Friday, December 30, 2016

Jihad Sang Merbot

 


Jam satu dini hari Mbah Jihad telah bangun, segera ia tumpangkan peralatan berdagangnya diboncengan sepeda ontelnya, karung goni dan timbangan, itu saja. 
Embun yang mengisbal di bumi melamurkan sinar berko sepeda ontel Mbah Jihad, membuatnya ia harus memelankan laju sepedanya, jalanan yang menggerinjal mengguncangnya hingga menyibak buta pagi itu dengan irama kriet kriet yang has. 
Dalam lamunan Mbah Jihad tergambar kebingungannya  bagaimana nanti ia melakukan transaksi jual belinya, sedangkan di kantong kain yang ia bawa itu hanya terdapat uang thik Rp 1500,- dari sisa penjualan ayam tadi pagi. Seribu rupiah telah ia belanjakan untuk keperluan dapur istrinya, bukan sempurna, tapi hanya lombok, berambang, bawang, tiga ekor ikan asin dan beras 1kg saja. 
Tanpa terasa, dua jam telah ia pancal onthel sepedanya dan telah sampai pada tempat biasanya mangkal mencegat para pembawa palawija dari penduduk gunung untuk dijualnya. 
Beberapa orang gunung telah menantikan Mbah Jihad agar membeli barang panenan mereka, iya mereka memilih Mbah Jihad dari sekian pembeli yang ada karena mereka sudah sangat percaya akan kejujuran Mbah Jihad. 
Ini Mbah, saya antrian yang pertama, segera ditimbang lho mbah, saya akan agak tergesa gesa nieh mbah, tadi sewaktu saya berangkat kulihat sapi saya yang satunya seperti akan melahirkan, Kang Karjo yang terkenal banyak omong itu juga yang pertama menyapa Mbah Jihad dalam kemurungannya. 
Mbah Jihad tersenyum saja, sebentar ya saya tak ke san dulu, ada urusan yang harus saya selesaikan katanya setelah mempersiapkan jagang yang terdiri dari tiga batang bambu yang dibuat sedemikian rupa untuk mencenthelkan dacin (timbangan kuno). 
Ke sana ke mari Mbah Jihad mencari hutangan, tak satupun kenalannya yang memberikan pinjaman dengan berbagai alasan masing masing, kentong subuh sudah terdengar pertanda para petani itu sudah harus pulang ke desanya masing masing. 
Kasihan mereka telah menunggu hasil penjualan palawija dari saya, Mbah Jihad menghela nafas dalam dalam, jika aku kembali dengan tanpa membawa uang, mereka pasti kecewa, tetapi jika aku tidak kembali, kasihan mereka telah menungguku, ya Alloh aku harus bagaimana ini? Mbah Jihad benar benar menghadapi dilema. 
Mas mas, sini mas.... 
Iya Mbah, ada yang bisa saya bantu Mbah?  Seorang pemuda yang ditangannya membawa sebongkok slip tagihan. 
Diajaknya pemuda itu minggir di tempat yang agak sepi, begini mas, saya mau minta tolong, tapi jangan sampai sampean menagih di rumah ya, Mbah Jihad merajuk sambik tengok kanan kiri.
Oh ya Mbah, gak papa, jenengan butuh berapa mbah? 
Sepuluh ribu saja mas, jawab Mbah Jihad. 
Kok gak sekalian dua puluh ribu saja Mbah? Ini husus buat Mbah lhooo. 
Nggak cukup itu saja... 
Ya gak papa, angsurannya 100 ya mbah tiap harinya selama dua puluh hari, dan ini angsuran cuma cuma untuk hari ini, jadi panjenengan terima sembilan ribu sembilan ratus rupiah.
Mbah Jihad terdiam, matanya menatap dalam dalam ke wajah bank thithil di hadapannya, sungguh kejam cara kamu mencari makan, gumamnya dalam hati,  mbah jihad teringat dengan para penjual sayuran, tempe, ikan asin dan pedagang kecil lainnya yang selamanya berlangganan bank thithil itu. 
Mbah Jihad menghela nafas dalam dalam, teringat para langganannya yang sedang menunggunya, diterima beliau melakukan riba, tidak diterima beliau takut mengecewakan langganannya, lagian beliau juga harus melunasi iuran sekolah anak anaknya yang sudah menunggak empat bulan. 
Mbah Jihad bergegas menuju tempat mangkalnya, sementara bias sinar matahari telah menerangi ufuk timur, tak ada satupun jagung dan kacang ijo yang tertinggal di sana. 
