Friday, December 30, 2016

Masyhur Dalam Dekap Ridlo Ibu

 

Cerita ini terambil dari kisah nyata seorang tokoh di Madiun
Mbok, simbok ini kan sudah tua, jika terus terusan begini apa yang simbok persiapkan untuk kehidupan selanjutnya?
Kang Masyhur sore itu tidak lagi mampu membendung suasana hatinya yang galau setelah beberapa bulan merenung karena memperhatikan simboknya yang selalu sibuk bekerja dan bekerja.
Simboknya terdiam, beliaupun menyadari kebenaran ucapan anaknya, beliau menghela nafas dalam dalam, sembari dipandangnya anak kesayangannya itu, tanpa sepatah kata yang keluar, hanya sepasang mata yang saling beradu.
Lha iya to Mbok, kita ini bukan orang berpunya, bodoh lagi, mau sedekah gak bisa, mau ibadah ibadah yang lain juga gak tahu caranya, padahal kita hidup di dunia ini bukanlah untuk mengejar dan memuaskan keinginan keinginan kita, hanya ketakutan bernasib sial di akhirat saja hingga mampu memberanikan Kang Masyhur ini berani berkata demikian, ia sayang simboknya, ia mencintai simboknya, ia tidak ingin simboknya menderita kelak.
Lalu bagaimna ini nak? Getaran keluguan hati anaknya membuat hati simbok Painah melemas dan lemas.
Begini saja Mbok, simbok tiap malam harus bangun mengerjakan sholat malam, nanti sayalah yang akan melayani kebutuhan air wudlu simbok, kata Kang Masyhur meyakinkan.
Baiklah.....
Sejak malam itu Kang Masyhur selalu membangunkan simboknya, ia menimba air untuk keperluan wudlu simboknya.
Malam berganti siang, hari berganti bulan setahun dua tahun hingga terhitung dua puluh tahun, Kang Masyhur selalu melakukan hal yang sama disetiap malamnya.
Pada pagi harinya hingga siang iapun tetap aktif menjalankan kuwajibannya sebagai guru PNS, tetapi kemasygulan yang sejak beberapa lama telah mengeruhkan hatinya membuat ia ahirnya berani mengajukan surat pengunduran diri.
Bukankah Guru itu mengajar karena memang sebagai tanggung jawabnya untuk memberikan pengetahuan kepada yang membutuhkan?, tetapi mengapa pula saya menggantungkan hidup saya dengan gaji profesi saya sebagai guru? Waaah ini nggak beres, saya ini telah menghianati tujuan pengabdian saya, atau saya telah salah berniyat pada awalnya, saya menjadi guru karena ingin digaji, bukan menjadi guru karena ingin memberi pengetahuan, demikianlah kekeruhan hati Kang Masyhur yang kian hari tidak semakin membening.
Ah... yang penting saya tidak lagi menghianati hati nurani saya, masalah rejeki, bukankah Alloh Yang Maha Memberi rejeki? 
Kesulitan hidup jelas terpampang didepan mata, tetapi akan tidak mampu saya bayangkan kesulitan saya kelak di akhirat ketika harus mempertanggung jawabkan semuanya itu di depan pengadilan Alloh, begitu bisikan kuat Malaikat ke dalam hatinya dan mendorong kuat untuk melepaskan identitasnya sebagai guru yang berbayar.
Mantan PNS itu kini menjadi tukang pijat, dan ada saja orang yang tanpa iklan dari siapapun memohon doa atas hartanya yang hilang, rumah tangganya yang kacau dan segala macam kekalutan hidup, dan manjur.
Menjadi pelayan simboknya selama dua puluh tahun dengan tanpa pamrih apapun kecuali agar simboknya disayang Tuhan membuat iapun tidak merasa telah mendapatkan keridloan orang yang dengan ridlonya pula Alloh mencurahkan keridloanNya, jika seseorang telah dekat dengan Tuhan, tanpa memintapun Tuhan akan memberi lebih banyak, demikianlah apa yang dialami oleh Kang Masyhur, segala doa baik untuk orang lain semuanya terkabul tanpa harus melakukan ritual yang aneh aneh.
Semula ia dirikan semacam TPQ dengan sangat sederhana, karena ia tergolong bukan orang yang pernah nyantri, hanya bisa baca tulis Al Quran itu saja, namun karena terdorong rasa ingin berbagi sajalah yang membuat Kang Masyhur berani mendirikan TPQ, itupun setelah agak ramai, ia undang para pemuda santri untuk membantunya.
Lima tahun kemudian, tiba tiba TPQ itu telah beranak pinak menjadi SD unggulan berbasis agama, SMP dan SLTA, Pondok Pesantrennya berbangunan megah, keanehan keanehan selalu hampir tiap hari terjadi, seperti tiba tiba ada seorang tamu yang muncul di depan pintu sambil menyerahkan sejumlah uang yang katanya titipan dari si fulan, tetapi begitu ingin dipersilahkan masuk, tiba tiba orangnya sudah tidak ada.

No comments:
Beri komentar