Thursday, August 10, 2017

Ketauhidan Mengangkat Derajat Umat Manusia

 


Khutbah pertama:

اللهُ  اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3) اللهُ اَكبَرْ (×3 اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً  وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ  اْلحَمْدُ اللهُ اَكْبَرْ ماتحرك متحرك  وارتـج. ولبى محرم وعـج. وقصد الحرم من كل فـج. وأقيمت فى هذا الأيام مناسك الحج.  اللهُ اَكْبَرْ (3×)   اَشْهَدُ اَنْ لاَ  اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ  اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.  اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ ومن تبع  دين محمد. وسلم تسليما كثيرا. فياايها المسلمون الكرام. اوصيكم ونفسى بتقوى الله.  واعلموا أن هذا الشهر شهر عظيم. وأن هذاليوم يوم عيد المؤمين. يوم خليل الله  إبراهيم أبو ألانبياء والمرسلين. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ  حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Jama’ah Idul Adha  Rahimakumullah,Alhamdulillah pagi ini kita dapat berkumpul menikmati  indahnya matahari, sejuknya hawa pagi sembari mengumandangkan takbir  mengagungkan Ilahi Rabbi dirangkai dengan dua raka’at Idul Adha sebagai upaya  mendekatkan diri kepada Yang Maha Suci. Marilah kita bersama-sama meningkatkan  taqwa kita kepada Allah swt dengan sepenuh hati. Kita niatkan hari ini sebagai  langkah awal memulai perjalanan diri mengarungi kehidupan seperti yang tercermin  dalam keta’atan dan ketabahan Nabi Allah Ibrahim as menjalani cobaan dari Allah  Yang Maha Tinggi.
Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan  AllahHari ini ini adalah hari yang penuh berkah, hari yang sangat bersejarah  bagi umat beragama di seluruh penjuru dunia, dan bagi umat muslim pada  khususnya. Karena hari ini merupakan hari kemenangan seorang Nabi penemu konsep  ke-tuhidan dalam berketuhanan. Sebuah penemuan maha penting dijagad raya, tak  tertandingi nilainya dibandingkan dengan penemuan para santis dan ilmuan. Karena  berkat konsep ke-tauhidan yang ditemukan Nabi Allah Ibrahim, manusia dapat  menguasai alam dengan menjadi khalifah alal ardh. Setelah Nabi Allah Ibrahim as  menyadari bahwa Allah swt adalah The Absolute One, Dzat yang paling Esa, maka  semenjak itu juga umat manusia tidak dibenarkan menyembah matahari, menyembah  bintang, menyembah binatang, menyembah batu  dan alam. Ini artinya manusia telah  memposisikan dirinya di atas alam. Ajaran ke-Esa-an yang diprakarsai oleh Nabi  Allah Ibrahim telah mengangkat derajat manusia atas alam se-isinya.

