Thursday, August 3, 2017

Kisah Imam Abu Hanifah dan Orang Khawarij

 

Khawarij adalah salah satu sekte dalam komunitas Muslim. Ia lahir pasca-arbitrase, tahkîm, perundingan damai, antara dua kelompok yang berperang; para pendukung Khalifah Ali bin Abi Thalib versus para pendukung Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Sebelumnya orang-orang Khawarij ini adalah pendukung Ali. Tetapi keputusan Ali yang menyetujui arbitrase, sangat mengecewakan mereka. Mereka memandang hal itu sebagai hal yang bertentangan dengan keputusan Tuhan. Berunding dengan orang-orang yang menentang kekuasaan yang sah adalah salah. Mereka kemudian keluar dan melakukan perlawanan bukan hanya terhadap Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang menentang kekuasaan Ali bin Abi Thalib, juga terhadap Ali bin Abi Thalib.

Salah satu ajarannya adalah bahwa orang-orang yang terlibat dalam arbitrase adalah kafir. Dewasa ini Khawarij diidentikkan sebagai kelompok Islam radikal. Kelompok ini dikenal menolak setiap pandangan di luar pandangan dirinya. Dan tak mau berunding.

Nah, ini adalah salah satu kisah yang menarik. Suatu hari Dhahhak bin Qais, salah seorang pengikut Khawarij, menemui Imam Abu Hanifah yang sedang berada di masjid Kufah, Irak. Dia sengaja menemuinya karena mengetahui Abu Hanifah, tokoh dan ulama besar yang sangat berpengaruh, menyetujui arbitrase.

Dengan wajah yang tampak garang, dia bilang, “Hai, Abu Hanifah, anda wajib bertaubat!”

“Untuk apa saya harus taubat?" jawab Abu Hanifah.

"Karena kamu membenarkan dua pihak yang berunding/arbitrase."

“Kamu mau membunuh saya atau berdebat?" Balas Abu Hanifah lagi.

"Berdebat."

"Baiklah. Jika kita berbeda pendapat, siapa yang akan menengahi kita berdua?'

Dhahhak lalu menimpali, "Silakan tunjuk orang lain yang kamu suka."

Abu Hanifah kemudian mencari orang yang ada di dalam masjid dan teman Dhahhak, lalu menghadirkannya untuk menjadi moderator mereka.

“Silakan duduk. Kami mintamu menjadi moderator dalam perdebatan kami,” ujar Abu Hanifah kepada si teman tadi.

“Dhahhak, kamu setuju dengan orang ini untuk menengahi perdebatan kita?"

Melihat si moderator adalah anggota jama’ahnya, Dhahhak segera mengangguk dengan wajah cerah. “Ok, aku setuju!”

"Nah, menjadi jelas, bahwa sekarang kamu menyetujui arbitrase, bukan?” Kata Abu Hanifah.

Dhahhak diam, membisu, tak berkutik dan benar-benar terpukul. Abu Hanifah lalu meninggalkannya dengan melenggang-tenang.

No comments:
Beri komentar