatu yang berharga."

“Apa itu nek?” tanya cucu ke dua.

“Kalian akan tahu sendiri ketika kalian sampai di sana". Akhirnya kata itu adalah kata terakhir yang tercucap dari bibir sang nenek. Dan sang nenek pun meninggal dunia.

Sehari setelah berkabung. Mereka mulai memikirkan wasiat terakhir neneknya. “Bagaimana dik, apakah kita berangkat sekarang menuju tempat yang dikatakan nenek?” ujar cucu pertama yang lebih tua beberapa tahun dari adiknya. “Sebaiknya kita berangkat segera kak” jawab adiknya.

Setelah sebulan perjalanan yang melelahkan kedua saudara itu pun sampai di sebuah desa. Di sekitar desa itu dipenuhi oleh lahan pertanian yang luas. Masyarakat disana hidup bertani. Saat mereka datang tampak sebagian besar penduduknya sedang memanen hasil pertaniannya. Melihat itu, sang kakak pun berkata, “Dik, makmur sekali negeri ini.“ Adiknya menimpali, “Di tempat kita tidak pernah kita temui hasil panen yang sebagus ini”.

Kedua saudara itu tampak terkagum-kagum dengan pandangan di depan matanya. “Oh ya... bukankah uang kita telah habis untuk sebulan perjalanan?” tanya sang kakak. “Bagaimana kalau kita mengumpulkan uang dulu untuk bekal perjalanan berikutnya?” tambahnya lagi. Adiknya setuju. Akhirnya mereka berdua bekerja pada sebuah keluarga yang memiliki lahan yang luas. Disana mereka diajarkan bercocok tanam sehingga mereka bisa menjadi pekerja di kebun itu.

Tak terasa, enam bulan sudah mereka disana. Tanaman yang mereka tanam sudah menampakkan hasil. Sepekan setelah itu mereka akan menuai panen. “Tampaknya hasil panen ini akan cukup untuk perjalanan berikutnya,” ujar sang kakak.

Usai panen, akhirnya mereka meneruskan perjalanan menuju daerah berikutnya.

Daerah kedua yang mereka temui adalah sebuah padang rumput yang luas. Mereka kembali heran, bagaimana masyarakat disana hidup? Tidak sedikitpun terlihat daerah sesubur tempat yang mereka kunjungi pertama kali. Namun, di balik bukit mereka menemui segerombolan domba yang jumlahnya ratusan. Beberapa saat setelah itu mereka sadar bahwa mata pencaharian masyarakat disana adalah beternak.

"Kak, baru kali ini aku menemui peternakan domba yang sebesar ini” ujar sang adik kagum. Kakaknya pun meng-iyakan. “Kalau begitu, seperti sebelumnya, kita harus mengumpulkan bekal dulu untuk perjalanan berikutnya. Bagaimana kalau kita coba bekerja pada tuan pemilik peternakan ini?” seru sang kakak.

Mereka mulai bekerja sambil belajar bagaimana merawat ternak yang baik.

Genap setahun, mereka kembali memikirkan perjalanan mereka. “Sudah saatnya kita berangkat dik”, ujar sang kakak tetap bersemangat. “Saya sepertinya tinggal di sini saja kak” jawab sang adik ragu. Sang kakak pun kaget mendengar ucapan adiknya. “Apa kamu tidak ingin menunaikan wasiat nenek?” tanya sang kakak menahan emosi. “Saya pikir nenek hanya menginginkan kebahagiaan untuk kita dan saya sudah bahagia disini, sebentar lagi saya akan memperoleh hasil yang cukup besar dan itu bisa saya kembangkan disini,” jawab sang adik.

Sang kakak pun akhirnya mengalah.

Pemuda itu berangkat sendiri ke daerah berikutnya. Setelah beberapa pekan perjalanannya, dia pun sampai di sebuah pantai. Dimana masyarakatnya hidup sebagai nelayan. Dan seperti biasa, ia tinggal disana beberapa waktu untuk menyiapkan bekal berjalanannya. Begitu seterusnya. Separuh dari umurnya sudah melewati berbagai daerah dengan suasana dan kehidupan yang berbeda.

