Sunday, January 1, 2017

Surat Terbuka Tentang Suriah, Untuk Kang Emil

Berita tentang Suriah memang masih menarik untuk disimak. Terlebih setelah kampanye Save Aleppo yang digulirkan oleh beberapa pihak. Tak sedikit mereka yang tersentuh, kemudian membuat status Facebook, mentweet di Twitter, membagikan status, tweet, dan berita tentang Suriah. Namun tak sedikit juga mereka menggunakan foto-foto hoax. Entah disengaja ataupun tidak. Berikut adalah sebuah surat terbuka dari seorang wanita pengamat konflik Timur Tengah sangat menarik dan mencerahkan untuk dibaca.
***
Assalamualaikum,
Kang Emil, kumaha damang?
Perkenalkan saya Dina, bukan orang Sunda. Tapi, karena saya menikah dengan urang Sunda, dan seluruh proses studi saya dari S1 hingga S3-Hubungan Internasional saya jalani di Bandung (Unpad), ikatan emosional saya dengan Sunda sangatlah kuat. Di banyak kota di Indonesia yang saya kunjungi, banyak yang mengira bahwa saya adalah orang Sunda karena saya sudah terhegemoni oleh logat Sunda.

Saya terdorong menulis surat ini setelah melihat 2 postingan di Fanpage Kang Emil tentang Suriah. Postingan pertama, share foto bertajuk Save Aleppo.
rk1g
Masih di hari yang sama, selang beberapa jam kemudian, kang Emil memposting status tanpa foto.
rk1f
Selengkapnya kalimat Kang Emil:
rk1c
Saya mencermati perbandingan jumlah share  dan komentar di kedua status itu. Buat saya, ini menjadi bukti bahwa isu Suriah adalah isu monolog. Gerakan “Save Aleppo” dianggap sebagai fakta yang tak perlu dipertanyakan lagi. Status “Save Aleppo” di-share 25ribu lebih tapi hanya ada 3100 komentar. Sementara status yang mengajak untuk fokus saja pada isu kemanusiaan, hanya di-share 5300  kali tapi dikomentari 3700 kali.[data 19/12, 20.00]
Saya menemukan banyak komentar menyalah-nyalahkan nada “netral” Kang Emil. Antara lain:
rk6
rk5
Lihatlah betapa mereka tidak rela Kang Emil keluar dari narasi yang mereka sukai. Mereka inginnya Kang Emil menghujat Bashar Assad. Bahkan menuduh Kang Emil takut kehilangan follower.
Pemaksaan sebuah monolog. Inilah yang membuat saya prihatin dan ingin menulis surat ini. Sejak konflik Suriah meletus, telah terjadi pergeseran cara berinteraksi di antara sesama anak bangsa. Ada kelompok-kelompok yang memaksakan narasi mereka soal Suriah, dan siapa saja yang mengkritisi, akan mereka libas dengan cara ‘pembunuhan karakter’. Saya sudah 4 tahun dihujat secara masif di media sosial hanya karena mengatakan yang terjadi di Suriah bukan perang saudara (civil war) melainkan proxy war (ada negara-negara besar yang ingin menggulingkan rezim Assad dengan alasan ekonomi-politik, namun memanfaatkan pasukan perpanjangan tangan mereka). Tentu, saya bisa memberikan sangat banyak argumen atas analisis saya ini (bisa dibaca di blog ini, atau buku saya “Prahara Suriah”).
Pemaksaan monolog yang saya maksud adalah sikap merasa paling benar dan menolak dialog. Awalnya memang terkait Suriah, yang jauhnya 8700-an km dari Bandung. Tapi sikap seperti ini bagaikan virus, semakin luas menjangkiti banyak pihak, sehingga menjadi sebuah sindrom kebencian terhadap mereka yang berbeda, diisukan berbeda, diisukan sesat, diisukan menghina Islam, diisukan mengkristenisasi, dll.
Yang menyedihkan, menurut sejumlah riset, Tanah Pasundan dinobatkan sebagai daerah yang paling intoleran se-Indonesia karena banyaknya kasus-kasus kekerasan atas nama agama yang dilakukan oleh kaum mayoritas terhadap kelompok minoritas. Ada 41 perda yang dianggap diskriminatif dan intoleran seperti penyegelan, penutupan rumah ibadah, pembubaran ibadah kelompok atau agama tertentu, hingga kekerasan fisik.