Ma’asyiral Muslimin RahimakumullahSesungguhnya  tidak berlebihan jika hari ini kita jadikan sebagai salah satu hari besar  kemanusiaan internasional yang harus diperingati oleh manusia se-jagad raya.  Oleh karena itu hari ini adalah momen yang tepat untuk mengenang perjuangan Nabi  Allah Ibrahim as dan upayanya menemukan Allah swt. Bagaimana beliau bersusah  payah melatih alam kebathinannya untuk mengenal Tuhan Allah Yang Paling  Berkuasa. Bukankah itu hal yang amat sangat rumit? Apalagi jika kita  membandingkan posisi manusia sebagai makhluk yang hidup dalam dunia kebendaan,  sedangkan Allah Tuhan Yang Maha Sirr berada ditempat yang tidak dapat dicapai  dengan indera? Bagaimana Nabi Allah Ibrahim bisa menemukan-Nya? Tentunya melalui  berbagai jalan thariqah yang panjang.  Melalui latihan dan penempaan jiwa yang  berat. Untuk itulah mari kita lihat rekaman tersebut dalam surat Al-An’am ayat  75-79
وَكَذَلِكَ  نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ  الْمُوقِنِينَ(75)  فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا  رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ  (76)فَلَمَّا رَأَى  الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ  يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77)فَلَمَّا رَأَى  الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ  يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(78)  إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ  لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ  الْمُشْرِكِينَ (79)
Dan  demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang  terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk  orang yang yakin. (75)Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang  (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia  berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam “ (76)Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia  berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata:  "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku  termasuk orang yang sesat." (77)Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia  berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu  terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang  kamu persekutukan (78)
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb  yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan  aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan  (79)
Para Hadirin yang dimuliakan AllahJika  kita lihat dokumen sejarah yang termaktub dalam al-Qur’an di atas, hal ini  menunjukkan betapa proses pencarian yang dilakukan Nabi Allah Ibrahim as sangatlah berat. Meskipun pada akhirnya Nabi Ibrahim berhasil menemukan Tuhan  Allah Rabbil Alamin, bukan tuhan suku dan bangsa tertentu, tapi Tuhan seru  sekalian alam. Tuhan yang senantiasa berada sangat dekat dengan manusia baik  ketika terpejam maupun ketika terjaga. Itulah sejarah terbesar yang dipahatkan  oleh Nabi Allah Ibrahim di sepanjang relief kehidupan umat manusia yang  seharusnya selalu dikenang oleh umat beragama.
Selain sebagai orang yang menemukan konsep  Ketuhaan. Beliau juga salah satu hamba tersukses di dunia yang mampu menaklukkan  nafsu dunyawi demi memenangkan kecintaannya kepada Allah Sang Maha Suci. Fragmen  ketaatan dan keikhlasannya untuk menyembelih Ismail sebagai anak tercinta yang  diidam-idamkannya, adalah bukti kepasrahan total kepada Allah swt. Bayangkan  saudara-saudara, Ismail adalah anak yang telah lama dinanti dan diidamkan,  Ismail adalah anak tercintanya namun demikian semua itu ditundukkan oleh Nabi  Ibrahim as demi memenangkan cintanya kepada Allah swt.

