Saturday, July 15, 2017

Pidato Sayyidina Umar Diprotes Seorang Perempuan

 

Jika Rasulullah pernah menyebut beberapa sahabat yang mendapat jaminan masuk surga maka Sayyidina Umar bin Khattab adalah salah satunya. Bahkan dalam riwayat at-Tirmidzi, Al-Hakim, dan Ahmad, disebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, "Seandainya ada nabi setelahku maka ia adalah Umar”.

Atas dasar itu tidak heran bila Abu Bakar ash-Shiddiq yang juga mendapat pujian mirip dari Nabi menunjuk Umar bin Khattab sebagai khalifah penerusnya.

Namun demikian, apakah kedudukan istimewa tersebut membuat Umar bin Khattab arogan dan tinggi hati? Jawaban untuk pertanyaan ini salah satunya bisa kita simpulkan dari cerita berikut ini.

Syekh Jaluliddin as-Suyuthi dalam kitab tafsirnya, ad-Durrul Mantsûr fî Tafsîril Ma’tsûr, saat menjelaskan Surat an-Nisa' ayat 20 menyinggung kisah respon seorang perempuan terhadap isi pidato Umar bin Khattab.

Suatu hari Sayyidina Umar naik ke atas mimbar lalu berpidato di depan khalayak. "Wahai orang-orang, jangan kalian banyak-banyak dalam memberikan mas kawin kepada istri. Karena mahar Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya sebesar 400 dirham atau di bawah itu. Seandainya memperbanyak mahar berniliai takwa di sisi Allah dan mulia, jangan melampaui mereka. Aku tak pernah melihat ada lelaki yang menyerahkan mahar melebihi 400 dirham."

Dalam riwayat lain, Sayyidina Umar mengancam akan memangkas setiap kelebihan dari mahar itu dan memasukkannya ke baitul mal. 

Seorang perempuan Quraisy berdiri lalu melontarkan protes ketika Sayyidina Umar turun dari podium. "Hai Amirul Mu'minin, kau melarang orang-orang memberikan mahar kepada istri-istri mereka lebih dari 400 dirham?"

"Ya."

“Apakah kau tak pernah dengar Allah menurunkan ayat:

 وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا 

"... kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak (sebagai mahar)..." (QS an-Nisa': 20)

Protes tersebut disambut hangat oleh Sayyidina Umar. Ia membaca istighfar dan berujar, "Tiap orang lebih paham ketimbang Umar." 

Ini adalah kalimat retorik Sayydina Umar dari kepribadiannya yang rendah hati dan karakter kepemimpinannya yang tidak antikritik. Dalam riwayat lain ia mengatakan, "(Kali ini) perempuan benar, lelaki salah."

Selanjutnya khalifah kedua ini kembali ke atas mimbar dan berkata, "Wahai khalayak, tadi aku larang kalian memberikan mahar kepada istri melebihi 400 dirham. Sekarang silakan siapa pun memberikan harta (sebagai mahar) menurut kehendaknya."

Kisah ini juga tertuang dalam kitab tafsir lain meski dengan redaksi yang berbeda-beda, seperti al-Kasysyâf karya Syekh Zamakhsyari, Lubâbut Ta’wîl fî Ma‘ânit Tanzîl karya al-Khazin, dan Mafâtihul Ghaib karya ar-Razi. Namun, tak ada yang menyebutkan siapa nama perempuan asal Quraisy tersebut.

Pendapat Sayyidina Umar mungkin mengandung kebenaran karena menghindarkan para calon pengantin dari hal-hal yang memberatkan dan sikap berlebih-lebihan. Bukankah Rasulullah pernah mengatakan sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah? Pendapat perempuan itu juga memiliki aspek kebenarannya, yakni diperbolehkanya memberikan mahar yang banyak kepada perempuan yang dinikahi.

Ada hal yang lebih menarik dari soal perdebatan tentang jumlah mas kawin. Yakni cara Sayyidina Umar sebagai khalifah kala itu dalam menyikapi kritik dari warganya. Ia menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin teladan dengan tanpa sungkan mengakui kekurangannya. Sayyidina Umar juga tanpa ragu merevisi isi pidatonya meski koreksi datang dari seorang perempuan, bagian dari kelompok manusia yang pernah ia rendahkan pada zaman jahiliyah. 

No comments:
Beri komentar