Tidakkah ini terasa sangat ganjil? Tatar Sunda selama ini dikenal dengan alamnya yang indah dan perilaku warganya yang someah dengan tutur bahasa yang halus.
Kasus pembubaran secara paksa prosesi ibadah ummat Kristiani oleh sekelompok orang yang menamakan diri sebagai Pembela Ahlu Sunnah (PAS) adalah contoh paling mutakhir. Jajaran kepolisian Kota Bandung dan Jawa Barat terkesan membiarkan kasus pelanggaran hukum ini. Sedangkan Kang Aher hanya menyebut bahwa itu adalah kasus kecil. Untunglah ada pejabat seperti Kang Emil. Terlihat sekali bahwa Kang Emil sangat terganggu dengan kasus yang memalukan itu. Akang dengan tegas menuntut PAS agar meminta maaf. Kalau tidak, mereka akan dinyatakan oleh Kang Emil sebagai kelompok terlarang di kota Bandung. Akang pasti ingat sempat dibully juga tahun lalu karena dianggap “membiarkan” penganut mazhab Syiah melakukan peringatan Asyura di Lapangan Sidolig.  Tindakan Akang jelas beda dengan walikota tetangga sebelah yang rapat bersama oknum yang masuk dalam daftar teroris Al Qaida yang dirilis PBB dan kemudian mengeluarkan surat larangan pelaksanaan Asyura di daerahnya.
Tapi Kang, saya melihat bahwa perlindungan Kang Emil terhadap hak-hak kaum minoritas akan menjadi sesuatu yang kurang “berumur panjang” jika akar masalahnya tidak disentuh. Masalah baru akan muncul dan muncul lagi.
Di mana akar masalahnya? Mari kita mulai diskusikan dengan menggunakan foto “Save Aleppo” yang Kang Emil shareSemua orang, termasuk saya, sangat sedih melihat foto-foto anak kecil korban perang itu. Ini perlu digarisbawahi. Jadi, jangan ada tuduhan bahwa saya mengkritisi gerakan Save Aleppo ini sebagai sikap tidak peduli pada korban. Justru di sinilah anehnya: korban di Suriah itu sangat banyak. Pasukan “mujahidin” dengan senjata-senjata canggih yang disuplai dari AS dan Eropa sejak 2012 sangat banyak melakukan pembantaian (videonya bertebaran di youtube). Mengapa sekarang yang diteriakkan hanya “Save Aleppo”? Dan pertanyaan utamanya: apakah benar tentara Suriah dan Rusia membantai warga sipil di Aleppo? Kalau benar, mengapa foto dan video palsu melulu yang bisa disodorkan sebagai bukti? [penjelasan ada di bawah]
Sesungguhnya, Save Aleppo adalah gerakan global dengan narasi “menyelamatkan Aleppo dari kekejaman tentara Suriah dan Rusia”. So, ini bukan frasa yang netral. Saat satu kelompok menggunakan tagar Save Aleppo, para pengamat Timteng biasanya langsung mampu mendeteksi mereka siapa, dari kelompok mana.  Dan sialnya, gerakan global ini berkaitan erat dengan nasib bangsa kita. Akan saya paparkan nanti.
Kang Emil menyatakan pernah ke Suriah. Saya juga. Kita yang pernah jalan-jalan ke Suriah sebelum perang, sudah menyaksikan sendiri bahwa Suriah adalah negara yang sangat indah dan damai. Orang-orangnya someah, dengan bahasa Arab beraksen amat lembut khas Mediterania. Sejak lama, ada ratusan mahasiswa Indonesia Sunni yang kuliah di sana, belajar dari ulama-ulama Sunni, sebagian sudah pulang selamat, hidup, dan jadi ustadz di berbagai pesantren. Bagaimana bisa, mendadak 4 tahun terakhir (sejak 2012) disebarkan narasi bahwa orang Sunni dibantai orang Syiah di Suriah? Ketika awalnya aksi-aksi demo menentang pemerintah muncul di Suriah tahun 2011 (sebagaimana juga terjadi di negara-negara Arab lain), tuntutannya demokratisasi. Bashar Assad pun segera mengakomodasi, antara lain dibentuk UUD baru yang membatasi masa kekuasaan presiden dan mengatur pemilu yang demokratis, membubarkan UU anti subversif yang dibuat ayahnya, dll. Lalu, kok ujug-ujug berdatangan para “mujahidin” dari 100-an negara dunia yang menyatakan ingin “mendirikan khilafah” di Suriah? Kemarin demokratisasi, sekarang kok khilafah? Lieur tah.