Ya Alloh, hari ini saya tidak mendapat dagangan apa apa ujarnya dalam hati, mereka telah pergi membawa hasil panennya ke pedagang yang lain rupanya. Sambil mengamit kantong uangnya, matanya berkaca kaca, beliau telah kehilangan satu kesempatan untuk mendapatkan jatah setorannya pada hari itu, artinya rugi.
Beliau berlari kecil menuju sungai untuk berwudlu dan melaksanakan sholat shubuhnya yang hampir habis waktu. 
Tumpah ruahlah air matanya, dalam sujud panjangnya beliau memohon ampun menyadari dosa yang barusan beliau lakukan..... 
Tersadar telah terperosok ke kubangan comberan, beliau bangkit dan mencari pemuda tadi, beliau bertekad untuk mengembalikan uangnya itu sebelum beliau terperosok lebih dalam, dicarinya pemuda itu ke sana ke mari, setiap kerumunan orang beliau kejar, kalau kalau pemuda itu ada di sana. 
Pengunjung pasar sudah mulai menyepi, beliau telah berputus asa rupanya, dengan langkah gontai, beliau dekati warung di pojok pasar kecil, sarapan.... 
Lhooo Mbah, mau sarapan? Sapa seorang pemuda yang sebenarnya telah beliau cari dari tadi. 
Masyaalloh, sampean tak cari sejak tadi, malah ketemunya di sini, begini mas, ditariknya tangan pemuda itu ke luar warung, beliaupun berbisik..... 
Mas saya mau mengembalikan uang yang saya pinjam tadi... 
Lho memang kenapa mbah? 
Gak papa, pokoknya mau saya kembalikan saja, masih utuh mas... 
Waaaah gimana Mbah Jihad ini, tahu begini tadi nggak akan saya kasih, tadi saja sudah ada yang minta tidak kebagian gara gara uangnya telah saya pinjamkan ke Mbah Jihad. 
Tidak bisa mbah, saya rugi kalau begini caranya, pemuda itu mengumpat dengan mata melotot... 
Tapi uangnya masih utuh mas, mohon maaf mas, tolong terima uang yang tadi saya pinjam.... 
Nggak bisa, saya sudah rugi ini, kalau mau mbah jihad kembalikan uang tadi, tapi saya minta kerugian lima ratus, bisa sampean angsur setiap hari pasaran, gimana? 
Dengan sangat terpaksa diterimanyalah syarat itu, pikirannya berkecamuk, campur aduk antara sedih, bersyukur, merasa hidupnya begitu terhimpit oleh beban yang teramat berat, beliaupun memacu sepeda ontelnya menuju pulang, masjid di desanya telah menunggu aktifitas rutinnya yaitu disapu dan diisi jeding wudlunya, mbah Jihad adalah merbot, muadzin dan juga terkadang menggantikan mengimami sholat jika kebetulan Imam biasanya tidak datang.
Lagi sepi? Begitu sapa istrinya yang baru saja pulang dari sungai mencuci demi dilihatnya suaminya tidak membawa apa apa, Mbah Jihad diam tidak menyahut, hanya desah nafas dalamnya saja yang terdengar seperti lenguhan sapi di telinga istrinya.
Sabar...... sahut Istrinya sambil memutar badan menuju kamar pasholatan untuk sholat Dhukha.
Dluhur telah tiba, dan seperti biasanya suara khas Mbah Jihad mengumandangkan adzan, tetapi adzan kali itu terdengar tidak seperti biasanya, ada semacam rintihan dan tangisan disetiap gemanya, dan Khayya alal falaaaah .... beliau terdiam cukup lama, serak suaranya tiba tiba terdengar bagaikan sayatan luka yang dalam, dan beliaupun mengulang sampai tiga kali....
Semua orang di sekitar masjid terkesiap dan menghentikan aktifitasnya, nada Adzan mbah jihad seakan telah menyayatkan luka di hati mereka dan menggelandangnya menuju masjid.
Usai sudah seremonial Ibadah Sholat dhuhur, mbah Jihad keluar masjid pada giliran yang terahir seperti biasanya, tapi kali ini lebih ahir dari biasanya.
Sang Istri telah menyiapkan makan siang Mbah Jihad, semangkuk sayur asem daun ketela dan ikan pindang telah tertata di meja, tapi mbah jihad belum juga pulang dari masjid....
Alloooh..... aku ridlo akan apa yang telah menjadi keputusanMu pada diriku, ampuni salah dan dosaku, terimalah kemiskinan hambamu ini untuk kemulian putra putriku dunia dan akhirat....... demikian mbah jihad menangis dalam sujudnya, beliau mengulang ulang permohonan itu dengan tangisan dan suara yang terputus putus hingga terdengar oleh anak laki laki satu satunya waktu itu yang disuruh emaknya untuk menyusul bapaknya.
