Tuesday, July 4, 2017

Mbah Ngis Dilabrak Perempuan Tak Sabaran

 

Suatu hari, Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994) – biasa dipanggil Mbah Ngis -   kedatangan tamu sepasang suami istri. Sang suami adalah kawan Mbah Dullah sesama makelar. Bagi Mbah Ngis, sang suami tidaklah asing. Ia memang sering datang ke rumah Mbah Ngis untuk menjemput atau mengantar pulang Mbah Dullah. Sedangkan sang istri baru dikenal Mbah Ngis saat itu. 

Kedatangan tamu pasutri itu ke rumah Mbah Ngis sebenarnya terkait dengan cekcok diantara mereka. Sebelumnya mereka bertengkar di rumah karena sang suami sering pulang dari makelaran dengan tangan hampa. Sementara istrinya sangat membutuhkan uang untuk mencukupi banyak kebutuhan keluarga. 

Dalam pertengkaran itu, sang suami mencoba menasehati agar sang istri bisa meniru Mbah Ngis dalam hal kesabaran dan keramahan terhadap suami. 

“Sabar…sabar…,” kata sang suami. 

“Sabar gimana?! Kebutuhan tak bisa dicukupi hanya dengan bersabar. Mana uang?” Pinta sang istri.

“Belum ada uang. Rezeki belum berjodoh.” 

“Kalau begini terus gak kuat aku,” jawab sang istri. 

“Mestinya kamu bisa meniru istri kawanku, Bu Ngis, istri Pak Dullah. Ia sabar dan tak pernah membentak-bentak suami.”

“Mana ada istri sabar terus ketika suami pulang tak bawa uang?” Tanyanya pada sang suami.

“Ada saja. Ya Bu Ngis itu. Kalau gak percaya tak tunjukkan orangnya.”

Pasutri itu kemudian datang ke rumah Mbah Ngis. Sang istri ingin membuktikan kebenaran cerita sang suami tentang Mbah Ngis. Sang istri akhirnya bertemu dengan Mbah Ngis. 

Mereka berkenalan. Tak lama setelah itu sang istri menanyakan kepada Mbah Ngis tentang kebenaran cerita suaminya. Mbah Ngis mempersilakan Mbah Dullah menjawab masalah itu. Mbah Dullah membenarkan semua cerita tentang Mbah Ngis. 

Tak puas dengan jawaban Mbah Dullah, sang istri meminta Mbah Ngis untuk menjawabnya sendiri. Mbah Ngis pun membenarkan apa yang diceritakan Mbah Dullah tentang dirinya. 

Entah setan mana yang merasuki sang istri, ia membentak-bentak Mbak Ngis. Ia mengatakan bahwa seorang istri harus tegas terhadap suami. Jika tak ada uang, suami tak usah dilayani. Ia menyalahkan Mbah Ngis sebagai seorang istri yang bodoh. 

Menanggapi kemarahan dan hujatan seperti itu, Mbah Ngis tak banyak berkomentar. Mbah Ngis hanya mengatakan bahwa sikapnya pada Mbah Dullah sudah benar. Mbah Ngis menjelaskan rezeki keluarga bisa melalui pintu mana saja dan tidak harus atau melulu lewat suami. Mbah Ngis mencontohkan bahwa rezeki yang diterimanya dengan berjualan makanan kecil-kecilan di pondok  bisa jadi tertuju kepada Mbah Dullah d/a Mbah Ngis.

Mendengar jawaban itu, sang istri mengatakan penjelasan Mbah Ngis sulit diterima akal. Ia meminta diri dan menarik pundak sang suami dengan kasar untuk mengajaknya segera pulang. Memang butuh waktu untuk memahami dan meyakini sesuatu yang transendental karena diperlukan juga ketajaman dan kejernihan mata batin.  

No comments:
Beri komentar