Suatu saat, sang lelaki itu sampai pada suatu daerah yang unik. Dalam setiap perjalanannya baru kali ini dia menemui negeri yang memiliki alam yang indah dengan kehidupan masyarakatnya hampir semuanya makmur. Disana dia menemui daerah yang memiliki semua ciri yang ada pada setiap perjalanannya. Masyarakat disana hidup dengan berbagai corak yang berbeda, ada yang berdagang, bertani, nelayan, dan di pusat kota terdapat bangunan-bangunan indah dan megah. Sungguh sebuah negeri yang sempurna. Mendadak sang pemuda memperhatikan dirinya di sebuah cermin. Dia kaget, melihat sosok yang ada di cermin tersebut. Tampak kulit wajah yang mulai keriput dan rambut yang hampir separuhnya memutih. Dia teringat akan perkataan neneknya. “perjalanan itu akan sampai pada usia kamu menjelang senja”.

Sang cucu akhirnya merenung, mungkinkah ini daerah akhir dari perjalanannya? Tapi apa yang akan aku dapatkan di sini? Untuk meyakinkan dirinya dia mencoba melihat peta pemberian neneknya. Benar, sepertinya inilah daerah terakhir yang aku tuju. Tapi apa yang aku dapatkan di sini?

Beberapa pekan setelah itu.

Ada pengumuman bahwa Sang Raja mencari orang yang memiliki keterampilan yang banyak dan ilmu yang luas untuk dijadikan penasehatnya. Berduyun-duyun masyarakat disana mulai mendaftar dan masing-masing harus mengikuti seleksi dari kerajaan. Setelah melalui tahap seleksi yang panjang, akhirnya diumumkan bahwa yang berhak menjadi penasehat Raja adalah seorang pemuda yang bernama Karim.

Karim. Dialah lelaki yang menghabiskan umurnya dengan melakukan perjalanan panjang tadi.

***

Sobat, perjalanan mencari ilmu adalah sebuah perjalanan panjang usia kita. Rasulullah pernah mengatakan, "Tuntutlah ilmu dari semenjak lahir hingga ke liang lahat". Betapa Rasulullah memuliakan ilmu dengan menyuruh kita belajar hingga ajal menjelang.

Kita juga pernah mendenger anjuran, “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina”. Betapa pentingnya ilmu hingga jarak yang jauh tidak menjadi hambatan untuk mempelajarinya.

Ali Bin Abu thalib mengatakan bahwa ilmu itu lebih baik dari pada harta, karena ilmu akan menjaga kamu sedangkan kamu harus menjaga harta. Ilmu itu akan bertambah jika diberikan sementara harta akan berkurang jika diberikan. Ulama itu tetap hidup meskipun jasadnya telah tiada karena pemikirannya masih tetap ada.

Rasullullah bersabda “Barang siapa yang menuntut ilmu bukan karena Allah maka ia tidak akan keluar dari dunia sehingga ilmu itu datang (memaksa) agar menuntut ilmunya itu karena Allah. Barang siapa yang menuntut ilmu karena Allah maka ia seperti orang yang berpuasa pada siang dan bangun untuk beribadah pada malam hari. Dan sesungguhnya satu bab ilmu yang dipelajari oleh seseorang itu lebih baik daripada ia mempunyai emas sebesar bukit Abu Qubais lalu ia menginfakkan pada jalan Allah Ta’ala”.

Amal adalah pasangan Ilmu. Tanpa amal, ilmu akan mati. Tanpa amal ilmu tiada guna. Tanpa amal ilmu akan pergi meninggalkan kita. Maka amalkanlah ilmu. Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Ilmu itu pada mulanya adalah diam, kemudian mendengarkan, lalu menghafalkan (mengingat), lantas mengamalkannya, dan terakhir menyiarkannya”.

Saya teringat sebuah kata-kata, “tidak ada lift untuk menuntut ilmu, kita harus menaikinya melewati setiap anak tangga”. Dan Thomas Alfa Edison pun berkata, "Genius is one percent inspiration and ninety-nine percent perspiration.

No comments:
Beri komentar