Wednesday, November 28, 2012

Hujan Di Ujung November


“Aku pergi”.
“Kemana kamu akan pergi?”
“Entahlah, yang penting aku harus pergi, meski sampai saat ini aku sendiri tidak tahu ke mana?”
“Iya, tapi mengapa engkau harus pergi?”
“Untuk hidup”.
“Apakah selama ini kamu mati atau setengah mati?”
“Tidak, aku hidup, tapi terasa mati. Hampa”.
“Kamu kehilangan makna”.
“Aku belum mempunyai makna”.

Dan kamu pun akhirnya pergi. Seperti yang kamu katakan. Kamu pergi diiringi hujan yang turun derasnya di ujung bulan November ini.

Aku tak tahu mengapa engkau harus pergi, hingga kini aku masih juga tak tahu. Engkau mengatakan harus, tanpa pernah engkau memberi alasan. Engkau mengatakan. Pokoknya. Siapapun tahu, bila kata pokoknya telah terucap, apa pun itu harus terlaksana dan tertunaikan, entah bagaimana caranya.
Aku tertegun dengan keputusanmu yang tiba-tiba. Selama kebersamaan kita, tak pernah aku mendengar bahkan sekedar guarauan, kamu akan pergi, namun ketika hujan turun di sore itu engkau mengatakannya. Bukankah dulu kamu bertekat tinggal di sini, di kota ini? “aku igin jadi penulis besar, dan kota ini sangat mendukung, suasananya kondusif”, katamu.

Penulis besar, itulah obsesimu. Aku pun yakin kamu bisa mewujudkannya. Jujur, aku sering jengkel karena obsesimu itu. Setiap aku keluar denganmu, selalu saja kau megajakku bertemu dengan teman-temanmu itu. Sebelum aku kenal mereka, aku sudah sering melihat wajah-wajah mereka di jalanan, denganmu juga tentunya. Begitu juga ketika kamu mengajak aku berbelanja, tentunya yang kamu maksud tempat belanja tidak lain adalah toko buku. Dari mu juga aku tahu tempat mencari dan membeli buku yang murah. Darimu juga aku tahu kalau kota ini memang kota buku. Bukan hanya toko buku, tetapi juga penerbitan. Kamu banyak mengenal para editor di penerbit-penerbit itu. “temanku”, katamu.

Aku sendiri heran, mengapa aku betah berjalan dengan dirimu, bersamamu. Aku merasa berbeda dengan mu. Teman-teman ku menjulukiku si mulut seribu, alis si cerewet. Dan kamu, pendiam, kalem, cool.
Jika kamu tidak mengajakku keluar, maka aku yang datang ke kosmu. Ku dapati kamu sedang asyik dalam tumpukan buku-buku mu. Kamarmu dihiasi oleh rak-rak buku. Karpetmu tertutupi oleh buku yang berserakan. Nampak di dinding yang tidak tertutupi oleh buku, poster-poster para pemikir-pemikir dunia. Di pojok kamarmu aku dapati komputer bututmu. Di depan komputer itulah akau duduk sembari main game, sesekali harus mengeluh karena komputernya hang. Dan kamu masih asyik dengan buku-bukumu.
“Eh, ad novel baru nih, bagus.” Katamu mecoba menyapaku yang sedang asyik dengan game yang ada di komputer. “mau baca gak nih?” lanjutmu

“Tidak ah, yang kemarin aja belum selesai” kataku. Dua minggu yang lalu kamu meminjami buku juga kepadaku, novel. Sampai saat itu aku juga belum membacanya, kecuali pada bagian awal bab pertama.
“Malas amat sih non!, baca buku setipis itu aja dua minggu belum selesai.
“Banyak tugas kuliah, tahu..”, protesku.

Beberapa kali kamu telah meminjamkan novelmu kepadaku, tanpa pernah aku memintanya. Bahakan saat ulang tahunku, engkau pun membelikan aku sebuah novel, novel feminis katamu. Itu semua tidak lepas dari saat perkenalan aku dengan mu. Aku bertemu denganmu di salah satu toko buku. Saat itu aku diajak oleh salah seorang temanku dalam acara bedah buku di lantai dua toko tersebut. Di situlah kita bertemu. Temanku memperkanlakanku kepadamu.
“Suka novel?” tanyamu.
“Ya, sedikit.”
“Kok sedkit sih, banyak juga tidak apa kok, tidak ada yang melarang. Oh, ya, suka novel apa”
“Tenleet”, aku tidak yakin. Sebenanya sejak dua tahun aku di sini, baru satu novel yang aku baca. Novel remaja yang bercerita tentang cinta SMA.
“Aku punya beberapa novel tenleet, kalau suka boleh kok pinjam”, katamu. Dan kita pun sering bertemu sejak saat itu. Atau tepatnya, kau sering main ke kontrakkanku.dan kita kemudian sering pula jalan bersama.
***
Sore itu, entah kenapa aku merasa kehilangamu. Sepanjang kebersaman kita, aku hanya menganggapmu sebagai kakak, tidak lebih dari itu. Dan kamu pun menganggap ku sebagai adik. Dan kita bersama dalam hubungan itu. Namun sore itu ada rasa yang hadir dalam hati ini. Ada rasa kehilangan di sini akan mu, tetapi bukan sebagi seorang adik yang kehilangan kakanya. Entahlah, rasa itu hadir sesaat setelah kamu pergi meninggalkanku dari kota ini. Sebagai seorang adik, aku berhak untuk merasa kehilangan dirimu, karena aku pernah merasa memilikimu. Tapi rasa kehilangan ini? Namun apa daya, aku tidak bisa mencegah Kereta Progo yang membawamu dengan satu tekad untuk pergi. Hujan di akhir November telah telah membasahi diriku sepulangku mengantarmu pergi, tiga tahun yang lalu tepatnya.