Remaja itu tertegun, air matanya tertahan untuk ikut tumpah, anak remaja yang bandel dan bengal itu tiba tiba gemetar, kekerasan hatinya telah tumbang di belakang bapaknya.
Mbah Jihad memang benar benar jagoan dan laki laki sejati, segala derita hidupnya tidak pernah beliau ungkapkan kepada siapapun, beliau pantang mengeluh walaupun dalam keadaan yang sangat berat, bibirnya tak pernah mengucapkan kalimat aduh dalam keadaan sakit yang bagaimanapun, seperti pada siang itu setelah dhuhur, beliau iprik iprik (mencari kayu bakar) ditepi kali, jari telunjuknya kebacok hampir putus, tetapi dalam kesakitan dan keterkejutannya adalah masya alloooh yang terucap dari bibirnya.
Beliaupun pulang dengan tetap membawa kayu bakarnya, beliaupun langsung ke kiwan, membasuh kaki dan wajahnya, menuju kamar, darah yang menetes pada kayu itulah yang membuat istrinya tahu kalau suaminya sedang terluka.
Buru buru dia jenguk suaminya di kamar yang sudah terlentang, kebacok apamu eg? 
Jariku, jawabnya singkat
Gak papa?
Nggak...
Malam harinya Mbah Jihad menggigil, badannya panas, agaknya disamping kecapaian beliau baru merasakan efek kebacok tadi siang...
Berhari hari beliau selalu pulang lebih cepat dari Masjid di setiap waktu sholat, dan segera ambruk di atas dipan, tak ada keluhan sedikitpun kecuali Ma Sya Alloooh dan sejenisnya, pernah beliau dilarang oleh istrinya pergi ke masjid melihat tubuhnya yang gemetaran, tetapi beliau tetap berangkat juga walaupun ketika sampai di halaman Masjid terpaksa ambruk dan beliaupun ngesot menuju masjid.
Tentu saja karena sakit, mbah jihad tak bisa ke pasar, pemuda bank thithil itupun ahirnya mendatangi rumah mbah jihad.
Kulo nuwuuuun...
Monggooo jawab sang istri tetap dari balik pintu.
Mbah Jihad ada?
Nggeh, ada, tapi lagi sakit, silahkan masuk....
Ada tamu, pakai celana, bawa tas dan bersepatu, siapa to? tanya si istri keheranan, maklum di desanya penampilan seperti itu memang terbilang aneh...
Mbah Jihad terkejut.... diapnadangi wajah istrinya dalam diam.....
Si Istri meraung raung, ya Alloh kamu itu ambil bang? Jadi selama ini ...... dan si istripun semaput, agaknya beliau telah mendengar percakapan tamunya itu yang berbicara agak keras menagih hutang suaminya....
Kedelapan anaknya mengerubuti ibunya yang lama pinsan dengan sesenggukan, dan sang ayah itupun terduduk di kursi ruang tengah, terpaku, tercenung dan sesekali menghela nafas panjang...
Aku gak rela jika sampean mengambil bang, apakah kamu tega menjerumuskan aku dan anak anakmu dengan memakan uang yang tidak berkah? Tangis istrinya setelah siuman, namun kini sudah pelan dan seperti merintih...
Sang Ayah itu hanya diam, dan tes.... airmatanya menetes ke kening istrinya yang bersimpuh di lantai tanah di hadapannya.
Paaaak .... hutangmu berapa, segera lunasi, ini lho suweng pemberian ayahku sampean jual saja, pokoknya harus lunas segera?
Selama ini aku tidak pernah meminta apapun dari kamu, aku rela apapun pemberianmu, aku rela pak aku rela, tapi apa sampean gak kasihan sama aku dan anak anakmu jika harus makan dari harta riba? 
Gak papa kita melarat saat ini, mudah mudahan semua ini menjadi tirakatan (riyadloh) kita untuk anak anak kita besok, semoga anak anak kita menjadi salih dan salihah.
Keesokan harinya, suweng istri salihah itu beliau jual, setelah sebagian dibuat melunasi hutang, sisanya ia jadikan modal berdagang, selama hidupnya kehidupan suami istri itu tidak berubah, tetap miskin, dan tak ada gaya hidup yang berubah, kemiskinan, masjid dan alquran, kecuali satu persatu putra putrinya menikah dan semuanya menjadi orang yang thumakninah dalam masing masing profesinya, namun kebanyakan putra putrinya semua berkecimpung dalam dunia tarbiyyah. Kyai, ustadz, dan pedagang yang sukses dengan kejujurannya.

No comments:
Beri komentar