Ma’asyiral  Muslimin RahimakumullahDua hal di atas yaitu penemuan Ibrahim atas ke-Esaan  Allah dan perintah penyembelihan terhadap anak tercinta merupakan satu perlambang bahwa ruang di mana Nabi Allah Ibrahim as. hidup adalah garis batas  yang memisahkan antara kehidupan brutal dan kehidupan berpri-kemanusiaan.  Penyembelihan terhadap Ismail yang kemudian diganti dengan kambing merupakan  tanda bahwa semenjak itu tidak ada lagi proses penyembahan dengan cara pengorbanan manusia (sesajen). Karena manusia adalah makhluk mulia yang tak  pantas dikorbankan secara cuma-cuma, meskipun dilakukan dengan suka rela. Allah  swt sendiri yang tidak memperbolehkannya, dengan Kuasa-Nya ia ganti Ismail  dengan seekor kambing. Itulah beberapa hal yang harus dikenang dari Nabi  Allah Ibrahim as. Sebagai umat manusia yang beriman dan beragama sudah  sewajibnya kita mengenang dan menteladani apa yang dilakukan Nabi Allah Ibahim  as seperti yang diterangkan dalam al-Baqarah 127:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim  meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya  Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang  Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
Dengan kata lain Allah swt menganjurkan  manusia untuk mengingat dan meneladai kehidupan Ibrahim terutama ketika Nabi  Allah Ibrahim as merawat dan merekontruksi ka’bah sebagai baitullah. Sehingga  berbagai ibadah dan ritual peyembahan kepada Allah swt menjadi kewajiban bagi  umat muslim sedunia yang mampu menjalankannya. Itulah ibadah Haji.
Para Jama’ah idhul adha yang  berbahagiaHaji meupakan salah satu ibadah yang sarat dengan simbol dan  perlambang. Oleh karena itu, jikalau ibadah haji dilaksanakan tanpa mengerti  makna yang tersimpan didalamnya sangatlah percuma, karena yang demikian itu  hanya menyisakan kelelahan belaka. Kelelahan yang kerontang tanpa kesadaran.
Kaum muslimin dan muslimat, meskipun saat  ini kita berada di sini, jauh dari tanah Haram, tidak berarti kita tidak bisa  meneladani Nabi Ibrahim. Karena keteladanan itu tidaklah bersifat fisik. Namun  sejatinya keteladanan itu berada dalam semangat yang tidak mengenal batas ruang  dan waktu. Keteladanan atas ibadah haji dapat kita terapkan dalam kehidupan  sehari-hari ketika kita berinteraksi dengan tetangga, teman, saudara dan umat  manusia pada umumnya.Saudara-saudaraku seiman dan setaqwa
Bila kita tengok bahwa haji dimulai dengan  niat yang dibarengi dengan menanggalkan pakaian sehari-hari untuk digantikan  dengan dua helai kain putih yang disebut dengan busana ihram. Maka ketahuilah  dibalik keseragaman ini tersimpan beragam makna. Pertama bahawa pakaian yang  selama ini kita pakai sehari-hari sangat menunjukkan derajat dan status sosil  manusia. Oleh karena itu, ketika seorang muslim telah berniat untuk haji dan  berniat menghadap-Nya maka segeralah tanggalkan pakaian itu dan gantilah dengan  busana Ihram yang serba putih, karena manusia di hadapan Ilahi Rabbi sejatinya  tidak berbeda.
Kedua, Pakaian itu tidak hanya apa yang kita  pakai namun juga identitas yang menyelimuti diri manusia hendaknya segera  diluluhkan ketika menghadap-Nya. Allah tidak akan pernah membedakan antara  peabat dan rakyat, antar penguasa dan hamba, antara pedagang dan nelayan. Semua  itu dimata Allah swt adalah sama. Seperti putihnya seragam yang membalut  raga.
المسلمون إخوة  لافضل لأحد على أحد إلابالتقوى (رواه الطبرانى)
Artinya, orang-orang Islam itu satu sama  lain bersaudara, tiada yang lebih utama seorangpun dari seorang yang lain,  melainkan karena taqwanya (HR. Tabhrani)
Ketiga, Pakaian itu adalah sifat manusia.  Ketika seorang muslim telah berniat menghadap Allah Sang Maha Kuasa, hendaklah  ia mencopot segala identitasnya. Baik identitas sebagai tikus, buaya, serigala  ataupun identitas sebagai kupu-kupu, merpati ataupu kasuwari. Artinya, segala  macam sifat yang melekat baik negative maupun positif sebaiknya dihilangkan.  Jangan pernah merasa sebagai apa-apa jikalau engkau menghadap-Nya.
Keempat, pakaian itu mengingatkan manusia  akan ketakberdayaannya. Nanti ketika menghadap Ilahi Rabbi manusia tidak membawa  apa-apa kecuali kain putih yang menemaninya. Sebagai pertanda bahwa sebaiknya  manusia hidup dengan sederhana, karena semua akan ditinggalkannya.
Ma’asyiral Muslimin  RahimakumullahSelanjutnya Thowaf mengelilingi ka’bah tujuh kali putaran  adalah perlambang kedekatan manusia dengan Sang Khaliq. Begitu harunya jiwa  manusia ketika lebur mendekatkan diri pada Baitullah, seolah ke-dirian manusia  hilang ditelan kebesaran-Nya. Thowaf dapat diartikan hilangnya diri terhanyut  dalam pusaran Energi keilahiyan yang tak terkira. Thowaf adalah simbol hablum  minallah yang hakiki, bahkan lebih dari itu. Tidak ada lagi habl penghubung  antara manusia dan Sang Khaliq. Karena keduanya telah menyatu.Kemudian sa’i  berlari kecil dari shofa ke marwah. Ini merupakan rangkaian setelah Thowaf yang  dapat diartikan sesuai perspketif sejarah. Ketika Siti Hajar Ibunda Nabi Ismail  ditinggal oleh Nabi Allah Ibrahim as. Maka ia pun harus bertarung mempertahankan  hidup ini dengan mencari air dari bukit Shofa ke Marwa. Kehidupan sarat dengan  perjuangan. Usaha menjadi suatu kewajiban bagi manusia. Tiada air yang turun  dari langit, namun air itu harus dicari sumbernya. Begitulah kehidupan di dunia  ini. Hidup itu suci dan harus dijaga seperti makna hafiah kata Shofa  yaitu  kemurnian dan kesucian sedangkan. Namun hidup itu juga cita-cita yang jumawa dan  penuh idealism seperti makna kata marwa yaitu kemurahan, memaafkan dan  menghargai.