Seperti November tiga tahun yang lalu, akhir November ini pun hujan masih tetap turun. Dan aku masih menelusuri keberadaanmu di duni maya. Tak pernah ketinggalan, selalu aku buka friendster dan blog-mu, namun semu masih sama dengan tiga tahun yang lalu. Mesin pencari pun tidak menemukanmu, selain namamu di beberapa situs media masa di mana tulisanmu pernah dimuat sebelum tiga tahun yang lalu. Dan dirimu tak pernah aku temukan.

Di pojok warung kopi ini, di sinilah kamu sering mengajaku menghabiskan waktu malam. Di pojok lebih nyaman, katamu saat aku tanya mengapa kita memilih tempat di sini. Dari sini kita dapat melihat kemana-kemana, ke seluruh sudut ruangan, termasuk ke arah luar. Kala sunyi, suara gesekan daun padi terdengar mesra bersama tiupan angin malam. Namun tidak seperti tahun yang lalu, sekarng sudah ada fasilitas hotspot. Suasananya pun lebih hening dari beberapa waktu yang lalu, karena setiap orang asyik dengan dirinya masing-masing yang sedang berselancar di dunia maya.
Aku pun mulai berselancar di dunia maya. Meng-update foto di friendster-ku, meng-up loud tulisan di blog-ku. Aku juga harus mengirim tulisan ke salah satu media yang akan dimuat untuk edisi bulan depan. Malam ini sengaja aku tidak mencari jejakmu di dunia maya. Namun alangkah terkejutnya aku saat melihat namamu di inbook e-mailku. Saat aku tidak mencarimu, saat itulah kamu hadir kepadaku.

“Salam. Aku dapat e-mailmu dari novelmu…..”. Begitulah kalimat pembuka surat elektronikmu. Memang aku sertakan alamat e-mailku dalam biografi penulis yang ada dalam novelku yang terbit tiga bulan yang lalu. Dan aku tak pernah menyangka engkau mendapatkan novel itu. Selanjutnya kamu menanyakan kabarku. Lalu kamu bercerita tentang kehidupanmu, aktifitasmu sekarang, dan juga alasanmu mengapa dulu engkau pergi.

“Semula aku berfikir bahwa mencerahkan kehidupan rakyat adalah dengan menulis buku. Bukannya aku tidak lagi percaya bahwa buku dapat merubah dunia, namun aku baru sadar bahwa tidak semua orang bisa mengakses buku. Kiranya perlu bagimu untuk keluar sejenak dari jawa dan berjalan-jalan ke pelosok-pelosok kampung. Mereka tidak mampu untuk memebeli buku. Bagi mereka buku adalah barang yang mewah. Dari itu kitalah yang harus membacakan untuk mereka. Mereka bukan orang-orang bodoh, mereka hanya tidak mempunyai kesempatan yang sama dengan orang kota. Bahasamu masih seperti yang dulu, kritis dan provokatif. Sebenarnya aku ingin meniru bahasamu dalam novelku, tetapi editor telah memangkas bahasa seperti itu. Kurang populer katanya, tidak marketabel. Oh ya, dia itu adalah editor yang dulu kamu perkenalkan kepadaku.

Seperti orang yang lama tidak pernah bertemu dengan nasi lalu kemudian ketemu nasi, seperti itulah kamu menulis surat elektronikmu,.panjang dan lebar. Kamu pun tetap memotifasi aku untuk tetap menulis. “Setinggi apapun orang sekolah, kalau tidak berkarya, dia akan dilupakan oleh orang”. Begitu katamu mengutip Pramoedya Ananta Toer. Pada bagian selanjutnya kamu bercerita bahwa kamu telah beristri, bahkan baru satu minggu yang lalu istrimu melahirkan. Kamu pun menyarakan kepadaku untuk segera menyempurnakan agamaku.

Aku telah menemukanmu, meski dalam dunia maya. Aku telah tahu mengapa engkau pergi dari kota ini, aku juga tahu kamu masih kakakku dan juga guruku yang dulu, yang pernah mengajari aku membaca dan menulis, meski tetap ada rasa kehilangan dalam diri ini. Tak terasa ada yang mengalir di pipiku. Hangat. Semakin lama alirannya semakin deras, sederas hujan yang turun di akhir November.

No comments:
Beri komentar