Monday, January 30, 2017

Ulama yang Tertipu, Seperti Apa?

 

Salah satu penyakit yang bisa menyelinap masuk ke dalam hati para ulama adalah perasaan mulia ketika dimuliakan. Selalu dipersilakan duduk di bagian depan. Tangannya dicium. Tak ada yang mengkritik. Semua orang tunduk patuh kepadanya. 

Hal itu diterangkan oleh Wakil ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali melalui akun Facebook miliknya, Ahad (29/1).

Menurutnya, awal mula penyakit hati tersebut pelan-pelan muncul perasaan sombong. Merasa diri lebih tinggi dari yang lain. Saat itu, lanjut Kiai Moqsith dengan meminjam bahasa al-Imam al Ghazali, mereka sedang tertipu. Bisa-bisa mereka tergolong ulama dunia bukan ulama akhirat.

Kiai Moqsith mengisahkan, ketika banyak orang memuja-muja Imam Abu Yazid al-Busthomi, maka Sang Imam melakukan perbuatan yang menyebabkan umat tak menyukainya. 

Umat pun berpaling darinya. Itu dilakukan karena Sang Imam khawatir, dirinya menjadi tabir penghalang (hijab) antara manusia dan Tuhan-nya. 

“Setelah mencapai puncak karir tertinggi, al-Ghazali memilih menyendiri. Ia uzlah,” kata kiai kelahiran Sumenep tersebut.

Jabatannya sebagai Rektor Perguruan Tinggi Nizhamiyah pun dilepaskan. Ia pergi jauh ke Damaskus. Di negeri ini (Damaskus), ia tak dikenali. Ia hanya sibuk bertafakkur dan muhasabah.

“Itulah akhlaq dan kehati-hatian para ulama salaf. Risih dengan pemujaan dan popularitas,” pungkasnya. 

No comments:
Beri komentar