Sebagai politisi Kang Emil pasti tahu, siapa saja kelompok atau ormas yang aktif menyerukan jihad di Suriah dan aktif menggalang dana. Sekali lagi, semua orang pasti sedih melihat ada orang-orang yang menderita akibat perang; dan mendoakan agar perang segera selesai. Problemnya adalah, kelompok-kelompok tersebut berkeliling dari masjid ke masjid, dari kampus ke kampus, menggalang dana untuk Suriah dengan menggunakan data palsu, foto HOAX, dan kebencian.
Berikut ini beberapa buktinya. Saya ambil 3 foto secara acak dari foto “Save Aleppo” yang Kang Emil share itu.
Foto 1
sa1a
Foto di atas saya masukkan ke google image. Saya dapati foto ini:
sa1b
Terlihat foto yang sama sudah pernah diposting tahun 2015. Jelas bukan Aleppo Desember 2016.
Foto 2
sa2a
Saya masukkan lagi ke Google Image, keluar foto ini, diposting 2013. Jelas bukan kejadian di Aleppo pada tahun 2016.
sa2b
Foto 3
sa3a
Dengan bantuan Google Image, saya dapatkan foto ini dipakai sebuah situs berbahasa Arab, berita mengenai anak-anak Yaman, diposting 29 Maret 2016. Jadi, lagi-lagi, bukan Aleppo Desember 2016.
sa3b
Tentu butuh waktu cukup lama kalau ingin tau foto asli (pemosting pertama) foto-foto tersebut. Sejak 2012 saya dan teman-teman sesama facebooker sudah menemukan sangat banyak foto hoax, lagi dan lagi. Kompilasi foto hoax Suriah (123 halaman PDF) bisa diunduh di sini.
Salah satu dampak buruk kemajuan teknologi adalah mudahnya sebuah berita tersebar tanpa filter atau klarifikasi. Yang jadi problem besar: para pemaksa monolog menghadapi dengan keras siapa saja yang berani melakukan klarifikasi. Tak mampu berargumen, yang mereka lakukan adalah “kill the messenger”.
Lalu apa hubungannya dengan nasib bangsa ini?
Kebencian itu bagaikan vampir. Satu menggigit yang lain. Yang lain menggigit yang lain lagi. Lalu, dalam waktu singkat, begitu banyak muncul para pembenci di negeri ini. Awalnya Suriah, dan Syiah Indonesia jadi bulan-bulanan kebencian. Syiah bukan Islam! Tungtungna mah: mari kumpulkan dana untuk membantu saudara Sunni kita di Suriah yang dibantai Syiah!! Lalu, objek kebencian pun meluas. Semua pembenci pun bersuara dengan satu nada satu ritme, bagaikan zombi. Kyai anu Syiah! Jokowi Syiah (plus PKI, liberal, China dll)! Ahmadiyah sesat! Hati-hati Kristenisasi! Awas China! Komunis! PKI!
Apa jadinya bangsa ini kalau kebencian terus meraja lela? Saya tidak akan menyebut nama. Tapi faktanya, semua kebencian ini dibawa oleh kelompok-kelompok yang sama dan Akang pasti tahu, siapa yang saya maksud. Semua kelompok ini memiliki akar ideologi yang sama, yang gejalanya adalah kebencian, takfirisme, anti-dialog, dan pemaksa monolog. Akar ideologi mereka bukanlah berasal dari Tatar Sunda, tapi diimpor dari negeri jauh.
Karena itu, melalui surat ini, berlandaskan cinta saya pada Tatar Sunda, saya mengusulkan kepada Kang Emil untuk memulai gerakan budaya massal kembali kepada filosofi Sunda: alus laur, hade tangtung; someah hade ka semah; lungguh timpuh tapi mancur pamor elmuna; jembar ku panalar. Jika Bandung sukses, semoga gerakan ini bisa diperluas di berbagai kota lain di Jabar maupun Indonesia pada umumnya.
Semoga Tatar Sunda kembali menjadi bunga yang semerbak seperti dulu, dan tidak lagi dicatat sebagai wilayah paling intoleran di negeri ini.
Hapunten dan Haturnuhun….
Wassalam,
Dina
***
Sumber: https://dinasulaeman.wordpress.com/2016/12/19/surat-terbuka-tentang-suriah-untuk-kang-emil/

No comments:
Beri komentar