Sunday, June 25, 2017

Kembali ke Fitrah Khalifah di Muka Bumi

 

Tanggal 1 Syawal selalu disambut gembira oleh seluruh umat Islam. Setelah sebulan lamanya mereka menahan diri dari hal-hal yang dilarang serta memperbanyak ibadah, tibalah saatnya merayakan hari Idul Fitri.

Idul Fitri, secara harfiah berarti kembali ke awal penciptaan. Dari situ dapat ditarik pemahaman bahwa, pada momen Idul Fitri ini, setiap umat Islam diharapkan bisa kembali ke fithrahnya yang suci. Untuk mendapat kesucian laiknya bayi yang belum terkontaminasi polusi dunia, tentu dosa-dosa harus terhapuskan. 

Dosa kepada Allah dapat terhapuskan melalui tobat dan ibadah selama Ramadhan, tetapi dosa kepada sesama manusia tak akan terhapuskan sebelum terjadi pemaafan. Karena itu, dalam tradisi umat Islam di negara-negara Asia Tenggara, Idul Fitri dirayakan dengan halal bihalal, yakni bersilaturrahim satu sama lain untuk bermaaf-maafan. Itulah tradisi Islam yang sangat luhur hasil kreativitas Wali Songo yang tetap bertahan hingga kini di segala penjuru bumi Nusantara. 

Bagi umat Islam, siklus Idul Fitri seolah memberi kesempatan mengulang perjalanan hidup sekaligus menjadi semacam pelabuhan bagi hasrat untuk kembali ke fitrah. Hasrat kembali ke fitrah ini berada pada lapis terdalam nurani manusia sebagai konsekuensi dari ikrar primordialnya di hadapan Allah. Dijelaskan dalam Al-Qur’an, ketika cikal bakal manusia masih berada di alam ruh, Allah bertanya, "Bukankah aku ini Tuhanmu?" Manusia menjawab, "Betul, kami bersaksi" (QS al-A’raf: 172).

Peristiwa ikrar dalam proses penciptaan itulah yang kemudian membuat manusia memiliki potensi hanif, yakni sikap cenderung untuk beriman, sikap yang condong pada kebenaran dan keadilan. Sikap



inilah yang menyebabkan Ibrahim tak pernah berhenti menyelidiki fenomena dan hukum-hukum alam untuk mencari causa prima hingga pada akhirnya ia berhasil mengenal Allah. Sikap hanif ini pula yang mendorong Muhammad untuk menyepi ke gua hira hinga mendapat wahyu yang pertama dari Allah. Pendek kata, sikap hanif adalah aktualisasi fitrah manusia sebagai hamba Allah.

Fitrah manusia, selain bertalian dengan ikrar primordialnya, juga terkait dengan desain penciptaannya. Allah mendesain manusia lebih dari sekadar sebagai hamba, karena di dalam diri manusia melekat pula status sebagai khalifah. Sebelum Adam diciptakan menjadi manusia pertama, terlebih dahulu Allah menginformasikan kepada para malaikat bahwa tak lama lagi akan ada khalifah di muka bumi (QS al-Baqarah: 30).

Makna khalifah di muka bumi, menurut Abdullah ibn Abbas, seorang penafsir Al-Qur’an terkemuka periode Sahabat, adalah wakil Allah di dunia. Sebagai wakil Allah, manusia bertanggung jawab untuk mengurus dunia dan segala isinya. Dunia harus dikelola sebaik mungkin untuk keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk, terutama umat manusia itu sendiri.

Sebagai khalifah, manusia dibekali akal budi dan hawa nafsu. Akal budi membimbing manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan iman. Capaian ilmu dan iman itulah yang kemudian membuat manusia mampu membedakan baik dan buruk serta benar dan salah, yang pada gilirannya menentukan tingkat kematangan spiritualnya.

Di sisi lain, hawa nafsu mendorong manusia untuk mencari kesenangan-kesenangan duniawi. Karena memiliki hawa nafsu, manusia punya hasrat biologis (biological needs) dan hasrat untuk berkuasa (will to power). Keduanya menawarkan kesenangan yang bersifat sesaat.

Hasrat meraih kesenangan dunia yang dibisikkan hawa nafsu itu dapat melenakan manusia sehingga lupa akan tanggung jawabnya. Karena itu, dalam ajaran Islam, hawa nafsu harus diperangi tetapi tidak untuk dimatikan, melainkan untuk dikendalikan. Pengendalian hawa nafsu dilakukan oleh iman dan ilmu pengetahuan. Iman memberi koridor pada hasrat-hasrat biologis supaya kesenangan ragawi mendapat pembenaran secara spiritual. Sementara ilmu pengetahuan memacu hasrat berkuasa untuk melakukan kreativitas sehingga tidak menghasilkan sesuatu yang destruktif, melainkan menghasilkan peradaban.

Salah satu capaian tertinggi peradaban dalam sejarah umat manusia adalah terciptanya tatanan sosial dalam bentuk negara. Melalui negara, manusia bisa membangun tertib sosial sehingga memudahkan pelaksanaan tugas-tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Pada mulanya negara merupakan organisasi sederhana yang dipimpin seorang raja (atau ratu) dengan kekuasaan yang tidak ada batasnya. Raja yang bertanggung jawab dalam menjalankan kekuasaannya layak mendapat gelar khalifah, sebagaimana Allah menyematkan gelar itu kepada Raja Daud (QS as-Shaad: 26).

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan umat manusia, konsep negara kini telah mengenal berbagai bentuk dan memiliki beragam sistem pengelolaan kekuasaan yang tentu dapat memudahkan tugas-tugas kekhalifahan. Dewasa ini, boleh dikata setiap negara telah menerapkan pembagian dan pendelegasian kekuasaan. Itu berarti, tanggung jawab sebagai khalifah tidak lagi terpusat pada satu lokus jabatan tertentu. Setiap jabatan dalam organisasi negara modern memiliki beban tanggung jawab sebesar kekuasaan (kewenangan) yang melekat padanya.

Pada faktanya, tidak mudah menjalankan kekuasaan secara bertanggung jawab. Penyelewengan kekuasaan kerap tak terhindarkan manakala pemangku jabatan dihadapkan pada kepentingan pribadi, kelompok, maupun ideologinya. Kepentingan-kepentingan itu dituruti biasanya karena menjanjikan kesenangan, atau setidaknya mengurangi ancaman, sehingga menyebabkan sang pemangku jabatan lalai akan tanggung jawabnya sebagai khalifah.

Oleh sebab itu, pada momentum Idul Fitri ini, kembali ke fitrah sebaiknya tidak hanya dimaknai sebagai kembali menjadi hamba Allah yang suci, tetapi juga mencakup pengertian kembali menjadi khalifah Allah di muka bumi secara bertanggung jawab. Tekad kembali ke fitrah sebagai khalifah ini perlu diiringi dengan usaha keras untuk meningkatkan iman dan ilmu pengetahuan. 

Allah berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan (QS al-Mujadalah:11). Mereka pantas ditinggikan derajatnya karena memiliki visi dan kompetensi. Hanya orang yang memiliki visi dan kompetensi memadailah yang dapat mengambil peran dan tanggung jawab sebagai khalifah, sehingga derajatnya pun layak ditinggikan sebagaimana ditinggikannya derajat Raja Daud.

Rafiuddin D Soaedy alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo,

No comments:
Beri komentar