Thursday, February 9, 2017

Pondasi Keutamaan Perilaku Manusia

 

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أمَّا بَعْدُ فَيَاعِبَادَ الله أُوْصِيْكُم وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ ، فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah,

Apa yang prioritas dalam kehidupan dunia ini? Sebagian orang menganggap bahwa mencari harta seanyak-banyaknya adalah jawabannya. Melalui kekayaan manusia dinilai bisa memperoleh ketenangan, kebahagiaan, bahkan kesempatan berbuat baik lebih banyak. Dengan harta yang melimpah, seseorang tidak hanya bisa membahagiakan diri sendiri, tapi juga membahagiakan orang lain. Maka, bersibuk-sibuklah mereka mencari nafkah, memperkaya diri. Meskipun, penumpukkan kekayaan itu tak akan pernah berujung, dan bagi sebagian orang proses tersebut justru membuatnya lalai dan semakin jauh dari idealime “membahagiakan diri sendiri sekaligus orang lain.”

Pendapat lain mengatakan, bukan harta yang prioritas, melainkan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu seseorang bisa menjadi lebih terhormat. Orang kaya tidak lebih baik dari orang berilmu. Maka jargon bahwa “harta meniscayakan kita untuk menjaganya, sedangkan ilmu justru menjaga kita”. Bahkan, dengan ilmu, harta bisa diraih, tapi belum tentu demikian sebaliknya. Berangkat dari keyakinan ini, seseorang kemudian berlomba-lomba mengejar pendidikan tinggi, menumpuk pengetahuan.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Orang kaya dan orang pintar sudah sangat banyak kita dapati. Namun, betapa banyak juga masalah yang juga ditimbulkan oleh dua kelompok itu? Tak sedikit orang yang karena dibutakan oleh kekayaan menjadi lupa akan nilai-nilai sosial dan kelestarian lingkungan. Punya perusahaan besar tapi mengeksploitasi alam; punya pabrik tapi mencemari udara dan mengganggu masyarakat; meraup keuntungan luar biasa per hari tapi kikir, dan seterusnya. Dengan demikian, kekayaan tidak membuatnya bersyukur. Kekayaan telah menumbuhkan sifat tamak yang dalam level tertentu memicu tindakan-tindakan yang merugikan orang lain.

Demikian pula orang pintar. Mereka kini hadir di mana-mana, mengisi berbagai lini strategis kehidupan kita: di pemerintahan, lembaga pendidikan, rumah sakit, pabrik senjata, hingga masjid dan mushala. Di saat yang sama kita juga menyaksikan bahwa sebagian problem di sekitar kita juga muncul dari orang-orang pintar ini. Kasus korupsi banyak kita saksikan dari para oknum pejabat publik yang menyalahgunakan wewenang. Kita juga pernah mendengar kasus pelecehan seksual oleh oknum guru di sekolah. Kita juga kadang menemui beberapa tempat ibadah yang menjadi ajang kampanye kebencian dan memupuk permusuhan kepada kelompok lain yang berbeda paham.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Kenapa hal demikian bisa terjadi? Benarkah yang paling krusial dalam kehidupan ini adalah harta dan ilmu pengetahuan? 

Parameter paling sempurna untuk melihat segala persoalan adalah Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Bila kembali kepada tujuan dari diutusnya (bi’tsah) beliau, maka kita akan menemukan kata kunci yang sangat penting, yakni akhlak. Beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR Bukhari)

Dalam redaksi lain:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Rasulullah diutus bukan untuk membuat orang menjadi kaya atau semata-mata agar orang menjadi pintar, melainkan agar manusia memiliki akhlak sempurna. Ketika Nabi berdakwah, bangsa Arab secara umum bukan bangsa yang sangat miskin secara ekonomi ataupun sangat bodoh di bidang pengetahuan. Banyak situs Arab kuno yang menunjukkan bahwa masyarakat kala itu tergolong canggih, misalnya dalam membangun bendungan, saluran irigasi, atau teknik dan persenjataan perang. Hanya saja, secara moral masyarakat Arab waktu itu secara umum ditimpa kemerosotan yang luar biasa. Kita kerap mengistilahkannya "jahiliyyah". Perbudakan, pelecehan terhadap perempuan, fanatisme kelompok, penindasan kaum lemah, riba adalah sederet perilaku negatif yang menjangkiti bangsa Arab. Dengan demikian, kata “jahiliyah” yang sering kita dengar lebih merujuk pada pengertian “jahiliyyah fil akhlaq” (kebodohan dari segi moral).

Jauh sebelumnya, bangsa Arab sejatinya memiliki moral yang baik karena pengaruh ajaran-ajaran Nabi Ibrahim. Namun, dalam perkembangan waktu keadaban mereka kian menyusut, dan terus merosot, hingga sampai di luar batas kemanusiaan (misalnya mengubur hidup-hidup bayi perempuan). Rasulullah hadir untuk mengembalikan sekaligus menyempurnakan akhlak sebagaimana yang diajarkan nabi-nabi terdahulu. Melalui keteladanan, beliau menegakkan prinsip tauhid, mengusung kesetaraan manusia, dan menyerluaskan spirit kasih sayang di antara sesama. Rasulullah berjasa besar dalam merombak kondisi waktu itu, dari kebiadaban menuju peradaban. Bukan hanya di Arab tapi juga segala penjuru dunia. Sebagaimana ungkapan Al-Qur’an:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Akhlaklah yang seharusnya menjadi prioritas dalam kehidupan ini, karena ia menjiwai seluruh perilaku-perilaku utama. Jika kita mendapati orang kaya ataupun orang pintar yang menjadi biang kerok masalah, maka itu semata-mata karena hilangnya akhlak pada diri mereka. Begitu juga, banyak orang kaya dan orang pintar yang hidup penuh manfaat bagi orang lain karena pribadinya berhias akhlak yang luhur. Ada belas kasih di hati mereka. Ada rasa empati kepada orang lain, ada kedermawanan, ketawadukan, semangat membantu yang lain, dan lain sebagainya.

Abdullah bin Mubarak, seorang ulama sufi abad pertengahan, sebagaimana dikutip dalam Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, pernah menyatakan:

نَحْـنُ إِلَى قَلِيْــلٍ مِــنَ اْلأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ اْلعِلْمِ

“Kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak.”

Harta tentu perlu, karena manusia hidup meniscayakan kebutuhan-kebutuhan primer bendawi seperti makan, pakaian, juga tempat tinggal. Dan, yang lebih penting dari harta adalah ilmu. Ilmu dan akal membedakan manusia dari karakter binatang. Namun, yang lebih penting dari keduanya adalah akhlak. Sebab tanpa akhlak, manusia bukan hanya bisa seperti binatang, tapi bahkan bisa lebih rendah lagi. Karena itu, sebelum menjadi orang kaya atau orang pintar, jadilah terlebih dahulu orang yang berakhlak, orang yang beradab.

Semoga khatib yang banyak kekurangan ini, juga jamaah sekalian, mampu menjadikan akhlak sebagai pondasi utama bagi segenap gerak-gerik kita untuk meraih kebahagiaan bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Amin.

بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

No comments:
Beri komentar