Friday, April 8, 2011

Penyakit Hati dan Terapinya

Hati adalah sumber kepribadian kita. Ia adalah pemimpin dan pengarah seluruh perilaku keseharian kita. Ia adalah tempat kehidupan kejiwaan dan spiritual kita. Hati itu pada awalnya suci, fitri, cenderung kepada Allah, penciptanya. Lalu kemudian ia dikotori oleh dosa-dosa dan kedurhakaan kepada Allah dan kepada sesama. Bila kotoran itu telah menutupi hati, ia akan sakit, lalu malas beribadah, sulit menerima nasihat. Bila kondisi itu tidak segera ditangani, hati bisa mati, lalu kafir, melawan Allah, menilai yang baik itu buruk, dan yang batil itu sebagai kebenaran.

Alquran menjelaskan bahwa orang munafiq itu sakit hatinya. Oleh karena mereka tidak melakukan terapi, penyakit mereka semakin parah. Allah berfirman, ''Di hati mereka [orang-orang munafiq itu] ada penyakit, lalu Allah menambahkan penyakit mereka.'' (QS Al-Baqarah: 10).

Penyakit-penyakit hati itu, antara lain syirik, takabur, hasad, dan riya. Keempat penyakit ini secara terpisah mampu mematikan iman dalam hati kita, apalagi bila keempatnya berkumpul menjadi satu, maka dapat dipastikan bahwa Iman dalam keadaan bahaya.

Ada beberapa terapi penyakit hati. Pertama, berpegang pada Alquran. Membaca Alquran, merenungkan kandungannya, mempelajari tuntunannya, mengamalkan petunjuknya. Itu adalah obat yang paling manjur untuk menyembuhkan penyakit hati dan sekaligus menyucikan dan menguatkannya. ''Wahai sekalian manusia, telah datang kepadamu nasihat dari tuhanmu dan obat terhadap [penyakit-penyakit] di dalam hati, serta petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman (QS Yunus: 57)

Kedua, memahami bahaya penyakit hati. Memahami bahaya penyakit hati adalah syarat utama dalam upaya penyembuhan, bahkan pencegahan. Karena dengan memahami bahwa syirik itu meruntuhkan amal, kita tentu berupaya keras untuk menjauhinya. Jika kita mengetahui bahwa takabur itu penyebab masuk neraka, hasad itu penyebab habisnya amal saleh, riya itu penyebabnya ditolaknya ibadah, maka kita termotivasi untuk waspada dan senantiasa ber-mujahadat untuk menghindarinya.

Ketiga, merasakan adanya penyakit hati. Kesadaran kita bahwa kita sedang sakit hati sangatlah penting untuk upaya terapi. Oleh karena, kebanyakan orang yang sakit hati, mengingkari keberadaan penyakit tersebut dalam hatinya. Lalu bagaimana ia akan terdorong untuk melakukan terapi.

Untuk mengetahui keberadaan penyakit hati, perhatikanlah indikasi dan gejalanya. Contoh bila masih percaya pada ramalan bintang, itu indikasi syirik. Bila masih percaya para paranormal, itu gejala syirik. Bila sering memaki orang itu indikasi takabur. Bila ada perasaan tidak senang bila orang lain mendapat nikmat, itu gejala hasad. Bila ada perasaan kesal, marah bila tidak dipuji orang, itu awal dari riya.

Keempat, berkawan dengan orang saleh. Bersahabat dengan orang yang saleh sangat berpengaruh positif pada peningkatan iman, kesucian hati, kepatuhan beribadah dan sebaliknya jika kawan dan lingkungan kita tidak beribadah, malah rajin berbuat dosa, kita pun akan terpengaruh.

Kelima, memperbanyak zikir dan doa. Zikir dan doa sangat berperan dalam kesehatan dan kesucian hati. Oleh karena itu, zikir dan doa itu mendekatkan kita kepada Allah, penguasa hati kita, penentu suasana hati kita. Zikir dan doa adalah manifestasi kesungguhan kita untuk menyucikan hati.

Akhirnya, kepada Allah jualah kita memohon keikhlasan dan kemauan keras untuk merubah dan memperbaiki diri agar bahagia, damai, mulia, dan selamat. Amin.

No comments:
Beri komentar