Jika thowaf menggambarkan hubungan dan  kemanunggalan manusia dengan Sang Khaliq, maka sa’i menunjukkan bahwa kehidupan  haruslah dijalani sesuai dengan hukum kemanusiaan. Berinteraksi, berhubungan dan  berkomunikasi dengan sesame. Maka kehidupan ini haruslah menyeimbangkan antara  keilahiyahan dan keinsaniyahan.
Ma’asyiral Muslimin yang  berbahagiaSelain itu simbolisme dalam ibadah haji juga melekat pada Ka’bah  Baitullah. Di sana ada hijir Ismail yang berarti ‘pangkuan Ismail’. Di sanalah  seorang Ismail putera Ibrahim yang membangun Ka’bah pernah berada dalam pangkuan  sang Ibu Hajar, seorang wanita hitam yang miskin juga seorang budak. Dengan ini  Allah swt membuktikan bahwa seorang hamba pun dapat dimuliakanya dengan  memposisikan kuburnya disamping ka’bah baitullah. Itu semua karena ketaqwaannya.  Ketaqwaan Ibu Hajar yang mampu berhijrah menuju kebaikan dan kemuliaan.
Sedangkan padang Arafah sebagai tempat para  haji menunaikan wuquf merupakan ruang luas yang terhampar untuk memasak diri  seorang muslim hingga ia mengenal siapa jati dirinya sebagai manusia. Arafah  adalah ruang berintrospeksi diri, siapa, dari mana sosok diri itu dan hendak  kemana nantinya. Oleh karena itu ruang ini dinamakan arafah yang mempunyai satu  asal kata yang sama dengan ma’rifat yaitu mengeatuhi dan mengerti hakikat diri.  Diharapkan setelah diramu dalam padang arafah ini seorang diri bisa menjadi  lebih arif (bijaksana) dalam mengarungi kehidupan dan mempertimbangkan antara  kepentingan dunia dan akhirat seperti yang disimbolkan dalam thowaf dan  sa’i.
Dari Arafah menuju Muzdalifah guna  mempersiapkan diri dan mempersenjatainya melawan syaithan yang akan dihadapi  nanti di Mina. Manusia haruslah selalu waspada bahwa syaitan ada dimana-mana.  Karena itulah senjata pemusnahnya tidaklah sesuatu yang besar dan menakutkan.  Tetapi cukup dengan kerikil yang kecil sebagai simbol atas kesabaran dan  keteguhan hati.
Ma’asyiral MusliminDemikianlah uraian  dalam khutbah ini semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Dan amrilah kita berdoa  kepada Allah swt semoga amal ibadah kita diterima. Semoga kita yang disini  diberikan kesempatan mengunjungi tanah haram di lain waktu, seperti cita-cita  kita semua. Dan semoga mereka yang berada di sana diberi keselamatan semua.  Amien
أعُوْذُ  بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا  أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ  الْأَبْتَرُبَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ  فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ  وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ  السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ  الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua:
اللهُ  اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ  كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ  وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُاَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ  تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ  وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ  وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا  مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ  فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا  نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ  بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ  تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا  الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ  عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ  سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ  اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى  بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ  وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ  عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ  اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ  اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ  وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ  اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ  اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ  الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ  وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ  عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ  عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى  اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا  اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ  اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ  وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ  وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ  اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ
اللهِ اَكْبَرْ
x


No comments:
Beri komentar