Monday, May 2, 2011

Menjadi Yang Kedua

"Mintalah fatwa dari hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tentram jiwa padanya dan tentram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa dan ragu-ragu dalam hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan membenarkannya." (HR. Ahmad)

Semoga Allah menjernihkan hati-hati kita dalam mengambil setiap keputusan hidup. Hadits Rasulullah diatas terngiang terus ditelingaku. Saat itu telah tiba. Saat untuk mengambil keputusan besar dalam hidupku. Menjadi istri kedua dari seorang yang terkenal karena kesolehan dan kebaikannya kepada hamba Allah. Sebagai seorang gadis, sulit memang bagi orangtuaku untuk ‘mengangguk lega’ dengan penerimaanku menjadi istri kedua. Polemik jiwa yang sama pun mulai menghampiriku. Keraguan mulai menyeruak dalam diriku. Sms yang baru saja kuterima untuk taaruf membuatku semakin bertanya dalam diri. Inikah ketentuan Allah untukku?

Aku memang menerima taadud -biasa dikenal poligami- sebagai salah satu syariat Islam. Ketika aku bersyahadat kembali di tahun 1999 aku mencoba mengaplikasikan Qur’an dan Hadits dalam kehidupanku -walau belum mampu seluruhnya-. Dimulai dengan berjilbab dan mulai mentadaburri al-Qur’an. Kini aku dihadapkan pada keputusan yang mungkin akan mengubah kehidupanku. Dengan satu niat mengharapkan keridhaan dan rahmat Allah sms itupun kujawab. Aku setuju untuk melangkah lebih jauh untuk taaruf.

Perlahan kubuka kembali terjemah al-Qur’an dihadapanku. “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nissa : 3)

Selepas isya telepon berdering. Dengan menarik nafas dan melafalkan basmallah kuangkat telepon seraya mengucap salam. Suara yang tak asing terdengar. Hati-hati sekali ia membuka percakapan.

Pertanyaan seputar motivasi dan harapannya tentang taadud membuka percakapan kami. Alasan yang sungguh mulia, ia ingin berdakwah bersama dan melindungiku dari pengaruh masa laluku sebagai seorang misionaris. Bersandar pada Al-Qur’an surat An Nissa ayat 129-yang masih lekat ditanganku- kubacakan harapanku, “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Tersentak aku memang pada awalnya. There’s nothing wrong with his family, everything is allright. Hanya alasan yang mulia itu. Istri dan ketiga anaknya akan datang ke Jakarta pertengahan tahun ini. Semoga dapat mengobati kerinduannya pada keluarganya yang selama ini jauh. Alasan itu menjatuhkanku pada keraguan untuk melangkah lebih jauh. Aku tidak ingin menyakiti perasaan keluarganya dan tidak ingin mereka tersakiti karena teror yang mungkin datang dari masa laluku. Aku tidak ingin merasakan kehilangan yang sama seperti kehilangan ibu dan calon suamiku karena teror akibat masa laluku.

Saatnya untuk kembali berkonsultasi dengan Allah. Dalam sujudku yang panjang. Dalam keheningan malam. Dengan izinMu, Ya Allah izinkan hamba meminta fatwa dari hati ini. Begitu baik referensi tentang dirinya, kharisma yang mewarnai perkataan dan sikapnya. Dengan segala pertimbangan, berat rasanya aku untuk mengatakan iya. Ku ingin sendiri dulu. Itu keputusan yang akhirnya kuambil.

Sebelum ia beranjak pergi menemui istrinya, kami berbicara tentang keputusanku. Ada rasa lega menelisik sanubari karena aku sudah mampu mengambil keputusan sendiri. Aku semakin dewasa pikirku dalam hati. Ini jawaban do’aku tempo hari. Aku ingin dewasa dan lebih bijak memandang hidup pintaku suatu hari. Selama ini aku selalu mendengarkan sekelilingku walau rasa ragu di hati itu seakan mengajakku untuk berpikir sejenak tentang keputusanku. Hidup ini memang muara tarbiyah dengan mutiara hikmah bertebaran diantaranya. Saatnya untuk mulai mendulang mutiara hikmah dalam hidup dan melihat pelajaran berharga dalam setiap peristiwa.

Dalam keheningan hati kumenerima sms :

Jazakillah semoga ini keputusan terbaik sesuai kehendak Allah, Dan semoga ukhti diberikan yang terbaik oleh Allah, Dan semoga hal ini tidak menyebabkan rasa tidak enak dari ukhti. Insyaa Allah biasa aja

Alhamdulillah…..proses ini berakhir dengan baik dan penerimaan yang baik. Tentram terasa di hati, fatwa hati dengan bimbingan Allah memunculkan satu keyakinan. Insya Allah ini keputusan yang tepat. Semoga Allah tetap menghimpunkan kami sebagai saudara yang saling mencintai karena Allah diatas mimbar cahaya-Nya di yaumil akhir.

Teruntuk seorang hamba Allah yang mulia, Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik dalam menapaki kehidupan.

(Catatan dari seorang teman...)

No comments:
Beri komentar