Monday, May 2, 2011

Menghargai Profesi

Misalkan anda seorang ibu rumah tangga. Banggakah anda dengan profesi anda itu? Jika anda bangga, manakah yang lebih membanggakan anda, menjadi wanita yang berkarir di luar rumah ataukah menjadi ibu rumah tangga. Sebagian kita mungkin lebih bangga menjalani profesi sebagai wanita karir dibandingkan dengan 'hanya' menjadi ibu rumah tangga saja.

Penghargaan dari masyarakat yang lebih tinggi terhadap wanita karir bisa jadi membuat seseorang tidaklah bangga menjadi ibu rumah tangga. Dalam suatu acara untuk muslimah, seorang moderator memperkenalkan salah satu pembicara yang seorang dokter dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Seseorang ibu yang duduk tidak jauh dari tempat duduk saya nyeletuk yang isinya kurang lebih begini, "Sekolah tinggi-tinggi hingga jadi dokter, akhirnya cuma jadi ibu rumah tangga".

Kita sering tanpa sadar tidak menghargai beberapa profesi tertentu. Ibu rumah tangga, pembantu rumah tangga, tukang kebun, tukang becak, adalah hanya sebagian dari profesi-profesi yang kita anggap sepele dan hanya sebagai pelengkap. Semua ini bisa jadi karena kesombongan diri kita yang menganggap hina profesi ini. Profesi-profesi seperti dokter dan lain-lain adalah pekerjaan yang lebih terhormat dalam pandangan kita.

Ibu rumah tangga yang bekerja di rumah, pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah, atau profesi apapun juga sama dengan pekerja lainnya yang bekerja di kantor, yang berbeda adalah medianya. Jika ada profesi-profesi tertentu yang tidak kita hargai dengan alasan semisal profesi tersebut tidak membutuhkan ilmu yang tinggi, maka itu adalah salah besar. Ketrampilan mengerjakan sesuatu adalah suatu ilmu juga.

Islam sendiri sangat menghargai segala jenis profesi yang baik dan yang memberikan manfaat. Al-Qur'an juga mengapresiasi pekerjaan anak perempuan Nabi Syu'aib as, ketika menjadi penggembala kambing (QS. An-Naml: 20-44). "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain" (H.R. Bukhari). Jadi profesi seseorang tidaklah terlalu penting sepanjang itu profesi yang baik, tetapi yang paling penting adalah apakah dengan profesinya itu ia dapat memberi manfaat sebanyak-banyaknya atau tidak.

Seorang wanita berkebangsaan Filipina, bekerja di Arabic Islamic Institute sebagai tukang bersih-bersih di lantai 2 yang khusus untuk wanita. Saya perhatikan, dia bekerja dengan sangat baik. Lantai begitu bersih, meja-meja pun tanpa debu. Toilet dan tempat wudhu juga bersih dan wangi, sampah yang ada cepat dibuang.

Saya bandingkan dengan dulu ketika belum ada tukang bersih-bersih di tempat wanita. Sampah bertumpuk di toilet. Sampah yang sama masih berada di tempatnya ketika keesokan harinya saya datang lagi. Betapa kehadiran wanita itu telah memberi manfaat bagi orang lain. Wanita Filipina itu bekerja dengan sangat baik. 'Hasil karyanya' membuat siapa saja merasa nyaman berada disana. Ia sudah memberi manfaat kepada banyak orang walaupun profesinya hanyalah seorang tukang bersih-bersih.

Sesungguhnya kita hidup dalam suatu jamaah besar dimana dalam jamaah itu ada pembagian kerja dan masing-masing orang bekerja sesuai dengan keahliannya. Tidak ada orang yang lebih berharga dibandingkan orang lain. Semua orang sama berharganya karena kita selalu saling membutuhkan. Kita membutuhkan ibu rumah tangga, pembantu rumah tangga, sopir, pelayan toko seperti halnya kita membutuhkan dokter, arsitek, dan lain-lain. Wallahu 'a'lam bishshowab.

No comments:
Beri komentar