Friday, April 28, 2017

Ilmu Pedagogik Islam Nusantara Karya KH Hasyim Asy’ari

 

Ini adalah kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” karangan seorang tokoh besar yang menjadi maha guru ulama Nusantara pada masanya, sekaligus juga pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU), yaitu Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari (Jombang, Jawa Timur, 1875—1947). 

Kitab ini berjudul lengkap “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim fî Mâ Yahtâju ilaihi al-Muta’allim” dan ditulis dalam bahasa Arab. Kandungan kitab ini berisi kajian ilmu pedagogik Islami, yaitu ilmu yang mengkaji etika, strategi, dan gaya pembelajaran menurut pakem nilai-nilai keislaman, agar ilmu yang dipelajari dapat bermanfaat dan memiliki nilai keberkahan. 

Dalam tradisi ilmu pengetahuan Islam, terdapat banyak karya yang lahir dan ditulis dalam bidang kajian ini. Hal ini menimbang sangat prinsip dan urgennya posisi adab (etika) dan akhlak bagi seorang pelajar dan pengajar di mata ajaran agama Islam. 

Sekadar menyebut, beberapa karya dalam bidang ini adalah “Ta’lîm al-Muta’allim” karangan al-Zarnûjî, “al-Risâlah al-Mufashshalah li Ahwâl al-Muta’allimîn” karangan Abû al-Hasan al-Qâbisî, “Tadzkirah al-Sâmi’ wa al-Mutakallim” karangan Ibn Jamâ’ah, “al-Jâmi’ li Akhlâq al-Râwî wa Âdâb al-Sâmi’” karangan al-Khatîb al-Baghdâdî, juga kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” karangan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” karangan KH. Hasyim Asy’ari ini terbagi ke dalam 8 (delapan) bab, yaitu (1) bab yang menerangkan keutamaan ilmu, ahli ilmu, keutamaan mempelajari dan mengajarkannya, (2) bab yang menerangkan etika seorang penuntut ilmu atas dirinya sendiri, (3) bab yang menerangkan etika seorang penuntut ilmu atas guru-gurunya, (4) bab yang menerangkan etika seorang penuntut ilmu atas pelajarannya, (5) bab yang menerangkan etika seorang pengajar atas dirinya sendiri, (6) bab yang menerangkan etika seorang pengajar atas pelajaran yang diampunya, (7) bab yang menerangkan etika seorang pengajar atas murid-murid yang diajarinya, dan (8) bab yangmenerangkan etika penuntut ilmu dan pengajar ilmu terhadap kitab sebagai sarana belajar mengajar, sekaligus etika menyalin dan mengarang kitab.

Dalam kolofon, KH. Hasyim Asy’ari menyebutkan jika karya ini diselesaikan pada hari Ahad, 22 Jumadil Akhir tahun 1343 Hijri, bersamaan dengan 18 Januari 1925 Masehi. Tertulis di sana;

تم الكتاب الموسوم بآداب العالم والمتعلم. ووافق الفراغ من جمعه صبيحة يوم الأحد اثنين وعشرين جمادى الثانية سنة ألف وثلثمائة وثلاث وأربعين من هجرة سيد المرسلين

(Telah selesai kitab yang dinamakan “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim”. Selesai penulisannya pada pagi hari Ahad, dua puluh dua Jumada al-Tsâniah tahun seribu tigaratus empat puluh tiga Hijri).

Melihat titimangsa di atas, kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” ini ditulis oleh KH. Hasyim Asy’ari sekitar satu tahun sebelum diresmikannya pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang berhaluan Islam Tradisional Ahlussunnah wal Jama’ah, yang merupakan corak Islam mayoritas (sawâd a’zham) di seluruh dunia Islam pada saat itu. NU didirikan pada 16 Rajab 1344 Hijri (bertepatan dengan 31 Januari 1926 M).

Kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” mendapatkan taqrîzh (endorsement) dari ulama-ulama besar Makkah pada masanya, yang juga merupakan sahabat Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Taqrîzh tersebut terletak di bagian akhir halaman kitab. Di antara ulama-ulama Makkah yang memberikan taqrîzh atas kitab ini adalah Syaikh Sa’d ibn Muhammad al-Yamânî al-Makkî, Syaikh ‘Abd al-Hamîd Sunbul al-Hadîdî al-Makkî, Syaikh Hasan al-Yamânî al-Makkî, dan Syaikh Muhammad ‘Alî al-Yamânî al-Makkî.

