Thursday, March 29, 2012

Energi Ambang


Adakalanya manusia merasa malas atau berat untuk memulai suatu pekerjaan misal sewaktu akan sholat malam, bekerja pagi hari, berangkat kuliah pagi-pagi, menulis skripsi dan lain-lain. Tetapi begitu dimulai, wah ternyata tidak seberat itu... untuk selanjutnya menjadi lebih mudah bahkan kadang-kadang sulit dihentikan, apalagi jika itu berhubungan dengan kegiatan tulis-menulis.

Jika diperhatikan, gejala yang sama kita temui pada alat-alat elektronika seperti setrika. Saat mulai menyalakan setrika, butuh waktu agak lama untuk panas. Jika sudah panas, dengan sangat cepat kita bisa menaikkan temperaturnya (lebih cepat dibanding saat mulai dinyalakan). Demikian juga lampu yang butuh waktu untuk menyala pada saat di switch.

Ada apakah dalam semua gejala itu?

jika dihubungkan dengan fisika. semua benda di dunia ini punya energi ambang, sampai ke tingkat elektron sekalipun. Untuk dapat menggerakkan elektron kita perlu memberi energi di atas energi ambangnya, di bawah energi ambang, nothing happen! Tetapi di atas energi ambang, elektron sangat mobile. Dan elektron yang bergerak ini tidak lain adalah listrik yang digunakan untuk memanaskan setrika, menyalakan lampu dan lainnya. Pembentuk tubuh kita pun jika kita runut sampai yang terkecil terdiri dari atom yang memiliki elektron. Itulah sebabnya kita pun mengikuti sifat dasar dari penyusun tersebut.

Itu artinya kita punya energi ambang yang harus dilewati jika ingin mengerjakan sesuatu. Dengan kata lain perlu sesuatu dari luar untuk bisa meningkatkan mobilitas kita sehingga termotivasi untuk melakukan sesuatu pekerjaan. Jika motivasi itu kurang maka kita cenderung tidak melakukan pekerjaan tersebut. Demikian sebaliknya jika motivasi itu sangat besar maka pekerjaan itu akan terlaksana.

Hal ini sesuai jika kita hubungkan dengan Hk.I Newton tentang kelembaman yang berbunyi: "suatu benda yang diam akan cenderung diam jika tidak ada gaya luar yang bekerja padanya. Demikian juga untuk benda yang bergerak akan cenderung bergerak jika tidak ada pengaruh gaya luar".

Nah, jelas kan manusia butuh suatu "gaya" dari luar untuk mengatasi kelembamannya? "Gaya" bisa di ekivalensikan dengan motivasi.

Sebagai umat Islam, motivasi terbesar adalah adanya janji Allah SWT jika kita meniatkan segala sesuatunya untuk ibadah maka pahala sebagai balasan tambahan, tentu saja selain hasil dari yang kita kerjakan tersebut. Jika kita percaya akan janji ini, cukuplah ini sebagai motivasi. Bahkan dalam salah satu ayat Allah SWT sudah menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika dia tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri.

selanjutnya bisa dihubungkan dengan HK.III Newton yang berbunyi: "Jika sebuah benda melakukan gaya aksi terhadap benda lain maka benda itu akan memberikan gaya reaksi sebesar gaya aksi".

Disini berlaku sunnatullah atau hukum-hukum Allah. Jika seseorang malas bekerja ya tidak akan mendapat apa-apa sebaliknya seseorang yang bekerja keras akan mendapat setimpal dengan perkerjaannya. jadi jelas kan hasil yang kita dapat itu kurang lebih sebanding dengan usaha yang kita keluarkan. Meskipun kita percaya masih ada konstanta X yang tidak bisa diabaikan yang menghubungkan keduanya yaitu ridha Allah.

Bagaimana dengan HK II Newton? HK. II Newton mengatakan gaya sebanding dengan massa dikali percepatan. F=m.a berarti semakin besar gaya yang diberikan semakin cepat suatu benda bergerak.

Semakin besar usaha yang kita lakukan maka semakin cepat pekerjaan kita selesai dan semakin banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang lain

No comments:
Beri komentar