Friday, April 8, 2011

Dan Kumbang Terpilih Menyuntingmu

Cahaya cinta yang diberkati
Dibalut karunia dan ridha Ilahi Inilah hari yang dinanti
Ketika madu suci temukan kumbang sejati
Menjaga dan memiliki wangimu dengan nama-Nya

***
Tibalah waktu yang ditunggu-tunggu itu!

Wahai putriku terkasih, telah datang seorang pemuda berhati jernih ke hadapanku. Matanya yang jujur dan lisannya yang santun telah memikatku untuk bertanya padanya. "Apa yang kau inginkan dari putriku, wahai pemuda?". Dan ketika dijawabnya bahwa ia inginkan engkau sebagai pendamping hidupnya untuk bersama-sama mengabdi padaNya, aku bisa tersenyum lega. Dan saat disampaikannya asa untuk memiliki para generasi rabbani serta pejuang-pejuang mungil yang akan lahir dari rahim sucimu, aku telah menangis bahagia di dalam hati.

Sungguh, setelah perjuangan beratmu untuk tetap bertahan di tengah padang yang penuh dengan ilalang liar telah usai, maka sudah waktunya seekor kumbang yang terpilih datang untuk menyuntingmu. Dengan pesona wangimu yang suci, serta keanggunan dan kehormatanmu yang terus kau jaga tanpa cela, telah menempatkan sosokmu pada posisi wanita yang layak untuk dipilih. Namun satu hal yang perlu kau ingat adalah, bahwa setelah mekarnya kuntum milikmu itu, maka perjuangan belumlah usai. Pernikahan adalah sebuah titik balik di mana medan perjuangan sudah berubah. Kau bukan seorang gadis lagi. Tanggung jawab, atensi serta wilayah perjuanganmu telah bertambah, kau harus mulai memikirkan keluargamu, anak-anakmu, serta suami. Maka, pesanku padamu, tetaplah kau jaga semerbak wangi yang telah kau jaga selama ini.

Akhirnya, semoga Allah Subhaanahu wa ta'ala senantiasa merahmati dan memberkahi pernikahanmu, keluargamu serta seluruh keturunanmu kelak di kemudian hari, sehingga pada waktunya nanti mereka juga akan tetap mampu menjalani kehidupan di waktu dan jamannya masing- masing sesuai dengan jalan Allah Subhaanahu wa ta'ala yang telah ditentukan. Amin ya rabbal alamiin.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin.


***
Habibillah, Haikal Hira | 2008 | Sebab Mekarmu Hanya Sekali : Surat Cinta Untuk Putri Tercinta | Jatinangor: Pustaka El-Posowi

No comments:
Beri komentar