Dalam salah satu taqrîzh, Syaikh ‘Abd al-Hamîd Sunbul al-Hadîdî menulis;

أما بعد. فقد اطلعت على الكتاب المسمى بآداب العالم والمتعلم، للعالم العلامة والنحرير الفهامة الشيخ محمد هاشم بن محمد أشعري الجنباني من علماء جزيرة جاوا، المشهور فيها وفي غيرها من الجزر الإسلامية بالورع والتقوى. فرأيته سفرا موجزا جذابا أدبيا .... 

(Ammâ ba’du. Saya telah menelaah kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” karangan seorang ulama yang sangat alim, seorang besar yang pemahaman keilmuannya sangat luas, yaitu Syaikh Muhammad Hasyim anak Syaikh Muhammad Asy’ari dari Jombang, yang mana beliau adalah salah satu ulama Pulau Jawa, yang terkenal di sana dan juga di pulau-pulau Nusantara lainnya dengan kewara’an dan ketakwaannya. Aku melihat karya ini sebagai karya yang padat akan kandungan isi, sangat penuh dengan nilai-nilai etika …. )

Ditambahkan oleh Syaikh ‘Abd al-Hamîd Sunbul al-Hadîdî, jika bahasa Arab yang digunakan oleh KH. Hasyim Asy’ari dalam karyanya ini sangat istimewa, sebagai bahasa Arab tingkat susastra tinggi. 

Kitab ini baru dicetak sekitar 70 (tujuh puluh) tahun kemudian, yaitu bulan Safar 1415 Hijri (Juli 1994), setelah disunting dan ditashih oleh cucu KH. Hasyim Asy’ari, yaitu KH. Ishom Hadziq (1965—2003). KH. Ishom Hadziq juga memberi pengantar bigrafi singkat kakek beliau dalam bahasa Arab. Versi suntingan tersebut diterbitkan oleh Maktabah al-Turâts al-Islâmî, Pesantren Tebu Ireng, Jombang Jawa Timur, dengan tebal keseluruhan 110 halaman.

Saya mengaji kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” hingga khatam dari al-Mukarram Kiyai Nur Khalis Ghazali Magelang ketika belajar di Lirboyo, Kediri (Jawa Timur) dulu. Tercatat pada kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” milik saya, pengajian kitab ini dimulai pada hari Ahad 17 Safar 1421 Hijri (20 Mei 2000 Masehi), jam 4 sore, di musholla komplek DS (Darus Salam). Pengajian dikhatamkan pada hari Ahad, 16 Rabi’ul Akhir di tahun yang sama (bertepatan dengan 16 Juli 2000). 

Selain “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim”, KH. Hasyim Asy’ari juga memiliki beberapa kitab karangan lain, yaitu; 

(1) Risâlah Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah. Kitab ini menjelaskan pemahaman, sejarah, dan konsep akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sebagai basis utama dan dasar dari NU. 

(2) al-Tibyân fîn Nahy ‘an Muqâtha’atil Arhâm wal Aqârib wal Ikhwân. Kitab ini memuat kajian pentingnya persatuan ummat Islam dan larangan untuk saling berpecah belah (muqâtha’ah al-arhâm) hanya karena berbeda pendapat dan pemikiran. 

(3) an-Nûrul Mubîn fî Mahabbah Sayyidil Mursalîn. Kitab ini memuat kajian biografi dan keteledanan Nabi Muhammad SAW serta keharusan ummat Islam untuk meneladani keluhuran akhlak Nabi Muhammad SAW. 

(4) al-Tanbîhât al-Wâjibât li Man Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarât. Kitab ini memuat peringatan dan larangan bagi pihak-pihak yang merayakan mauled Nabi Muhammad dengan kemungkaran-kemungkaran. 

(5) Ziyâdatut Ta’lîqât. Kitab ini merupakan tanggapan atas sebuah nazhaman yang ditulis oleh KH. Abdullah Yasin Pasuruan yang mengkritik pendirian NU.

(6) Hâsyiah ‘alâ Fathir Rahmân bi Syarh Risâlah al-Walî Ruslân. Kitab ini merupakan ulasan panjang (hâsyiah) atas teks “Hikam Ibn Ruslan”, sebuah kitab dalam kajian tasawuf karangan Syaikh Ibn Ruslan.

(7) al-Durar al-Muntasirah fîl Masâil al-Tis’ ‘Asyrah. Kitab ini memuat kajian tasawuf, di dalamnya membahas masalah-masalah tarekat dan kewalian.

(8) Kafful ‘Awâm ‘anil Haudh fî Syirkah al-Islâm. Kitab ini memuat pandangan politik KH. Hasyim Asy’ari atas Partai Sarekat Islam (SI). Kitab ini mendapat tanggapan dari Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau dengan menulis “Tanbîh al-Anâm fî al-Radd ‘alâ Risâlah Kaff al-‘Awâm”.

No comments:
Beri komentar