Wednesday, February 8, 2012

U Jump I Jump ...



“U Jump I Jump” ... jika Anda pernah menonton film Titanic versi romantik, pasti pernah mendengar ungkapan itu. Ungkapan penuh romantis yang keluar dari mulut Jack (Leonardo Dicaprio) saat Rose (Kate Winslet) hendak bunuh diri dengan melompat dari kapal mewah Titanic. Anda bisa bayangkan, jika ada seorang pria (atau wanita) yang dengan tulus mengeluarkan ungkapan semacam itu dan ditujukan kepada Anda. Terlepas dari siapa yang mengucapkannya, Anda pasti bisa langsung tersentuh, dan tak mengira ada seseorang yang secara tulus mau menanggung resiko apapun bersama Anda. U jump I Jump, bisa berarti juga “bila kamu mati, aku juga mati”. Dalam ungkapan yang lebih tidak ekstrim, “seberat apapun cobaannya, kita akan tetap bersama”, yah kurang lebih begitu.

Terkesan gombal? Memang, banyak pria maupun wanita saat ini yang tidak percaya dengan ungkapan-ungkapan diatas. Itu tidak bisa disalahkan, mengingat teramat banyak peristiwa dan kejadian yang mendukung ‘kegombalan’ ungkapan penuh romantis sejenis itu. Bisa karena faktor selingkuh salah satu dari pasangan, kekerasan dalam keluarga yang kemudian berakhir pada perceraian, atau sekedar perhatian dan kepedulian yang (semakin) berkurang seiring dengan usia pernikahan yang terus berjalan. Bahkan kisah Romeo dan Juliet pun sekedar bunga mimpi pasangan-pasangan yang tengah dimadu asmara, padahal, kisah cinta sejati dua insan itu cuma rekaan Shakespere saja, yang kisah cintanya pun tidak sebagus hasil karyanya. Meski kemudian ada beberapa berita tentang matinya sepasang kekasih karena cintanya ditentang, saya tidak yakin mereka berangkat dari ketulusan yang sama untuk ‘sehidup semati’. Intinya, rasanya tak ada di dunia ini kisah cinta sehidup semati seperti di komik-komik, cerpen, novel atau film.

Kembali pada U jump I jump, saya teringat pada sebuah keluarga yang kebetulan bertetanggaan dengan tempat saya tinggal. Sang suami yang bekerja seharian berangkat pagi dan pulang selepas maghrib, hampir tidak pernah mau peduli dengan urusan rumah tangga, karena pikirnya, pekerjaan lelaki adalah mencari nafkah buat keluarganya. Selesai. Urusan anak nangis, rewel, ngompol di tengah malam, lantai rumah yang kotor, mencuci, memasak, membersihkan rumah dan lain sebagainya, dibebankan sepenuhnya kepada istri. Pasti anda bertanya, dari mana saya tahu semua itu? istrinya sering bercerita kepada ibu saya. Biasa, pembicaraan sesama wanita, saling share dan brainstorming soal keluarga.

Di lain tempat, saya pernah (secara tidak sengaja) menyaksikan pertengkaran suami istri di suatu pagi. “Aku masih hidup saja kamu sudah selingkuh mas ... apalagi kalau aku mati ...” begitu kira-kira kata-kata yang diiringi tangisan si istri. Terkadang aku merasa geli jika mengingat-ingat kejadian itu, bisa dibayangkan kata-kata (gombal?) apa yang sering terucap dulu dari suaminya saat mereka masih berpacaran. Atau janji-janji manis macam apa yang tidak jarang membuat seseorang begitu terlena, meski sebenarnya, tidak sedikit semua itu hanya pemanis mulut orang-orang jatuh cinta.

Namun, bukan berarti benar-benar tidak ada yang ‘U jump I jump’ sesungguhnya. Karena masih ada suami-suami yang mau bangun malam menggantikan popok bekas ngompol anaknya dan membiarkan istrinya untuk lebih banyak istirahat di malam hari. Di pagi hari, sebelum berangkat kerja, masih ada suami yang mau membantu mencuci pakaian atau sekedar menyapu lantai meringankan tugas-tugas kerumahtanggaan istri. Tidak sedikit suami yang pada waktu libur atau senggang ikut bebenah, memasak, atau memandikan anak.

Empati, nampaknya teramat mudah untuk dilakukan kepada pasangan jika kita benar-benar mau melakukannya. Sekedar contoh, mencoba seolah merasakan penderitaan yang sama saat istri meregang, menahan sakit yang tak terhingga disaat persalinan, bisa dilakukan suami dengan mendampinginya, memegang kuat-kuat tangannya seraya membisikkan keyakinan kita tetap disampingnya. Atau coba sesekali membayangkan, betapa membosankannya hidup yang harus dijalani seorang istri yang seharian penuh hanya berkutat dengan urusan rumah, dapur, anak-anak dan seks. Bandingkan dengan suami yang hidup lebih variatif dan dinamis (atas dasar kewajiban) bisa keluar rumah atau ke tempat lainnya. Bukan bermaksud meminta persamaan agar istri juga ‘wajib’ keluar rumah, sebaiknya upayakan ajak istri untuk menikmati ‘dunia lain’ selain rumah dan dapur setiap pekan atau dalam berbagai kesempatan. Saya yakin, para suami tidak seegois yang dibayangkan, bahwa mereka juga pasti sangat ingin memberikan kehidupan yang lebih dinamis buat istri dan anak-anaknya. Hanya menunggu waktu.

Dalam bentuk lain, Rasulullah Saw pernah mencontohkan, meski Khadijah telah lebih dulu meninggalkannya, dan beliaupun telah menikah dengan Aisyah nan cantik, juga istri-istri lainnya. Tak pernah luntur cintanya kepada Khadijah, wanita pertama yang memeluk Islam, yang mencintai Rasul saat orang-orang membencinya, yang menghangatkannya saat kedinginan, yang menguatkannya dari keputusasaan, membantu menetapkannya akan kesabaran. Atas semua cinta Khadijah itu, sangat wajar jika jauh setelah kematiannya, Rasulullah tetap mengingat, mengenang dan menghargai jasa-jasa wanita mulia itu. Merasai tetap menjadi bagian dari hidupnya yang tak pernah bisa terlupakan, meski tak lagi ia berada disampingnya. Inilah contoh makna cinta sehidup semati.

Jika demikian, saya baru percaya, meski tidak seekstrim untuk ikut mati saat pasangannya mati, U jump I jump, pada hakekat yang lebih sederhana, sangat mungkin terealisasi. Bukan sekedar janji-janji manis saat sebelum menikah, bukan juga sumpah setia hanya pada saat duduk di pelaminan yang seringkali terlupakan seiring terkikisnya cinta yang tak sering-sering disegarkan. Jadi, masih bolehlah hati berbunga-bunga jika ada seseorang yang tulus dan sungguh-sungguh berucap “And now honey, I just want to say, U jump I Jump ...”

No comments:
Beri komentar